Balita Tewas dalam Kebakaran Rumah di Surabaya, Sang Kakak Selamat Usai Pecahkan Jendela

Saat petugas tiba, api sudah berkobar hebat dan menguasai seluruh lantai dua rumah milik Resky Wahyu Susetyo (36).

Erwin Yohanes
Oleh Erwin Yohanes - Reporter
Balita Tewas dalam Kebakaran Rumah di Surabaya, Sang Kakak Selamat Usai Pecahkan Jendela
Balita Tewas dalam Kebakaran Rumah di Surabaya, Sang Kakak Selamat Usai Pecahkan Jendela (Merdeka.com)

Kebakaran melanda sebuah rumah dua lantai di Jalan Petemon Timur Nomor 50, Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, Surabaya, pada Senin (22/6). Peristiwa tragis itu merenggut nyawa seorang balita perempuan berusia empat tahun, sementara kakaknya yang berusia 11 tahun berhasil menyelamatkan diri dengan cara memecahkan kaca jendela dan melompat keluar dari rumah yang terbakar.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, Laksita Rini, mengatakan laporan kebakaran diterima pada siang hari. Setelah menerima laporan, sejumlah unit pemadam langsung dikerahkan menuju lokasi.

"Unit tempur Pos Grudo tiba di tempat kejadian kebakaran pada pukul 14.22 WIB dan langsung melakukan upaya pemadaman," kata Laksita.

Saat petugas tiba, api sudah berkobar hebat dan menguasai seluruh lantai dua rumah milik Resky Wahyu Susetyo (36). Bangunan yang terbakar memiliki luas sekitar 5 x 10 meter.

Setelah berjibaku memadamkan api, petugas akhirnya berhasil mengendalikan kebakaran. Situasi dinyatakan aman dan kondusif sekitar pukul 16.15 WIB.

Dalam insiden tersebut, dua anak yang merupakan kakak beradik berada di dalam rumah saat kebakaran terjadi.

Korban pertama, Aldery Ahmad Susetyo (11), berhasil menyelamatkan diri dari kepungan api. Berdasarkan keterangan petugas, bocah tersebut keluar rumah dengan memecahkan kaca jendela sebelum melompat ke luar untuk menghindari kobaran api.

Akibat aksinya itu, Aldery mengalami luka lecet dan syok. Ia kemudian mendapat penanganan medis dari petugas Puskesmas yang berada di lokasi kejadian.

Namun nasib berbeda dialami adiknya, Kyaranissa Kamila Susetyo (4). Balita tersebut tidak berhasil menyelamatkan diri dan ditemukan meninggal dunia dalam peristiwa kebakaran itu.

Laksita menjelaskan, saat kebakaran terjadi kedua anak tersebut berada di rumah bersama ayah dan nenek mereka yang mengasuh.

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Aparat dan petugas terkait masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap sumber api yang menyebabkan insiden tersebut.

"Untuk penyebab kebakaran masih belum diketahui dan masih dilakukan pendalaman," ujarnya.

Proses pemadaman sempat mengalami kendala karena lokasi rumah berada di area dengan akses jalan yang sempit. Petugas harus melewati gang selebar sekitar 1,5 meter sehingga kendaraan pemadam tidak dapat menjangkau titik kebakaran secara langsung.

Jarak antara lokasi parkir armada pemadam dan titik kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 50 meter, sehingga petugas harus bekerja ekstra untuk menjinakkan kobaran api.

Sebanyak 11 unit diterjunkan dalam operasi pemadaman, terdiri dari enam unit tempur dan lima unit rescue yang berasal dari sejumlah pos pemadam, di antaranya Pos Grudo, Pos Pakis TVRI, Poskotis Joyoboyo, Rayon 1 Pasar Turi, Rayon 5 Margomulyo, Rayon 4 Wiyung, serta Pos Menur.

Meski api berhasil dipadamkan sebelum merembet ke bangunan lain, peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Polisi bersama instansi terkait masih terus melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran yang merenggut nyawa balita tersebut.

Rekomendasi