Arkeolog Usul Situs Bersejarah Kawasan Tol Malang-Pandaan Diekskavasi Menyeluruh

Selasa, 12 Maret 2019 01:31 Reporter : Darmadi Sasongko
Arkeolog Usul Situs Bersejarah Kawasan Tol Malang-Pandaan Diekskavasi Menyeluruh Situs Bersejarah di Tol Malang-Pandaan. ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Situs bersejarah di Tol Malang-Pandaan (Mapan) diusulkan dilakukan pemetaan sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut. Karena sangat dimungkinkan situs bersejarah tersebut lebih luas dari yang ditemukan saat ini.

"Solusinya, seharusnya ekskavasi total, digali dulu, ditampakkan keseluruhan, temuannya apa saja. Baru disikapi, apakah jalan tolnya dibelokkan atau gimana?" kata Dwi Cahyono, Arkeolog Universitas Negeri (UM) Malang, Senin (11/3).

Kata Dwi Cahyono, dimungkinkan luasan situs tersebut tidak hanya di titik tempat awal benda-benda bersejarah Itu ditemukan, tetapi lebih luas lagi. Karena memang temuan awal dalam bentuk bangunan tempat tinggal yang kemungkinan dalam jumlah tidak hanya satu.

Situs Bersejarah di Tol Malang-Pandaan ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

"Siapa tahu temuannya tidak hanya di sini. Karena itu perlu juga diteliti di sini, memang ini ditangani, dibuka di sini akan ketemu lagi, di sini akan ketemu lagi. Karena temuan itu dalam bentuk bangunan, jadi kemungkinan tidak hanya satu," katanya.

"Menurut saya diriset dulu lah itu. Sambil diekskavasi dulu agak menyeluruh, di kanan kiri jalur untuk memetakan sebaran temuannya," tambahnya.

Kalau melihat posisi temuan, situs tersebut pasti akan terkena pembangunan jalur tol Malang - Pandaan. Sehingga sempat berkembang munculnya opsi untuk dilakukan memindahkan jalur tersebut.

Situs Bersejarah di Tol Malang-Pandaan ©2019 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

"Kalau dibelokkan memang persoalannya di situ ada sungai Amprong, semakin mendekati sungai Amprong posisinya miring, sehingga perlu penanggulan. Di sini sudah mulai dibuka. Jadi monggo kalau memang mau dibelokkan, bagus saja," ungkapnya.

Dwi menegaskan, pihak yang sangat menentukan dalam kebijakan lebih lanjut adalah Badan Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto. Tetapi yang dirasakannya agak terlambat, disamping kabar penemuan itu memang baru tersebar setelah beberapa bulan dari penemuan awal.

"Yang punya kewenangan itu kan BPCB, sehingga perlu bertindak cepat," tegasnya.

Saat ini kawasan tersebut dipoliceline agar tidak banyak yang melakukan perburuan memasuki kawasan tersebut. Selain juga dilakukan penghentian kegiatan proyek di kawasan situs. Karena sejak awal penemuan sekitar 6 bulan lalu, banyak orang melakukan perburuan secara diam-diam. Mereka menemukan kepeng uang kuno bahkan anting-anting emas.

"Saya juga baru tahu kok, beberapa mungkin sudah laku. Ada misalkan talam dibeli orang Tumpang Rp 450 ribu. Emas kalau harganya cocok mungkin dilepas oleh pemiliknya," katanya.

Sementara itu, kata Dwi, mulai dari Lawang bagian timur hingga Desa Sekarpura dan sekitarnya, tempat ditemukan situs tersebut, sebagai desa kuno. Kawasan tersebut diduga menjadi tempat tinggal sejak sebelum era Singosari, bahkan masih masa Mataram.

Kawasan tersebut masih menjadi daerah pemukiman hingga era Majapahit dan perkembangan Islam. Nama-nama desanya pun mengandung nama Pura yang berarti kota. [ded]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini