Berawal dari cari pertemanan, Cici kini getol lawan korupsi
Merdeka.com - Gadis itu baru saja tiba di kafe Kuphi Khop Batoh, Banda Aceh, Rabu malam (22/2). Menggunakan gaun hitam, jilbab abu-abu bermotif bunga merah, langsung memakirkan motor warna pinknya yang dipenuhi gambar hello kitty.
Senyum merebak dari bibir gadis asal Medan ini. Dia pun melongok kiri dan kanan melihat meja kosong–yang ada penerang. Ia pun menuju meja paling depan posisi di tengah.
Malam terus merambat pelan. Angin menghembus sepoi-sepoi, lantunan musik klasik mengiringi pengunjung kafe. Semua sibuk bercengkrama dengan rekannya masing-masing sembari menyeruput secangkir kopi.
"Ada direkam bang," ucap Cici S Liningsih, mengawali pembicaraan malam itu. Cici S Liningsih yang akrap disapa Cici, sosok gadis 24 tahun ini seorang pejuang antikorupsi di Serambi Makkah.
Usia masih tergolong muda, baru menyelesaikan studi FKIP Bahasa Ingris di Unsyiah. Ia sekarang dipercayakan menjabat Koordinator Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) di tanah rencong. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang pencegahan dan penyadaran masyarakat secara dini untuk mencegah korupsi.
Bagi Cici, korupsi tidak hanya ada di institusi pemerintah, dilakukan oleh pejebat Negara, sebagaimana kerap dilihat di layar kaca yang ditangkap oleh lembaga antirasuah. Tetapi korupsi itu terus memburu korban, menyusup di sendi-sendi kehidupan sosial, budaya dan mental manusia.
Banyak tidak menyadari, praktik perbuatan tak terpuji ini bisa saja dilakukan oleh siapa pun. Mental koruptif sudah seperti wabah penyakit menular, hingga sekarang sudah berada di titik akut.
Tak hanya pejabat tinggi Negara, hingga pejabat tingkat gampong (desa) pun sudah digerogoti penyakit koruptif. Bahkan, mirisnya embrio korupsi bisa dimulai dari domestik. Banyak orang tua tidak menyadarinya, secara tidak langsung telah mengajarkan anak-anaknya perilaku koruptif, karena perilaku tak jujur.
Ia mencontohkan, ketika seorang ibu meminta membeli sesuatu pada anaknya. Lalu ada uang kembalian, ini sering ditemukan tidak dikembalikan lagi. Padahal uang itu jelas-jelas bagian dari korupsi yang masih berskala kecil, melatih kejujuran dan transparan.
Situasi seperti ini sering disepelekan oleh banyak orang. Padahal, ini adalah awal seorang anak untuk tidak berbuat jujur dan menjadi budaya yang melekat pada si anak kelak. Sehingga mental korup, tertanam sejak dini.
"Perempuan menjadi peran utama untuk mencegah korupsi. Pendidikan dini pada anak bisa mencegah mental korup pada anak waktu tumbuh dewasa nantinya," ungkap Cici.
Perbincangan kami terhenti sejenak, saat pelayan kafe menyodorkan menu. Setelah memesan makanan dan minuman, Cici melanjutkan kisahnya.
Kali ini ia bercerita awal mula bergabung dengan komunitas antikorupsi. Ia mengaku, bergabung dengan komunitas pendekar antikoruptor di Aceh sejak 2015 lalu.
Mulanya ia hanya hendak mencari komunitas, karena ia sendiri gemar berorganisasi untuk mendapatkan banyak teman. Terlebih, ia di Aceh hidup dalam perantauan, butuh teman dan banyak komunitas.
Bak gayung disambut, di punghujung November 2015 lalu, Cici mendapatkan brosur penerimaan siswa Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA) yang digagas oleh lembaga Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh.
Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mendaftarkan dirinya. Setelah ditempa berbagai ilmu pengetahuan tentang penganggaran dan celah-celah korupsi yang dilakukan pejabat. Ia kemudian bertekad untuk terus mengabdikan hidupnya di dunia melawan mafia bahaya laten korupsi.
"Jadi saya daftar di SAKA dan sampai sekarang masih belajar, belum tamat, banyak ilmu saya dapatkan di sana. Jadi saya sekarang ingin terus menyadarkan orang melawan korupsi," jelasnya.
Globalisasi, informasi semakin terbuka, gaya hidup yang hedonis serta tuntutan kehidupan yang glamor, membuat banyak orang gelap mata mengejar kesenangan dengan cara-cara kotor.
Tidak hanya pejabat Negara, pengusaha swasta juga ada yang nekat melanggar hukum karena dirasuki keserakahan. Menghalalkan segala cara, agar bisa mendapatkan kekayaan dan bermewah-mewah dengan cara korupsi uang rakyat.
Menurut Cici, keluargalah yang menjadi benteng pertahanan agar penyakit kronis korupsi bisa dicegah. Karena jangan sampai keluarga atau perempuan menjadi stimulus si suami menjadi pelaku koruptor.
"Kadangkala istri juga mendorong suami korupsi, karena tuntutan gaya hidup yang hedonis," sebutnya.
Untuk melakukan pencegahan jangka panjang, agar penyakit kronis korupsi bisa dicegah dan diberantas di Tanah Air ini. Harus dilahirkan generasi penerus yang memiliki mental jujur yang bebas dari wabah virus korupsi.
Atas dasar itu, Cici menilai, ibu berperan penting memiliki pemahanan antikorupsi. Karena perempuan orang pertama yang mendidik anak-anaknya di rumah. Bila salah cara mendidik, tentu akan berakibat fatal saat ia tumbuh besar nantinya.
"Kalau dalam keluarga tidak ditanam kejujuran, tentu ini bibit-bibit akan lahir generasi koruptor kelak. Seorang ibu sangat berperan penting," ulasnya.
Oleh karenanya, ia terus bertekad melawan mafia koruptor di Aceh. Meskipun ia sadari, ini bukan perkara mudah. Karena ia akan berhadapan dengan mafia-mafia yang bisa saja berbuat nekat dan mengancam jiwa dirinya sendiri.
"Cici suka yang punya tantangan, sesuatu memacu andrenalin semakin suka. Apa lagi, apa yang saya lakukan ini bukan sendiri, banyak rekan-rekan yang mendukung, termasuk media," tukasnya.
Bersama SPAK Aceh, ia pernah keliling Aceh mensosialisasikan pentingnya melawan mafia koruptor di Aceh. Relawan SPAK mendatangi sekolah-sekolah semua tingkatan, memberitahukan untuk berperilaku jujur, termasuk tidak mencontek pelajaran penting mencegah mental koruptif.
Sosialiasi ini, tidak hanya di sekolah-sekolah. SPAK juga mendatangi ibu-ibu rumah tangga hendak menyadarkan bahwa wabah korupsi sudah menggerogoti segala sendi kehidupan bangsa ini, bahkan sudah menjadi wabah virus mematikan yang menciptakan pemiskinan secara sistematis. (mdk/cob)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya