Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

BEC karnaval Banyuwangi ala budaya barat bercitarasa ketimuran

BEC karnaval Banyuwangi ala budaya barat bercitarasa ketimuran Karnaval BEC ajang perpisahan Bupati Azwar Anas. ©2015 Merdeka.com/andriansyah

Merdeka.com - Meski akan ditinggalkan bupatinya pada 20 Oktober lusa, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur terus membuktikan diri sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai budaya lokal. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, akan segera mengakhiri masa jabatannya periode 2010/2015. Namun dia akan kembali maju bersama Yusuf Widiatmoko di Pilkada serentak, 9 Desember mendatang.

Setidaknya, Anas telah menyampaikan pesan untuk terus menjaga tradisi budaya di kabupaten berjuluk the Sunrise of Java itu, saat membuka acara Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2015, Sabtu (17/10). Bahkan, Anas juga menyempatkan diri berpamitan dan meminta maaf kepada seluruh warga di Bumi Blambangan itu.

Di gelaran BEC tahun ini, yang bertema the Usingnes Royal Wedding, Anas menyampaikan bangganya terhadap Banyuwangi yang terus menggeliat selama lima tahun menggemakan budaya dan wisatanya hingga dikenal dunia.

Bak karnival yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, festival etnik di Banyuwangi juga terus menyuguhkan tradisi lokal yang dikemas secara modern. BEC, menjadi sebuah gelaran bergaya barat, tapi tetap bercitarasa ketimuran dengan latar etnik yang cukup kental. BEC -pun mampu menjadi magnet pariwisata daerah yang diburu wisatawan asing, maupun lokal.

Di gelaran BEC 2015, Pemkab Banyuwangi menyulap Taman Blambangan menjadi venue bak 'pelaminan raksa' sesuai tema yang diangkat. Gebyok kayu berhiaskan aneka bunga serta alunan gamelan manten melengkapi panggung. Prosesi adat pernikahan 'Perang Bangkat' yang mengawali 'Kemanten Using/Osing' pun tergelar.

Tak hanya itu, ratusan Penari Gandrung yang bertindak menjadi dayang-dayang mempesona selama proses berlangsung, ikut menghipnotis penonton yang berjubel memadati Taman Blambangan.

Ritual Perang Bangkat diprosesi adat pernikahan suku khas Banyuwangi, Osing ini, merupakan prosesi padu-paduan atau sahut-menyahut antar perwakilan keluarga kedua mempelai. Meskipun berkesan seperti berkonflik, sebenarnya ini hanya tata-cara para keluarga yang ingin agar anak mereka bisa dipersatukan.

Padu-paduan sendiri, berakhir dengan kata sepakat dari kedua keluarga untuk menyatukan mempelai dan diikuti penyerahan uba rampe kepada keluarga pengantin perempuan. Yakni berupa kembang mayang, bantal yang dibungkus dengan tikar dan seekor ayam betina yang tengah mengerami telurnya.

Usai Perang Bangkat, dari panggung pelaminan keluar parade Kemanten Using Banyuwangi dalam wujud aslinya yang terdiri atas tiga jenis pengantin yakni Sembur Kemuning, Mupus Braen Blambangan, dan Sekar Kedaton Wetan.

Usai peragaan para pengantin asli, munculah Kemanten Using versi BEC dengan kreasi kostum yang megah. Di barisan pertama, BEC Kemanten Using dengan tema Sembur Kemuning tampil dalam balutan warna Kuning, Oranye dan Ungu. Pemakaian Kembang Kemuning dalam busana pengantin ini sebagai lambang nasehat agar kedua mempelai saat hidup bermasyarakat mampu menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya.

"Gelaran BEC di Banyuwangi memang sangat berbeda dengan daerah lain. Kostumnya yang etnik dan bertema lokal jadi tontonan yang unik dan istimewa. Apalagi juga ada prosesi adat sesuai tema yang diangkat, sangat menarik buat saya," kata Rahmat Mulyawan, salah satu pengunjung dari Sekolah Tinggi Pariwisata, Bandung, yang datang bersama beberapa temannya menyaksikan BEC.

Setelah Sembur Kemuning, karnaval berlanjut dengan parade Kemanten Using Sekar Kedaton Wetan. Kostum yang terdiri atas warna hijau dan perak ini melambangkan kebangsawanan dari sang pengantin. Kostum pengantin ini juga sangat unik karena memakai mahkota yang berbentuk Undak Songo, yang merupakan Monumen Tugu Blambangan.

Di parade selanjutnya, munculah para Kemanten Using mengenakan kostum Mupus Braen Blambangan. Kostum pengantin yang didominasi warna merah, hitam dan emas ini mewakili pengantin masyarakat kelas menengah. Kemegahan kostum ini ditonjolkan pada hiasan mahkota buthi setinggil yang terbuat dari rangkaian permata dan logam.

Tak kalah menarik, BEC tahun ini juga dimeriahkan oleh penampilan puluhan warga negara asing yang berdandan ala Penari Gandrung. Juga ada penampilan BEC cilik dan The Best BEC 2014 The Mystic Dance of Seblang.

"Saya senang diberi kesempatan berpakaian Gandrung. Meski kainnya diikat kuat di tubuh saya sampai agak kesulitan bernafas, nggak apa-apa, saya rela. Kapan lagi bisa gaya dengan pakaian tradisional Banyuwangi," ujar Vanika Spencer, seorang bule relawan Peace Corps yang menjadi pengajar Bahasa Inggris di MAN Banyuwangi dan menjadi salah satu bule pemeran Gandrung.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP