Bappenas-BGN Minta Pemda Bangun Ekosistem Rantai Pasok Sukseskan Makan Bergizi Gratis: Siap Hadapi Tantangan 83 SPPG?

Kementerian PPN/Bappenas dan BGN mendesak pemerintah daerah untuk membangun ekosistem rantai pasok bahan baku demi kelancaran program Makan Bergizi Gratis, khususnya saat jumlah SPPG meningkat drastis.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bappenas-BGN Minta Pemda Bangun Ekosistem Rantai Pasok Sukseskan Makan Bergizi Gratis: Siap Hadapi Tantangan 83 SPPG?
Kementerian PPN/Bappenas dan BGN mendesak pemerintah daerah untuk membangun ekosistem rantai pasok bahan baku demi kelancaran program Makan Bergizi Gratis, khususnya saat jumlah SPPG meningkat drastis. (AntaraNews)

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama Badan Gizi Nasional (BGN) secara tegas meminta seluruh pemerintah daerah di Indonesia untuk segera membangun ekosistem rantai pasok bahan baku. Permintaan ini bertujuan untuk memastikan kesuksesan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Langkah strategis ini dinilai krusial demi kelancaran distribusi gizi dari hulu hingga ke hilir.

Desakan tersebut disampaikan oleh Menteri PPN/Bappenas, Rachmat Pambudy, di Kota Malang, Jawa Timur, pada Minggu (26/10) lalu. Rachmat menekankan bahwa kepastian ekosistem rantai pasok merupakan poin signifikan dalam memperlancar implementasi MBG. Tanpa rantai pasok yang solid, program ini berpotensi menghadapi berbagai hambatan di lapangan.

Program MBG yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat harus dapat berjalan sukses secara merata di seluruh daerah, mulai dari Aceh hingga Papua. Oleh karena itu, Bappenas dan BGN akan terus melakukan pengawasan ketat. Mereka memastikan bahwa setiap tahapan pelaksanaan program ini dapat dirasakan manfaatnya dengan baik oleh seluruh penerima.

Menteri PPN/Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bergantung pada transformasi rantai pasok yang efektif. Menurutnya, proses ini harus mencakup seluruh aspek, mulai dari penyediaan bahan baku di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga sampai ke tangan penerima manfaat.

Rachmat menyatakan, "Kami harus memastikan rencana itu dilaksanakan dan dirasakan dengan baik. Rantai pasok harus mentransformasikan mulai dari hulu di dapur (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) sampai kepada penerima manfaat, itu harus satu kesatuan dalam pelaksanaan MBG." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya integrasi dan koordinasi yang kuat dalam setiap tahapan.

Lebih lanjut, Rachmat menekankan bahwa Bappenas dan BGN akan terus memantau dan memastikan program MBG terlaksana dengan baik di setiap pelosok negeri. Pengawasan ini bertujuan untuk menjamin bahwa program ini tidak hanya berjalan di pusat, tetapi juga menjangkau lokasi terpencil. Hal ini demi mewujudkan pemerataan gizi yang optimal bagi seluruh masyarakat.

Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, menjelaskan bahwa ruang lingkup program Makan Bergizi Gratis (MBG) jauh lebih luas dari sekadar operasional SPPG. Menurutnya, program ini juga mencakup kemudahan bagi SPPG untuk mendapatkan bahan baku berkualitas tinggi yang akan diolah menjadi menu MBG. Pemenuhan bahan baku ini tidak boleh bersifat parsial, melainkan harus terencana secara detail di setiap daerah.

Sony menyoroti bahwa ekosistem rantai pasok ini menjadi tanggung jawab penting bagi seluruh kepala daerah di Indonesia, termasuk Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Ia memberikan contoh konkret mengenai potensi kesulitan pasokan. "Karena saat ini pasokan bisa terpenuhi karena jumlahnya baru 25 SPPG di Malang, ketika sudah 83 SPPG bagaimana bisa memenuhi, seperti kangkung, pakcoy dan ikan. Ini harus dipikirkan," kata Sony.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perencanaan pasokan bahan baku harus matang dan antisipatif terhadap peningkatan skala program. Pemerintah daerah diharapkan dapat memikirkan strategi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan dan kualitas bahan baku. Ini penting agar program Makan Bergizi Gratis dapat terus berjalan lancar seiring dengan perluasan jangkauannya.

Untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara berkelanjutan, Sony Sanjaya memperkenalkan pendekatan baru yang disebut "MBG Preneur". Konsep ini telah diterapkan di Kota Malang dan dinilai mampu memberikan solusi inovatif. MBG Preneur mendorong SPPG untuk tidak hanya fokus pada proses memasak, tetapi juga memikirkan strategi dalam memperluas akses terhadap bahan baku.

Pendekatan "MBG Preneur" ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian bagi SPPG dalam mengelola rantai pasok mereka sendiri. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi unit pelayanan gizi, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang aktif. Konsep ini mendorong kreativitas dan inovasi dalam mencari sumber bahan baku yang efisien dan berkualitas.

Sony menegaskan bahwa dengan "MBG Preneur", SPPG diharapkan mampu mengembangkan strategi yang lebih komprehensif. "Jadi, tidak hanya sekadar memikirkan soal dapur," ucapnya. Ini berarti SPPG perlu memiliki visi yang lebih luas, termasuk membangun jaringan dengan petani lokal atau pemasok lain. Tujuannya adalah untuk menjamin pasokan berkelanjutan bagi program Makan Bergizi Gratis.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi