Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Sulawesi Utara. Peringatan ini berlaku hingga tanggal 23 Januari 2026, menuntut kewaspadaan penuh dari seluruh elemen masyarakat.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, Ricky D. Aror, menyampaikan bahwa gelombang dapat mencapai ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter. Kondisi ini dipicu oleh keberadaan siklon tropis Nokaen di timur Filipina.
Kecepatan embusan angin maksimum dari siklon tersebut dapat mencapai 50 knot, secara signifikan memengaruhi kondisi perairan. Warga dan operator kapal diimbau untuk selalu memperhatikan informasi cuaca terbaru demi keselamatan pelayaran.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan gelombang tinggi di perairan Sulawesi Utara ini tidak terlepas dari aktivitas Siklon Tropis Nokaen yang saat ini berada di timur Filipina. Siklon ini membawa embusan angin dengan kecepatan maksimum yang dapat mencapai 50 knot, menciptakan kondisi laut yang tidak stabil.
Secara umum, arah angin di wilayah utara Sulawesi dominan bertiup dari arah barat laut. Kecepatan rata-rata hembusan angin berkisar antara 8 hingga 20 knot, yang sudah cukup untuk memicu gelombang.
Ricky D. Aror menjelaskan bahwa kecepatan angin tertinggi berpeluang terjadi di Laut Sulawesi dan pesisir utara Sulawesi Utara. Kondisi angin kencang ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan tinggi gelombang di area tersebut, sehingga memicu peringatan gelombang tinggi Sulawesi Utara.
Advertisement
Advertisement
BMKG memperkirakan bahwa gelombang dengan ketinggian sedang, yakni antara 1,25 hingga 2,5 meter, berpeluang terjadi di beberapa lokasi strategis. Perairan Laut Sulawesi menjadi salah satu area yang patut diwaspadai karena potensi gelombang tinggi ini.
Selain itu, perairan utara Sulawesi Utara dan perairan Kabupaten Minahasa Utara juga masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi terdampak. Masyarakat di sekitar pesisir ini diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Beberapa perairan kepulauan juga tidak luput dari potensi gelombang tinggi. Ini termasuk perairan Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe, perairan Kabupaten Kepulauan Talaud, serta perairan laut Maluku.
Advertisement
Advertisement
Mengingat potensi gelombang tinggi yang signifikan, BMKG mengimbau seluruh warga, khususnya para nelayan dan operator pelayaran, untuk sangat mewaspadai risiko keselamatan. Penting untuk selalu memantau informasi cuaca maritim yang dikeluarkan secara berkala.
Bagi perahu nelayan, perhatian khusus harus diberikan jika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Kondisi seperti ini dapat membahayakan stabilitas dan keselamatan perahu kecil.
Operator kapal tongkang juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Mereka harus memperhatikan kecepatan angin yang melebihi 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter sebagai batas aman untuk berlayar.
Advertisement
Sementara itu, operator kapal feri, yang umumnya berukuran lebih besar, perlu memperhatikan kondisi kecepatan angin di atas 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter. Kepatuhan terhadap imbauan ini sangat krusial demi mencegah insiden di laut.
Sumber: AntaraNews