Arkeolog dari Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Wiwin Djuwita Ramelan mengkritik keras pemerintah terkait penulisan ulang sejarah Indonesia. Menurutnya, ilmuwan yang dilibatkan dalam penulisan ulang sejarah Indonesia tidak diberikan kesempatan untuk beradu argumentasi.
Mulanya, Wiwin mengungkapkan, terjadi perdebatan mengenai perubahan terminologi prasejarah dalam penulisan ulang sejarah Indonesia.
Padahal, menurut para ilmuwan, terminologi prasejarah sudah dipahami oleh masyarakat. Sehingga, hal tersebut tidak perlu diubah.
"Bahkan makna dan terminologi prasejarah dapat dipastikan telah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Pertanyaannya sekarang, apa urgensinya mengubah terminologi yang sudah dipahami dan dipakai lebih dari 200 tahun itu secara mendunia?" kata Wiwin, dalam diskusi secara daring, Rabu (18/6).
Wiwin pun mengklaim, jika Kementerian Kebuudayaan, tidak memberikan ruang bagi para ilmuwan untuk beradu argumen soal perubahan terminologi prasejarah.
"Perbedaan terminologi sejarah dan prasejarah sudah jelas dan tidak perlu lagi diperdebatkan. Di sinilah persoalannya, para ilmuwan tidak diberi kesempatan untuk berpikir, bertukar pikiran, beradu argumentasi untuk menerima perubahan terminologi keilmuwan tersebut," tegasnya.
"Namun, terminologi baru keilmuwan ditetapkan oleh sebuah kebijakan yang disetujui oleh hanya sekelompok ahli yang masuk sebagai tim penulis SNI," sambung Wiwin.
Risiko Terminologi Prasejarah Diubah
Lebih lanjut, dia pun berharap, agar perubahan terminologi prasejarah hanya digunakan pada judul bab buku. Sebab, jika terminologi prasejarah diubah secara menyeluruh maka akan banyak waktu yang terbuang.
"Mudah-mudahan penamaan sejarah awal hanya sebagai judul bab buku SNI bukan untuk menggantikan terminologi prasejarah yang pastilah dituliskan ratusan kali dalam uraian jilid 1 SNI," tuturnya.
"Apabila perubahan ini tetap dilanjutkan, perlukah kita juga mengubah seluruh terminologi prasejarah pada seluruh kurikulum arkeologi di ketujuh universitas? Atau semua tulisan para ahli? Atau pada buku-buku pelajaran sekolah? Atau bahkan di semua papan nama situs dagar budaya yang bercirikan prasejarah? Dapat dibayangkan, berapa banyak tenaga dan waktu kita buang untuk melakukan perubahan tersebut, bahkan mengubah alam pikiran masyarakat," imbuh Wiwin.