Bank Indonesia Tetapkan Belakang Padang sebagai Ikon Ekonomi Digital Perbatasan

Pulau Belakang Padang di Batam kini diakui Bank Indonesia sebagai ikon ekonomi digital di wilayah perbatasan. Inisiatif ini membuktikan bahwa digitalisasi mampu menjangkau pulau terluar.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bank Indonesia Tetapkan Belakang Padang sebagai Ikon Ekonomi Digital Perbatasan
Bank Indonesia Kepri menetapkan Pulau Belakangpadang sebagai ikon ekonomi digital perbatasan, gencar mengedukasi penggunaan QRIS untuk mendorong transaksi digital di wilayah strategis ini. (AntaraNews)

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau secara resmi menetapkan Pulau Belakang Padang, Batam, sebagai ikon ekonomi digital perbatasan Indonesia. Penetapan ini diumumkan oleh Deputi Kepala BI Kepulauan Riau, Ardhenius, pada Minggu (16/11), menyoroti peran strategis pulau tersebut. Pulau ini menjadi jendela Indonesia dan gerbang interaksi ekonomi lintas batas berkat kedekatannya dengan Singapura.

Inisiatif ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya terbatas pada kota-kota besar, melainkan juga dapat menjangkau pulau-pulau terluar. Belakang Padang kini menjadi bukti nyata perpaduan budaya lokal dengan teknologi digital. Hal ini sekaligus memperkuat konektivitas antara warga Indonesia dan Singapura dalam transaksi ekonomi digital.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital di pulau tersebut, BI Kepulauan Riau telah meluncurkan program promosi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Program ini diharapkan dapat memperluas manfaat pembayaran digital bagi masyarakat luas dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Pulau Belakang Padang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, menjadikannya titik penting dalam interaksi ekonomi lintas negara. Kedekatannya dengan Singapura memungkinkan pulau ini berfungsi sebagai gerbang utama untuk transaksi digital. Ardhenius menegaskan bahwa pulau ini tidak hanya sekadar perbatasan, tetapi juga jembatan penghubung.

Identitas Belakang Padang sebagai ikon ekonomi digital perbatasan menunjukkan perpaduan unik antara kearifan lokal dan kemajuan teknologi. Digitalisasi di wilayah ini membuktikan bahwa inovasi dapat berkembang di mana saja. Fokus pada ekonomi digital di Belakang Padang sejalan dengan visi pemerataan akses teknologi.

Bank Indonesia memiliki tujuan besar untuk membuktikan bahwa manfaat digitalisasi dapat dirasakan hingga ke pelosok negeri. Pulau-pulau terluar seperti Belakang Padang menjadi contoh nyata keberhasilan implementasi ekonomi digital. Hal ini juga mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi kesenjangan digital antar wilayah.

Dalam upaya memperkuat ekonomi digital di Belakang Padang dan seluruh Kepulauan Riau, Bank Indonesia gencar mempromosikan penggunaan QRIS. Kegiatan ini dirancang sebagai langkah edukatif dan inklusif untuk memperluas jangkauan manfaat pembayaran digital. Masyarakat diharapkan dapat lebih mudah beradaptasi dengan sistem pembayaran modern ini.

Provinsi Kepulauan Riau telah menunjukkan pertumbuhan digitalisasi yang sangat pesat. Transaksi QRIS di wilayah ini mencapai 33,9 juta pada tahun 2024, menandai peningkatan signifikan sebesar 117,31 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan adopsi yang kuat dari teknologi pembayaran digital oleh masyarakat.

Hingga akhir September 2025, jumlah transaksi QRIS telah melonjak hingga 64,9 juta, dengan nilai transaksi mencapai Rp7,7 triliun. Data ini menggarisbawahi potensi besar ekonomi digital di Kepulauan Riau. Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tren positif ini.

Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Kepulauan Riau, Zulhendri, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Bank Indonesia atas dukungannya. Bantuan BI sangat krusial dalam memperluas jangkauan layanan dan fasilitas ekonomi digital hingga ke pulau-pulau terluar. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi yang kuat antara lembaga keuangan dan pemerintah daerah.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berkomitmen penuh untuk terus memajukan digitalisasi. Promosi penggunaan QRIS tidak hanya difokuskan di Batam, tetapi juga diperluas ke daerah-daerah terpencil. Wilayah seperti Natuna, Lingga, dan Kepulauan Anambas menjadi target selanjutnya untuk pengembangan ekonomi digital.

Upaya ini mencerminkan visi pemerintah untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan merata di seluruh wilayah. Dengan adanya dukungan dan inisiatif berkelanjutan, diharapkan semua lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari kemajuan teknologi. Digitalisasi diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi