Yayasan Pesantren Islam Al Azhar dan Muslims for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC) baru-baru ini meluncurkan sinergi program wakaf energi dan sedekah energi. Inisiatif ini bertujuan memperkuat aksi iklim melalui percepatan transisi energi nasional dengan pendekatan berbasis ekoteologi.
Peluncuran resmi program ini berlangsung dalam acara "Nyala Ramadhan" di Masjid Raya Al Azhar Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Sinergi ini merupakan upaya strategis untuk mendorong partisipasi publik dalam mencapai target 100 gigawatt energi terbarukan di Indonesia.
Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menyambut baik inisiatif ini, menekankan pentingnya menguatkan peran publik dan rumah ibadah. Program ini mengubah sinar matahari menjadi energi bersih untuk menghidupkan masjid serta fasilitas sosial secara berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Wakaf energi ini dipandang sebagai aset produktif yang hasilnya dapat mendukung dakwah pendidikan serta layanan sosial secara berkelanjutan. Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menggarisbawahi pentingnya program ini.
Beliau mengingatkan pada teladan sahabat Nabi SAW, Utsman bin Affan, yang mewakafkan sumur dan kebun kurma. Kini, wakaf energi menjadi ikhtiar umat untuk mencapai kedaulatan energi yang bersih dan berkelanjutan.
Integrasi program filantropi Islam ini, antara wakaf energi dari YPI Al Azhar dan sedekah energi dari MOSAIC, berupaya menciptakan model pembiayaan hijau berbasis umat. Model ini diharapkan memiliki skala yang jauh lebih besar, lebih transparan, serta mampu mereplikasi solarisasi secara masif di seluruh Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Pendekatan ekoteologi menjadi landasan utama sinergi ini, sebuah konsep yang memadukan ajaran agama dengan tanggung jawab pelestarian alam. Peluncuran inisiatif ini menjadi simbol kebangkitan gerakan umat untuk lingkungan di tengah krisis iklim global.
Masjid kini didorong untuk mengambil peran strategis, tidak hanya sebagai sentra ibadah, melainkan juga sebagai pusat edukasi, inspirasi, dan aksi nyata dalam penggunaan energi bersih. Peran ini krusial dalam mengampanyekan pentingnya transisi energi.
Menurut Pengurus Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, Zahrudin Sulthani, pemanfaatan energi matahari sangat dianjurkan dalam Islam untuk kemanfaatan manusia. Ini adalah tantangan Al Quran kepada umat untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.
Advertisement
Oleh karena itu, upaya solarisasi masjid-masjid menjadi penting untuk menghemat energi listrik dan menunjukkan komitmen umat terhadap keberlanjutan lingkungan.
Advertisement
Direktur Pemberdayaan Zakat Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, menyoroti pentingnya kolaborasi dari berbagai pihak untuk mengampanyekan program ini. Beliau menekankan bahwa sedekah energi dapat menjadi pilihan baru bagi para muzaki, wakif, dan dermawan.
Sebelumnya, inisiatif Sedekah Energi dari MOSAIC berhasil menggerakkan lebih dari 21.000 donatur untuk mendanai solarisasi di enam lokasi masjid di Indonesia. Proyek-proyek tersebut telah menghasilkan daya sebesar 23.525 WP dari panel surya yang dikelola langsung oleh komunitas masjid setempat.
Yayasan Pesantren Islam Al Azhar (YPI Al Azhar) menyampaikan komitmennya untuk mengawal gerakan ini secara luas, memastikan pengelolaan dana umat secara transparan dan sesuai prinsip syariah. Tujuannya adalah memastikan dampak program terukur, berkelanjutan, dan memperluas model ini ke lebih banyak masjid serta lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan.
Advertisement
Masjid Nurul Iman di Kabupaten Aceh Tamiang, yang terdampak bencana banjir, akan menjadi lokasi proyek percontohan perdana dari sinergi kedua program ini. Masyarakat diundang untuk berpartisipasi dan mendukung inisiatif ini melalui www.wakafenergi.id, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk meluaskan manfaat energi bersih.
Sumber: AntaraNews