Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan pasca dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025. Bencana tersebut berdampak pada lebih dari 6.000 KK di wilayah tersebut, merusak ratusan rumah dan fasilitas umum.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas masyarakat berangsur kembali aktif, termasuk di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, yang sebelumnya banyak mengungsi. Kondisi ini membawa harapan baru bagi warga untuk menata kembali kehidupan mereka.
Perkembangan positif ini terjadi seiring membaiknya kondisi cuaca yang memungkinkan warga untuk kembali beraktivitas. Banyak pengungsi yang mulai meninggalkan lokasi penampungan untuk kembali ke rumah atau mencari tempat tinggal baru.
Advertisement
Advertisement
Pemulihan Aktivitas Masyarakat Pasca Bencana
Pengulu atau Kepala Desa Agusen, Ramadan, menjelaskan bahwa jumlah pengungsi yang masih mendiami lokasi penampungan di kompleks Balai Latihan Kerja Blangkejeren saat ini sebanyak 70 KK atau sekitar 200 orang. Angka ini menunjukkan penurunan drastis dari jumlah awal pengungsi pasca banjir pada 26 November 2025, yang mencapai 230 KK atau 691 jiwa.
Ramadan mengungkapkan bahwa para pengungsi yang mulai meninggalkan lokasi penampungan umumnya kini tinggal bersama keluarga. Sebagian lainnya memilih untuk menyewa rumah tinggal di lokasi yang baru dan lebih aman untuk memulai kembali kehidupan mereka.
Pengurangan jumlah pengungsi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang mulai membaik secara konsisten. Cuaca yang mendukung memungkinkan masyarakat untuk kembali menjalankan mata pencarian utama mereka yang sempat terhenti akibat bencana.
Advertisement
Warga Gayo Lues, yang mayoritas adalah petani, kini dapat kembali menggarap lahan kopi, kakao, tembakau, hingga kemiri. Mereka berupaya menyelamatkan harta benda yang tersisa dan mulai memanen hasil tanamannya, menandakan kembalinya roda perekonomian lokal.
Advertisement
Pemberdayaan dan Harapan di Lokasi Pengungsian
Meskipun jumlah pengungsi Gayo Lues berkurang, upaya pemberdayaan tetap berjalan bagi mereka yang masih berada di lokasi penampungan. Kaum ibu, misalnya, diberdayakan dengan terlibat aktif dalam proses penyiapan makanan di dapur umum.
Selain itu, terdapat inisiatif kerajinan anyaman tepas yang melibatkan para pengungsi. Hasil anyaman ini bahkan telah diubah menjadi gazebo atau pondok kecil yang menarik perhatian, menunjukkan kreativitas dan semangat juang masyarakat.
Ramadan menyebutkan bahwa satu gazebo telah selesai dibuat dan akan dipromosikan. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi pengungsi, memberikan mereka kemandirian ekonomi meskipun masih berada di tenda penampungan.
Advertisement
Dengan kondisi yang berangsur membaik dan berbagai upaya pemulihan yang dilakukan, Ramadan berharap masyarakat dapat segera pulih sepenuhnya. Apalagi, bulan suci Ramadhan akan segera tiba, sehingga warga bisa fokus beribadah tanpa beban pikiran yang terlalu berat akan kondisi pasca-bencana.
Sumber: AntaraNews