Angka Kemiskinan di Tapanuli Tengah Diklaim Menurun

Kamis, 19 Desember 2019 22:07 Reporter : Merdeka
Angka Kemiskinan di Tapanuli Tengah Diklaim Menurun Ilustrasi kemiskinan. ©2019 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Bakhtiar Ahmad Sibarani seharusnya bekerja sama untuk mensejahterakan masyarakat. Bukan malah saling adu argumen terkait rakyat miskin.

Ini menyusul pernyataan Edy yang menyerang Bakhtiar. Edy menilai kinerja sang bupati tidak memuaskan karena masih banyak rakyat yang miskin.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Tapteng Rahman Sibuea menilai pernyataan Edy kurang tepat. Sebab, menurutnya, para pengusaha lokal di Kabupaten Tapteng dua tahun terakhir bisa bersaing dengan pengusaha luar daerah.

Akibatnya perputaran uang tidak ke luar Tapteng dan berujung menggerakkan roda perekonomian dan tentunya mengurangi kemiskinan.

"Jadi tidak benarlah kalau Gubernur menyatakan rakyat Tapteng itu miskin karena Bupati," katanya, Kamis (19/12).

Menurutnya, angka kemiskinan turun di era Bakhtiar Ahmad Sibarani. Dia mengatakan, hal itu didasarkan selain memiliki data internal organisasi juga selalu bersinergi dengan Badan Pusat Statistik Tapteng.

"Kami memiliki data dan pihak BPS juga mengatakan adanya penurunan angka kemiskinan dalam beberapa tahun belakangan ini," lanjutnya.

Dia mencontohkan adanya peningkatan UMK di Kabupaten Tapteng untuk Tahun 2020 menjadi Rp 2.830.884.

"Kadin mewakili kalangan pengusaha ikut merumuskan UMK. Untuk tahun ini ada peningkatan 8,5 persen dibanding tahun sebelumnya. UMK Tapteng ditetapkan menjadi Rp2,8 juta," katanya.

1 dari 1 halaman

Perseteruan Edy Rahmayadi dengan Bakhtiar Ahmad Sibarani ditengarai merupakan kelanjutan Pilgub Sumut 2018. Saat itu, Bakhtiar diberhentikan dari Partai Hanura karena mendukung pasangan Djarot Saiful HidayatSihar Sitorus (Djoss). Dia kemudian merapat ke Partai NasDem.

Sejak Edy terpilih, Bakhtiar tidak pernah hadir saat diundang Gubernur Sumut. Salah satu yang menjadi pemberitaan adalah saat dia tidak datang pada penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Jumat (14/12).

"Anak tidak boleh konflik sama ayahnya. Tetapi setiap saya panggil saya undang untuk membicarakan pembangunan, tidak pernah datang. Bayangkan kalau Anda tidak pernah datang ke rumah orang tua Anda, jangankan dapat sesuatu doa pun tak dikabulkan," kata Edy di rumah dinas Gubernur Sumut, Rabu (18/12).

Menurut Edy, Bakhtiar tak sayang pada rakyatnya. "Untuk memberikan sesuatu pada rakyatnya, tidak mau dan tak pernah datang sampai detik ini. Kalianlah para wartawan yang menilai," ucap Edy.

Usai apel kesiapan pengamanan Natal dan Tahun Baru di Lapangan Benteng, Medan, Edy kembali berkomentar terkait masalah itu. "Saya kan bapaknya. Kalau anak melawan bapaknya, berarti durhaka. Saya katakan kalau orang tua dilawan anaknya, berarti anaknya durhaka," sebut Edy.

Menurut dia, apa yang dilakukannya demi pembangunan di Sumut. "Ini untuk membangun Sumut. Bukan untuk lawak-lawak," ucapnya. [fik]

Baca juga:
Penerima BPNT di 2020 Turut Dapat Ayam, Ikan Hingga Buah-buahan
Pelarangan Rokok Elektrik Disebut Tak Efektif Kurangi Perokok, Kenapa?
Kemensos Bakal Alokasikan Rp1 Triliun Atasi Kemiskinan di Banten
Perjuangan Ibu Besarkan Anak Derita Hydrocephalus di Surabaya
Ijazah Siswi dari Keluarga Miskin Ditahan Pihak Sekolah

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini