Anggota DPR sayangkan harga beras impor buat operasi pasar lebih mahal dari lokal

Firman Soebagyo menyayangkan harga beras impor untuk operasi pasar ternyata lebih mahal dari beras lokal. Menurutnya, beras impor yang digelontorkan harusnya lebih murah dari beras lokal.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Anggota DPR sayangkan harga beras impor buat operasi pasar lebih mahal dari lokal
Beras. ©2018 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengamankan stok pangan, khususnya beras saat bulan Ramadan dan Idul Fitri. Salah satunya adalah menggelar operasi pasar, termasuk menggelontorkan beras impor yang berada di gudang Perum Bulog.

Namun, anggota Komisi IV DPR yang juga politisi Partai Golkar, Firman Soebagyo menyayangkan harga beras impor untuk operasi pasar ternyata lebih mahal dari beras lokal. Menurutnya, beras impor yang digelontorkan harusnya lebih murah dari beras lokal.

Karenanya, anggota Komisi IV DPR ini ragu kebijakan tersebut bisa menekan harga beras di pasaran. "Kalau logikanya kan kalau operasi pasar itu harga terjangkau. Harusnya murah kan. Tapi kalau harga berasnya lebih mahal jadi buat apa kita impor," katanya, Jumat (11/5).

Dia mengatakan, idealnya operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga. Sehingga masyarakat mampu membeli beras dengan harga terjangkau.

"Tetapi dengan adanya impor yang jauh lebih mahal, sehingga tidak bisa dibeli dengan harga murah dengan kualitas yang baik, artinya ada apa? Jadi operasi pasar ini hanya jadi alasan saja untuk dijadikan pembenaran agar bisa impor," katanya.

Dia juga mencium ada pemain dan kepentingan di balik hal itu. "Di balik itu ada pemain-pemain, ada kepentingan-kepentingan di dalamnya. Tapi siapa? Saya kira ini menarik dilakukan kajian," katanya.

Dia juga curiga impor beras dilakukan untuk kepentingan politik di 2019. Kecurigaannya ini didasarkan karena tahun lalu Kemendag sudah komit tidak melakukan impor beras.

Buktinya, kata dia, harga beras tahun lalu stabil. Namun, belakangan begitu memasuki tahun politik, Kemendag justru membuka impor keran beras 500 ribu ton.

"Ini yang kita curigai," katanya.

Halaman
Rekomendasi