Hujan rintik-rintik membasahi Perkebunan Teh Ciliwung, Bogor, Jawa Barat. Aroma khas petrichor pun sontak terendus hingga ujung hidung: Dingin sekaligus menenangkan.
Kawasan yang berada di wilayah Puncak ini memang dikenal menyimpan keindahan alam yang luar biasa. Mulai dari bentang alam berupa Gunung Luhur (1.750 mdpl) dan Kencana (1.803 mdpl), hingga pekikan Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) dan kepakan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang sesekali terdengar dari arah selatan.
Namun, dibalik kekayaan ekosistem tersebut siapa sangka di kawasan ini juga terdapat mata air nan cantik yang menjadi muasal sungai Ciliwung, yang memiliki panjang 119 Kilometer (KM).
Ya, sumber mata air Ciliwung itu bernama Talaga Saat. Kini ia dikenal dengan nama Titik 0 Kilometer Ciliwung.
Namun seperti apa kondisinya dahulu?
Dari Rawa Jadi Penyangga Kota
Tak pernah terbayangkan di benak Eko Wiwid, Talaga Saat menjelma sebagai objek wisata alam yang mampu menyangga ekosistem di wilayah Cianjur, Sukabumi, Bogor, dan Jakarta, sekaligus sarana edukasi tentang perlindungan alam dan mata air di Indonesia.
Pasalnya, Wiwid bilang, munculnya ide untuk merevitalisasi telaga seluas 5 hektar itu berawal dari dirinya yang melihat anomali di dalam penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi di wilayah Bogor, Cianjur, Sukabumi, dan Jakarta.
Dia berpandangan, sebelum 2018 penanganan fenomena bencana dinilai lebih berkonsentrasi pada fase kejadian dan pemulihan, bukan pada fase pencegahan melalui upaya pre-emtif dan preventif, alias tak holistik.
Berangkat dari sini, Wiwid pun memberanikan diri bersama 9 rekannya di Perkumpulan Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA) mencari cara untuk melakukan revitalisasi Talaga Saat.
"Jangankan menjadi tempat wisata atau sumber rejeki bagi warga sekitar, berpikir untuk sanggup membersihkan rawa dengan jutaan eceng gondok di Talaga Saat saja tidak. Jadi ide revitalisasi ini murni dan boleh dibilang nekat,” ujar pria yang juga Ketua Umum RIMBA.
Advertisement
Gayung bersambut. Gagasan spontan untuk merevitalisasi Talaga Saat mulai memperoleh dukungan dari sejumlah pihak. Satu diantaranya bantuan dari jajaran Komando Resor Militer (Korem) 061/Surya Kencana, yang saat itu dipimpin Kolonel. Inf. TNI Mohamad Hasan.
Kala itu, Hasan yang menjabat sebagai Danrem memimpin langsung tim revitalisasi Talaga Saat atau Titik 0 KM Ciliwung. Ia mengerahkan personelnya untuk ikut andil, sampai-sampai meminjamkan perahu karet, alat angkut eceng gondok, dan menyediakan ransum TNI bagi para sukarelawan.
Wiwid mengatakan, tak kurang dari 1.500 orang yang berasal dari unsur TNI, masyarakat, kampus, hingga sukarelawan yang bermukim di sekitar Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Jakarta berbondong-bondong ikut ‘turun ke air’.
Dengan mengusung konsep gotong-royong, revitalisasi Talaga Saat dilakukan dalam 3 tahap penanganan. Tahap pertama, pada awal 2018 yang berkonsentrasi pada pembersihan rawa dan gulma. Tahap kedua, pada 2019 yang berfokus pada pembangunan infrastruktur penunjang kawasan.
Tahap ketiga atau terakhir, dititiberatkan pada pembangun fasilitas bagi para pengunjung dan kegiatan ekonomi masyarakat pada 2020.
Dalam wawancara pada akhir 2025 di Bogor, Wiwid mengaku masih ingat kejadian demi kejadian pada saat awal kegiatan revitalisasi Talaga Saat. Sejak dari cerita lucu, haru, hingga bangga tentang bagaimana jalannya gotong-royong di dalam upaya pengembalian ekosistem alam di Titik 0 KM Ciliwung.
Tak terkecuali peran Mohamad Hasan yang kini menjabat sebagai Komandan Kodiklat TNI AD, dalam upaya pemulihan ekosistem Talaga Saat.
"Yang menarik itu teman-teman TNI mendadak kaget dan panik saat lihat Pak Hasan turun ke air Talaga Saat untuk ikut membersihkan gulma. Masa iya komandan sudah nyemplung, terus anak buah tidak ikut nyemplung," cerita Wiwid sambil melempar senyum.
Advertisement
Upaya revitalisasi Talaga Saat boleh dibilang menjadi contoh konkret atau role model dari upaya perlindungan alam, sekaligus penyelamatan ekosistem hulu sungai dan mata air di Indonesia. Meski awalnya Wiwid mengaku spontan, namun di dalam revitalisasi Talaga Saat melibatkan banyak unsur mulai dari kampus, pemerintah, swasta, masyarakat, dan media atau yang dikenal dengan Model Pentahelix.
Abah Dili, salah satu warga Cibulao yang bermukim di sekitar Talaga Saat mengakui, revitalisasi kawasan yang telah berlangsung sejak 7 tahun silam itu telah memberi dampak besar dan nyata ke masyarakat sekitar.
Ia mengatakan, tak kurang dari 1.000 orang wisatawan lokal maupun mancanegara mengunjungi Talaga Saat pada akhir pekan. Angka ini kian meningkat pada saat memasuki masa liburan anak sekolah dan hari besar.
Dengan tingginya jumlah pengunjung, ujarnya, turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat yang diwakili melalui Desa Wisata, hingga menggerakkan roda ekonomi dengan adanya penjualan makanan, minuman, hingga souvenir khas Talaga Saat yang dilakukan oleh Karang Taruna dan Kelompok Petani Hutan.
"Yang juga penting sekarang aktivitas perburuan hewan di hutan Talaga Saat sudah tidak ada, sehingga ekosistem alam lebih terjaga," imbuh Abah Dili yang dikenal sesepuh Talaga Saat.
Pada kesempatan yang berbeda, Sarah, salah satu penggiat alam yang baru saja turun dari mendaki Gunung Kencana mengaku takjub dengan keindahan Talaga Saat dan sejumlah bentang alam yang terdapat di sekitar kawasan.
Ia berujar, dirinya baru mengetahui bahwa di kawasan Puncak Bogor terdapat kawasan yang sangat indah dan asri seperti Talaga Saat dari temannya.
Perempuan asli Jakarta ini berpandangan, dengan adanya dukungan pemerintah dan pengelolaan yang profesional, Talaga Saat dapat menjadi kawasan pendidikan luar ruang bagi anak muda sebagai bentuk aktualisasi diri, serta sarana belajar memahami keseimbangan ekosistem alam.
"Tapi saya berharap tidak lantas orang yang kemudian tahu lokasi ini menjadi FOMO. Sayang sekali kalau sudah bagus, tapi kemudian malah dirusak. Jadi pengelolaan Talaga Saat tegas saja agar terus terjaga dan bermanfaat," imbuh Sarah.