Berbagi lahan parkir, wujud kerukunan antara Istiqlal dan Katedral
Merdeka.com - Sebagai negara dengan budaya dan agama bermacam-macam, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia menjunjung tinggi arti toleransi umat beragama. Terwujudnya bentuk toleransi tersebut salah satunya adalah dengan dibangun Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral secara berhadap-hadapan.
Kedua bangunan dikunjungi jemaah berbeda agama tersebut, tidak menciptakan sekat membatasi justru membuat suatu kerukunan. Salah satu simbol kerukunan terjalin adalah melalui saling memberi lahan parkir, baik dari pihak Masjid Istiqlal maupun Gereja Katedral bagi para jemaah ingin melakukan ibadah.

Saat perayaan Natal, Paskah, dan hari besar lain, Masjid Istiqlal memberikan tempat seluas-luasnya bagi jemaah Gereja Katedral. "Di sini buka terus parkirannya. Buat yang muslim, yang kristen juga. Sudah puluhan tahun kayak gitu," kata salah seorang juru parkir di Masjid Istiqlal, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Sabtu (24/12).
Begitu juga sebaliknya saat umat muslim ingin melaksanakan ibadah salat Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Besar lain. Gereja Katedral juga akan membuka lahan parkir dengan kapasitas 160 mobil dan 250 motor itu kepada para umat muslim.
"Kami sudah lakukan ini setiap tahun. Saling membantu. Kalau lagi perayaan di Masjid Istiqlal kami sering bantu juga," tutur Humas Kepanitiaan Perayaan Natal 2016 Gereja Katedral, Bernard Hidayat.

Budaya telah berlangsung puluhan tahun tersebut selalu dilestarikan. Hal tersebut membuat rasa toleransi terus terjaga di antara kedua umat berbeda agama.
Tahun ini, jemaah Gereja Katedral tetap bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman dan tenang tanpa memikirkan kendaraan diparkir di sembarang tempat. Sebab, pihak Masjid Istiqlal telah menyediakan lahan cukup bagi kendaraan para jemaat.
"Kami telah berkoordinasi dengan pihak Masjid Istiqlal untuk minta izin menggunakan lahan parkir untuk jemaat. Mereka menyambut baik permintaan itu," tutup Bernard.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya