Viral sebuah video di media sosial aksi kekerasan atau perkelahian yang melibat dua remaja putri berkelahi. Peristiwa berdurasi 20 detik itu terjadi di Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Tak hanya dua remaja itu saja, dalam video itu tampak beberapa rekannya yang tengah menonton perkelahian tanpa ada yang melerai.
Terlihat remaja yang memakai baju kaos berwarna putih menjambak, menonjok hingga menendang remaja berwarna pink.
"Makanya jangan main-main," ucap seseorang dalam video tersebut.
Aksi remaja itu pun menunai banyak kencaman dari masyarakat.
Advertisement
Kapolres Pringsewu AKBP M Yunnus Saputra membenarkan kejadian itu. Kata dia, insiden itu terjadi di halaman parkir Masjid As Saadah, Pekon Tanjung Rusia, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu.
“Peristiwa perkelahian itu terjadi pada Senin, 15 Desember 2025, sekitar pukul 15.00 WIB,” kata Yunnus saat dikonfirmasi, Rabu (17/12).
Ia menjelaskan, aksi perkelahian tersebut melibatkan dua remaja putri berinisial MS (11) dan FKI (11) warga Kecamatan Pardasuka, Pringsewu, Lampung. Ironisnya, keduanya merupakan pelajar Sekolah Dasar (SD).
"Senin malam sekitar pukul 21.30 WIB kami lalukan mediasi di rumah FKI. Anggota juga susah mendatangi lokasi dan meminta keterangan beberapa pihak,"jelas Yunnus.
Hasil mediasi tersebut kedua remaja putri itu sepakat untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan.
Meski begitu, surat pernyataan perdamaian akan dibuat setelah hasil pemeriksaan medis terhadap kondisi FKI pascakejadian.
Advertisement
"Kami menduga karena persoalan asmara. MS tidak terima diputuskan oleh pacarnya. Dan FKI disangka memiliki hubungan khusus dengan mantan pacar MS. Dan ternyata FKI dan mantan lacar MS hanya saudara sepupu," ungkap Yunnus.
Ia menyebutkan, sebelumnya MS telah menghubungi FKI dan mengajaknya untuk bertemu. Meski tak saling mengenal FKI tetap mendatangi lokasi bersama rekannya.
"Ketika FKI sampai dilokasi korban justru mengalami kekerasan hingga akhirnya kejadian tersebut terekam dan viral di media sosial," terangnya.
Dengan kejadian itu, Yunnus meminta kepada seluruh remaja untuk dapat menyelesaikan persoalan tanpa adanya kekerasan. Harus dapat menyiapi segala persoalan dengan bijak dan komunikasi yang baik.
"Setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin. Anak-anak harus belajar mengendalikan emosi dan tidak mudah terprovokasi. Kekerasan bukan solusi, justru akan merugikan diri sendiri dan orang lain apalagi kekerasan dapat kerugian masa depan,” tegasnya.