Angka Kematian Ibu Jember Masih Tinggi, Dinkes Catat 10 Kasus dalam Tiga Bulan

Dinas Kesehatan Jember mencatat 10 kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dari Januari hingga Maret 2026. Simak upaya pemerintah daerah menekan AKI di Jember.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Angka Kematian Ibu Jember Masih Tinggi, Dinkes Catat 10 Kasus dalam Tiga Bulan
Dinas Kesehatan Jember mencatat Angka Kematian Ibu Jember masih tinggi dengan 10 kasus terjadi dari Januari hingga Maret 2026. Berbagai program telah digulirkan untuk menekan angka ini. (AntaraNews)

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Jember mengungkapkan data mengkhawatirkan terkait Angka Kematian Ibu (AKI) di wilayahnya. Sebanyak 10 kasus kematian ibu tercatat dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2026, yang tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten setempat.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jember, Gini Wuryandari, menjelaskan bahwa pada Januari terdapat tiga kasus, Februari lima kasus, dan Maret dua kasus. Mayoritas kasus kematian ibu ini terjadi saat proses persalinan di rumah sakit, dengan hanya satu kasus di puskesmas.

Penyebab utama AKI di Jember didominasi oleh komplikasi obstetri seperti perdarahan saat atau setelah persalinan, hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia/eklampsia), serta adanya penyakit penyerta. Data ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Jember masih menjadi tantangan serius bagi sektor kesehatan daerah. Sebaran kasus AKI yang terjadi dari Januari hingga Maret 2026 mencakup beberapa wilayah Puskesmas. Wilayah tersebut termasuk Gumukmas, Ledokombo, Mumbulsari, Silo 1, Puger, Gladakpakem di Kecamatan Sumbersari, Ajung di Kecamatan Ajung, dan Sukorejo di Kecamatan Bangsalsari.

Gini Wuryandari dari Dinkes Jember menegaskan bahwa komplikasi obstetri menjadi faktor dominan penyebab AKI. Kondisi seperti perdarahan hebat, baik selama maupun setelah persalinan, seringkali menjadi pemicu utama. Selain itu, hipertensi dalam kehamilan, yang dikenal sebagai preeklampsia atau eklampsia, juga berkontribusi signifikan terhadap tingginya AKI di Jember.

Ibu hamil dengan penyakit penyerta juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi fatal. Data tahun 2024 menunjukkan 43 kasus AKI, yang kemudian mengalami penurunan pada tahun 2025 menjadi 27 kasus. Penurunan ini diharapkan terus berlanjut pada tahun 2026 melalui berbagai intervensi kesehatan.

Pemerintah Kabupaten Jember tidak tinggal diam menghadapi tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Kepala Dinas Kesehatan Jember, M. Zamroni, menyatakan pihaknya telah meluncurkan berbagai program strategis. Salah satu program utama adalah pengerahan 1.200 tenaga kesehatan ke lapangan, sesuai instruksi Bupati Jember Muhammad Fawait.

Program ini melibatkan berbagai pihak mulai dari tenaga kesehatan, penyuluh kesehatan, camat, dokter, hingga kader posyandu. Mereka bekerja sama secara sinergis untuk mengatasi masalah kesehatan krusial seperti stunting, kematian ibu, dan kematian bayi di Jember. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.

Pendampingan intensif bagi ibu hamil berisiko tinggi merupakan salah satu tindak lanjut dari Gerakan 1.200 tenaga kesehatan. Setiap tenaga kesehatan bertanggung jawab mendampingi wilayah tertentu, memberikan intervensi langsung dan memastikan kesehatan ibu hamil terjaga. Melalui upaya terpadu ini, Dinkes Jember optimis dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi