Polemik penyelenggaraan wisuda di sekolah tingkat TK, SD, SMP dan SMA tengah bergulir di dalam negeri. Hal itu usai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengeluarkan larangan wisuda digelar.
Yang dilarang adalah wisuda sekolah tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Bukan tanpa sebab, Dedi menilai pelaksanaan wisuda di tingkat tersebut tidak ada relevansinya dengan tumbuh kembang anak. Di samping juga membebani orang tua serta bisa terjadi kesenjangan sosial antar-siswa.
Namun, pendapat berbeda dikeluarkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. Ia menilai wisuda untuk sekolah tingkat tersebut tidak masalah untuk digelar.
"Kalau menurut saya begini, sepanjang itu tidak memberatkan dan atas persetujuan orang tua dan murid, ya masa sih tidak boleh gitu kan. Yang penting wisuda itu jangan berlebih-lebihan dan juga jangan dipaksakan," kata Mendikdasmen usai pembukaan Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Dikdasmen 2025 di Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (29/4).
Saat proses wisuda sendiri, siswa yang lulus akan mengenakan toga. Busana khas wisuda. Sejarah toga wisuda memiliki akar yang panjang dan menarik, bermula dari zaman Romawi Kuno. Toga, yang awalnya merupakan pakaian formal bagi warga negara Romawi, terbuat dari wol dengan panjang antara 3,7 hingga 6 meter, dililitkan di atas tunik.
Berbagai jenis toga menunjukkan status sosial pemakainya, seperti Toga Virilis yang berwarna putih polos untuk pria dewasa, Toga Praetexta dengan garis ungu untuk pejabat tinggi dan anak bangsawan, Toga Pulla yang berwarna gelap untuk berkabung, dan Toga Candida yang putih bersih untuk calon pejabat.
Pada abad pertengahan di Eropa, khususnya di universitas-universitas Italia, toga mulai diadopsi sebagai simbol status dan kehormatan akademis. Awalnya, toga digunakan sebagai pakaian sehari-hari oleh para akademisi, berfungsi juga sebagai pelindung dari cuaca dingin di ruangan-ruangan yang belum memiliki pemanas. Seiring berjalannya waktu, penggunaan toga dalam upacara wisuda menyebar ke seluruh dunia dan menjadi simbol universal pencapaian akademis.
Di beberapa negara, tradisi pesta toga, atau toga party, telah populer meskipun pakaian yang digunakan dalam pesta ini berbeda dengan toga Romawi kuno. Makna simbolis toga wisuda sangat mendalam, mencerminkan perjalanan dan pencapaian seorang sarjana dalam dunia pendidikan.
Advertisement
Toga wisuda tidak hanya sekadar pakaian, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Warna hitam pada toga sering kali mewakili keagungan, misteri, dan kegelapan yang harus dikalahkan oleh seorang sarjana dengan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya. Warna ini menjadi pengingat akan tantangan dan rintangan yang telah dilalui selama proses pendidikan.
Selain itu, topi persegi yang dikenal sebagai mortarboard memiliki makna tersendiri. Topi ini mengajarkan wisudawan untuk berpikir rasional dan memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, wisudawan diharapkan dapat menghadapi tantangan di dunia nyata dengan cara yang lebih terbuka dan kreatif.
Salah satu momen penting dalam upacara wisuda adalah pemindahan tali toga dari kiri ke kanan. Tindakan ini melambangkan peralihan dari penggunaan otak kiri, yang berfokus pada pembelajaran, ke otak kanan, yang lebih berorientasi pada kreativitas dan inovasi dalam kehidupan setelah lulus. Proses ini menjadi simbol transisi yang signifikan bagi setiap lulusan.
Advertisement
Meskipun desain dan warna toga mungkin bervariasi antar institusi, toga wisuda secara umum tetap menjadi simbol penyelesaian pendidikan, prestasi akademis, dan penghormatan terhadap pencapaian tersebut. Penggunaan toga dalam upacara wisuda menyatukan para lulusan tanpa memandang latar belakang, etnis, atau kelas sosial, menekankan kesetaraan kesempatan dalam pendidikan.
Di Indonesia, misalnya, toga wisuda sering kali digunakan dalam berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Toga ini tidak hanya menjadi simbol kelulusan, tetapi juga menjadi momen berharga bagi keluarga dan teman-teman yang hadir untuk merayakan pencapaian tersebut.
Seiring dengan perkembangan zaman, berbagai jenis kain seperti kain bestway, satin, tessa, dan beludru kini digunakan dalam pembuatan toga wisuda modern. Setiap jenis kain memberikan sentuhan berbeda, namun tetap mempertahankan esensi dan makna dari toga itu sendiri.
Dengan demikian, toga wisuda tidak hanya menjadi pakaian formal, tetapi juga sebuah simbol yang menyatukan dan menghormati perjalanan pendidikan setiap individu. Tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan akademis di seluruh dunia, menunjukkan bahwa pencapaian pendidikan adalah sebuah perjalanan yang layak dirayakan.