Bir Pletok, Minuman Rempah Betawi yang Sering Disalahpahami: Hangatkan Tubuh di Tengah Dingin Jakarta

Di tengah cuaca dingin Jakarta, Bir Pletok, minuman rempah khas Betawi, hadir menghangatkan sekaligus menepis keraguan kehalalan namanya. Simak manfaat dan potensi globalnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bir Pletok, Minuman Rempah Betawi yang Sering Disalahpahami: Hangatkan Tubuh di Tengah Dingin Jakarta
Di tengah cuaca dingin Jakarta, Bir Pletok, minuman rempah khas Betawi, hadir menghangatkan sekaligus menepis keraguan kehalalan namanya. Simak manfaat dan potensi globalnya! (Merdeka.com)

Musim hujan yang melanda sebagian wilayah Jakarta belakangan ini kerap membawa sensasi dingin, terutama bagi para pekerja yang beraktivitas di Ibu Kota. Cuaca sejuk ini seringkali membuat tubuh membutuhkan kehangatan ekstra untuk menjaga kenyamanan.

Di tengah kondisi tersebut, minuman hangat menjadi pilihan ideal untuk menenangkan suhu tubuh. Salah satu minuman tradisional yang populer adalah Bir Pletok, yang menawarkan kehangatan dari rempah-rempah alami.

Titin Nurhajati, seorang pengusaha Bir Pletok asal Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan produknya. Ia bahkan membagikan Bir Pletok gratis di ajang JITEX 2025, sekaligus menjawab pertanyaan seputar nama "bir" yang kerap menimbulkan keraguan akan kehalalannya.

Menyingkap Rahasia Kehangatan Bir Pletok dan Kehalalannya

Bir Pletok adalah minuman tradisional Betawi yang kaya akan rempah-rempah alami. Bahan-bahan seperti jahe, cengkeh, pala, cabai jawa, serai, kapulaga, kayu manis, daun pandan, daun jeruk, dan kayu secang direbus bersama. Kayu secang memberikan warna merah khas pada minuman ini, sementara bunga lawang dan kembang pala menambah cita rasa sedap.

Untuk menambah rasa manis, gula merah, gula kelapa, gula aren, atau madu sering ditambahkan. Semua bahan ini kemudian direbus dan disajikan setelah dingin, meskipun lebih nikmat dinikmati hangat. Proses pembuatan yang alami ini menjamin keaslian rasa dan khasiat rempahnya.

Meskipun namanya mengandung kata "bir", minuman ini sama sekali tidak memabukkan dan tidak mengandung alkohol. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) telah menegaskan bahwa produk dengan nama "bir" yang merupakan minuman tradisional non-khamr, seperti Bir Pletok, dapat memperoleh ketetapan halal. Komisi Fatwa MUI juga memperbolehkan hal ini karena Bir Pletok sudah lama dikenal masyarakat sebagai minuman tradisional yang tidak memabukkan.

Dari sisi medis, Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, MSi, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), mengonfirmasi manfaat Bir Pletok. Ia menyatakan bahwa minuman ini efektif menghangatkan tubuh serta dapat membantu mencegah dan mengatasi gejala "masuk angin" atau selesma ringan. Kandungan antioksidan dalam rempah-rempah Bir Pletok juga berkontribusi pada berbagai manfaat kesehatan lainnya.

Manfaat lain yang disebutkan oleh Inggrid Tania meliputi pelancaran pencernaan, penyeimbangan gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah, serta peningkatan vitalitas tubuh. Namun, bagi penderita diabetes, disarankan untuk berhati-hati dengan kandungan gula. Inggrid menyarankan penggantian gula batu dengan pemanis nol kalori alami atau madu murni sebagai alternatif yang lebih aman.

Perjalanan Usaha Bir Pletok Rumahan Menuju Pasar Global

Titin Nurhajati, yang bukan asli Betawi namun menikah dengan pria Betawi, mengenal Bir Pletok dari acara keluarga sang suami. Terkesan dengan rasanya yang "enak", ia kemudian belajar meracik minuman ini dari mertuanya. Keberhasilan dalam meracik Bir Pletok mendorongnya untuk menjadikan minuman ini sebagai ladang usaha.

Usaha Bir Pletok Titin telah berjalan beberapa tahun dalam skala rumahan, dibantu oleh sekitar enam karyawan yang merupakan tetangga dan anggota keluarga. Produknya telah menjangkau luar Jawa, seperti Bali dan Kalimantan, melalui pesanan kenalan. Melalui penjualan daring, Titin mampu menjual 25-50 botol Bir Pletok setiap hari, cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dan menggaji karyawannya.

Melihat potensi pasar global, Titin mendapat tawaran untuk mengekspor produknya. Meskipun tertarik, ia menghadapi kendala besar terkait skala produksi. Proses pengupasan bahan seperti jahe dan penggilingan masih dilakukan secara manual, yang sangat memakan waktu dan tenaga. "Supaya bisa berkembang ingin punya mesin penggiling. Harganya mahal, sekitar Rp500-700 juta," ungkap Titin, menjelaskan tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi.

Selain kendala mesin, Titin juga belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai persiapan produk untuk ekspor, termasuk persyaratan kemasan berbahasa Inggris. Keterbatasan ini menjadi hambatan signifikan bagi usahanya untuk menembus pasar internasional, meskipun potensi produknya sangat besar.

Dukungan Pemerintah dan Strategi UMKM "Go Global"

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung produk lokal inovatif untuk bersaing di pasar global. Kepala Bidang Perdagangan Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Frida Elizabeth, menjelaskan berbagai kebijakan yang diterapkan. Salah satunya adalah memprioritaskan produk UMKM lokal dalam setiap belanja daerah, serta membangun kolaborasi strategis dengan pemangku kepentingan internasional untuk pemasaran.

Melalui program Jakarta Entrepreneur (Jakpreneur), Pemprov DKI memberikan pendampingan dan pelatihan kepada pelaku UMKM. Program ini bertujuan membekali mereka dengan keterampilan berwirausaha dan kemandirian, membuka peluang kesuksesan yang lebih luas. Untuk pasar ekspor, pendampingan khusus diberikan bekerja sama dengan atase perdagangan, Kementerian Perdagangan untuk perizinan, dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk aspek pembiayaan.

Transformasi digital juga menjadi fokus penting, dengan membantu UMKM mengintegrasikan pemasaran, manajemen stok, dan pembayaran secara digital. Namun, Direktur Eksekutif Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Arshy Adini, menekankan bahwa digitalisasi saja tidak cukup. "Masyarakat, saat ini bukan sekadar membeli produk, tetapi mencari koneksi emosional," ujarnya. Oleh karena itu, penting bagi produsen untuk menceritakan kisah produk mereka dan memahami unique selling point.

Konsistensi dan kemampuan adaptasi terhadap permintaan konsumen juga krusial bagi UMKM untuk "naik kelas". Dengan jutaan merchant yang tergabung dalam platform e-commerce, peningkatan kualitas produk menjadi kunci persaingan. Meskipun Titin masih merasa belum percaya diri untuk menatap pasar global, dukungan pendampingan dan skema pembiayaan khusus UMKM diharapkan dapat membantunya mewujudkan impian "go global".

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi