Anggota DPR Ingatkan Bahaya Dualisme Kepemimpinan Keraton Surakarta: Jangan Terulang Lagi

Anggota Komisi VII DPR RI, Muhammad Hatta, menyoroti pentingnya menghindari dualisme kepemimpinan Keraton Surakarta demi menjaga kebersamaan dan aset bangsa, serta mencegah intervensi negara.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Anggota DPR Ingatkan Bahaya Dualisme Kepemimpinan Keraton Surakarta: Jangan Terulang Lagi
Putra mahkota Keraton Kasunanan Surakarta, Gusti Purboyo, mengumumkan diri sebagai Paku Buwono XIV jelang pemakaman PB XIII, memicu pertanyaan tentang suksesi dan adat keraton. (AntaraNews)

Anggota Komisi VII DPR RI, Muhammad Hatta, baru-baru ini menyuarakan harapannya agar tidak ada lagi dualisme kepemimpinan di Keraton Surakarta, Jawa Tengah. Pernyataan penting ini disampaikan Hatta saat melakukan kunjungan kerja Panja Standardisasi Desa Wisata di Desa Wisata Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Jumat lalu. Ia menekankan pentingnya musyawarah untuk mencapai mufakat dan menghindari perpecahan yang pernah terjadi sebelumnya di lingkungan keraton tersebut.

Hatta secara tegas mengingatkan semua pihak terkait untuk bersikap legawa demi menjaga keutuhan dan stabilitas Keraton Surakarta. Menurutnya, dualisme kepemimpinan hanya akan menimbulkan masalah baru dan merugikan citra keraton sebagai salah satu aset budaya bangsa yang sangat berharga. Kondisi ini diharapkan tidak terulang kembali agar masyarakat Solo tetap merasakan kedamaian dan ketenteraman yang berkelanjutan.

Peringatan ini muncul sebagai respons terhadap potensi konflik kepemimpinan yang berulang di keraton, di mana klaim raja baru seringkali bertentangan dengan keberadaan putra mahkota yang sah. Hatta berharap para pewaris Keraton Surakarta dapat membicarakan masalah ini secara bijak dan arif, serta menemukan solusi terbaik. Tujuannya adalah untuk memastikan kelangsungan tradisi dan menghindari intervensi dari pihak luar yang tidak diinginkan.

Muhammad Hatta menegaskan bahwa musyawarah menjadi kunci utama dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul di Keraton Surakarta. Ia berharap agar semua pihak dapat bersikap legawa dan menghindari terulangnya dualisme kepemimpinan yang pernah terjadi sebelumnya. "Saling legawa, jangan sampai ada dualisme lagi seperti yang lalu. Jadi semua masalah dimusyawarahkan bersama. Keputusan tertinggi dalam bangsa ini musyawarah, ya," ujarnya saat ditemui di Magelang, Jumat.

Anggota DPR ini juga menyoroti potensi perpecahan serius jika muncul klaim raja baru sementara putra mahkota yang sah sudah ada. Menurutnya, masalah ini harus dibicarakan secara bijak dan arif oleh para pewaris Keraton Surakarta dengan kepala dingin. Tujuannya adalah untuk mencapai kesepakatan yang harmonis dan mencegah konflik internal yang berkepanjangan yang bisa merusak citra keraton.

Hatta menekankan pentingnya menjunjung tinggi asas kebersamaan di lingkungan keraton demi kepentingan bersama. Ia berharap masyarakat Solo dapat merasakan kedamaian dan ketenteraman tanpa adanya isu dualisme kepemimpinan yang mengganggu. "Sebagai warga Solo itu senang, adem ayem, tidak sampai terjadi dualisme. Saya kira itu. Apapun, itu kan aset bangsa," tambahnya, mengingatkan bahwa keraton adalah warisan berharga yang harus dijaga bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Hatta juga membandingkan kondisi Keraton Surakarta dengan Keraton Yogyakarta yang dinilainya sudah berhasil dalam hal suksesi kepemimpinan. Ia mengapresiasi transisi kepemimpinan di Keraton Yogyakarta yang berjalan dengan damai dan tanpa gejolak berarti. Hal ini dapat menjadi contoh positif yang patut ditiru bagi keraton lainnya di Indonesia, termasuk Surakarta.

Hatta mengingatkan Keraton Surakarta, yang memiliki sejarah lebih tua dan panjang, untuk tidak memberikan contoh yang kurang baik kepada masyarakat luas dan negara. Ia khawatir jika dualisme kepemimpinan terus berlanjut tanpa penyelesaian, hal itu dapat memicu intervensi serius dari pemerintah pusat. "Jangan sampai Solo yang lebih tua memberikan contoh yang kurang baik," tegasnya dengan nada prihatin.

Lebih lanjut, ia menambahkan, "Jangan sampai itu menjadi titik kulminasi negara, sehingga negara merasa Solo kok enggak bisa akur, akhirnya negara ikut-ikutan masuk ke dalam itu, ngatur-ngatur Solo, itu tidak kita harapkan." Peringatan ini menunjukkan kekhawatiran akan campur tangan negara jika masalah internal keraton tidak dapat diselesaikan secara mandiri dan harmonis. Oleh karena itu, sangat penting bagi pihak Keraton Surakarta untuk segera mencari solusi terbaik demi masa depan keraton.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi