Publik dibuat tercengang oleh pernyataan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang menyebut kayu gelondongan terbawa banjir di Sumatera Utara bukan akibat pembalakan liar, melainkan disebabkan oleh serangan "kumbang".
Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan karena volume dan kondisi kayu yang hanyut dianggap janggal.
Alif Hijrah (29), alumni Magister Matematika Institut Teknologi Bandung, angkat bicara dengan pendekatan matematis. Melalui penjelasan yang ia unggah di media sosial, Alif mengurai satu per satu keanehan fenomena kayu hanyut tersebut memakai prinsip massa jenis, bentuk fisik kayu, hingga estimasi jumlah pohon yang rusak.
Advertisement
Ia memulai dengan membahas massa jenis kayu dan air sebagai indikator awal.
"Benda itu mengapung kalau massa jenisnya lebih kecil dari air. Air itu sekitar 1.000 kg per meter kubik," ujarnya Alif dikutip dari akun Tiktok @aaliftowew Minggu (30/11/25).
Ia menjelaskan bahwa kayu yang sudah lama ditebang akan lebih ringan karena kadar airnya telah hilang, sehingga cenderung mengapung. Sementara kayu yang baru ditebang atau baru tumbang dalam banjir justru lebih berat dan biasanya tenggelam atau hanya sedikit mengambang.
Advertisement
Menurut perhitungannya, kayu lama umumnya hanya tercelup sekitar 40–90 persen, sedangkan kayu baru seharusnya hampir tenggelam seluruhnya.
"Kalau kita lihat di video, banyak kayu yang terapung penuh di permukaan. Ini lebih mirip kayu yang sudah lama ditebang, bukan baru tumbang,” jelas Alif.
Ia juga menyoroti keseragaman bentuk kayu yang hanyut. Menurutnya, hutan alami memiliki keragaman jenis dan bentuk pohon, termasuk adanya ranting, dahan, dan kulit kayu. “Yang kita lihat itu potongannya rapi, bentuknya seragam, bersih tanpa dahan, bahkan kulitnya sudah terkelupas. Ini ciri kayu hasil tebang, bukan dari hutan alami yang tumbang mendadak,” tuturnya.
Advertisement
Selanjutnya, Alif mencoba menghitung volume kayu hanyut berdasarkan laporan yang menyebut jumlahnya mencapai ribuan batang. Ia memakai asumsi 3.000 batang kayu dengan diameter rata-rata 70 cm dan panjang 4 meter.
"Satu batang kayu volumenya sekitar 1,54 meter kubik," jelasnya Alif.
Dari perkalian tersebut, total volume kayu mencapai 4.620 meter kubik. Ia kemudian membandingkannya dengan kondisi tipe hutan di Sumatera yang mayoritas berupa hutan sekunder dengan kepadatan sekitar 80–200 pohon per hektare. Jika 4.620 meter kubik kayu hanyut berasal dari hutan yang tumbang alami, maka luas hutan yang rusak diperkirakan mencapai 57,7–231 hektare.
"Kalau benar ini akibat longsor atau banjir alami, berarti ada area hutan seluas 80 lapangan sepak bola yang hilang sekaligus. Pertanyaannya: apakah ada longsor sebesar itu?” ujarnya Alif.
Advertisement
Alif menilai perhitungan matematis ini menunjukkan bahwa klaim “kayu hanyut akibat kumbang” tidak konsisten dengan data fisik yang terlihat.
Berdasarkan massa jenis, bentuk potongan kayu, hingga volume totalnya, indikasi bahwa kayu tersebut merupakan hasil aktivitas penebangan sangat kuat.
Ia menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa analisis seperti ini penting agar publik tidak mudah menerima klaim tanpa dasar kuat.
"Data dan sains itu terang benderang. Tinggal kita mau lihat atau tidak," katanya Alif.
Reporter Magang: Ahmad Subayu