Belajar di Tengah Ancaman Bahaya

Jumat, 8 November 2019 02:47 Reporter : Mochammad Iqbal
Belajar di Tengah Ancaman Bahaya Murid SD di Ciamis belajar di tenda darurat. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejak Sabtu (2/11), 36 pelajar SD Negeri 2 Kadupandak, Dusun Sukamandi, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis terpaksa belajar di tenda darurat. Hal tersebut dilakukan karena bangunan sekolah rawan ambruk, dan saat ini sejumlah bagian dinding retak.

Tenda darurat tersebut dibangun sekitar 1 kilometer dari sekolah, merupakan bantuan dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Ciamis. Luas tenda untuk sekolah sendiri 5 x 10 meter. Di dalamnya sejumlah kursi dan meja dijajarkan. Setidaknya ruang sekolah darurat tersebut bisa menampung 23 siswa.

Tidak hanya tenda yang digunakan untuk ruang belajar, masjid terdekat pun digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Masjid digunakan KBM kelas 1 dan 2, sisanya belajar di tenda. Para siswa menggunakan sajadah masjid sebagai alas, dan untuk menulis menggunakan meja setinggi 30 sentimeter.

KBM di dalam masjid berjalan normal sebagaimana di dalam kelas, suasananya pun cukup kondusif meski dua siswa kelas 1 dan sebelas siswa kelas 2 belajar bersamaan. Namun suasana berbeda dirasakan saat KBM di dalam tenda, karena pelajar kelas 3 sampai 6 harus belajar dalam satu ruang tanpa sekat. Alhasil, tentunya KBM tidak fokus karena beda kelas beda pelajaran.

Tidak fokusnya siswa dalam belajar pun kemudian ditambah dengan suasana pengap di dalam tenda. Meski cuaca di sana pada umumnya terasa sejuk, karena ruangnya cukup sempit menjadikan para siswa gerah.

"Sejak Sabtu saya harus belajar di dalam tenda darurat. Tidak nyaman belajarnya. Kalau siang sangat gerah. Pernah juga pas hujan kita kebasahan karena tendanya bocor. Karena alasnya tanah jadi juga sepatu kotor," kata Adit Wahyu (10), siswa kelas 3.

Meski harus belajar di tempat yang kurang nyaman, Adit mengaku tetap semangat dan akan serius dalam belajar untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Namun dia berharap agar sekolahnya bisa segera diperbaiki sehingga bisa belajar dengan fokus, aman dan nyaman.

Siswa lainnya, Andri Aryanto (11) mengaku tidak bisa fokus belajar di tenda darurat. "Setiap mau fokus belajar selalu saja terganggu dari kelas pinggir yang juga sedang belajar. Berisik banget. Kalau semangat mah tetap semangat, tapi semoga di tahun baru nanti sudah bisa belajar di kelas yang baru," katanya.

Widia (9) salah seorang siswa yang belajar di dalam masjid mengaku merasa cepat pegal ketika belajar, karena harus duduk di atas lantai masjid beralas sajadah.

"Lebih enak belajar di dalam kelas daripada belajar di masjid. Di masjid juga tidak ada papan tulis, belajarnya sambil mendengarkan saja jadinya," ucapnya.

Baca Selanjutnya: Dinding Kelas Retak Sejak Dua...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini