Aktivitas Gunung Semeru Meningkat: Guguran Lava Meluncur hingga 1 Kilometer

Gunung Semeru di Lumajang menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, dengan guguran lava meluncur sejauh 1 kilometer ke Besuk Kobokan, dan status siaga Level III tetap diberlakukan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Aktivitas Gunung Semeru Meningkat: Guguran Lava Meluncur hingga 1 Kilometer
Gunung Semeru di Lumajang menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, dengan guguran lava meluncur sejauh 1 kilometer ke Besuk Kobokan, dan status siaga Level III tetap diberlakukan. (AntaraNews)

Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali memperlihatkan peningkatan aktivitas vulkaniknya. Pada periode pengamatan 24 jam hari Jumat (5/12), guguran lava teramati meluncur hingga jarak 1 kilometer. Fenomena ini terjadi ke arah Besuk Kobokan, sebuah area yang sering menjadi jalur aliran material vulkanik dari puncak gunung.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, mengonfirmasi kejadian tersebut dalam laporan tertulisnya. Ia menjelaskan bahwa guguran lava teramati sebanyak lima kali, dengan jarak luncur bervariasi antara 800 hingga 1.000 meter. Peningkatan aktivitas ini menunjukkan bahwa Gunung Semeru masih dalam fase aktif dan perlu diwaspadai oleh masyarakat sekitar.

Selain guguran lava, aktivitas letusan juga terpantau secara visual dengan intensitas cukup tinggi. Asap letusan mencapai ketinggian 500 hingga 1.000 meter, berwarna putih tebal hingga kelabu, dan condong ke arah timur laut serta utara. Kondisi ini menegaskan bahwa dinamika vulkanik di Gunung Semeru terus berlangsung dan memerlukan pemantauan ketat dari pihak berwenang.

Aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada periode pengamatan 24 jam, khususnya pada Jumat (5/12), didominasi oleh guguran lava yang signifikan. Mukdas Sofian, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, menyatakan, "Guguran lava teramati sebanyak lima kali dengan jarak luncur kurang lebih 800 hingga 1.000 meter ke arah curah Kobokan." Ini menunjukkan bahwa material pijar dari kawah terus bergerak menuruni lereng gunung, khususnya menuju Besuk Kobokan.

Selain guguran lava, aktivitas letusan juga menjadi perhatian utama. Secara visual, letusan tercatat sebanyak 27 kali, menghasilkan kolom asap yang membumbung tinggi. Ketinggian asap letusan berkisar antara 500 hingga 1.000 meter dengan warna putih tebal hingga kelabu, serta condong ke arah timur laut dan utara. Kondisi ini mengindikasikan adanya pelepasan energi dari dalam kawah Gunung Semeru.

Peningkatan intensitas letusan dan guguran lava ini menjadi indikator penting bagi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Pemantauan visual dan instrumental terus dilakukan untuk menganalisis pola aktivitas Semeru. Data ini sangat krusial untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan pihak terkait.

Aktivitas kegempaan Gunung Semeru juga menunjukkan pola yang signifikan selama periode pengamatan. Tercatat 123 kali letusan dengan amplitudo 10-22 mm dan durasi 50-170 detik. Gempa guguran terjadi 18 kali dengan amplitudo 2-7 mm dan durasi 28-70 detik, menunjukkan pergerakan material di dalam tubuh gunung.

Selain itu, gempa embusan tercatat sebanyak 19 kali dengan amplitudo 2-9 mm dan durasi 30-91 detik. Tremor harmonik juga terekam 7 kali dengan amplitudo 1-20 mm dan durasi 112-367 detik, menandakan adanya pergerakan fluida magma. Gempa tektonik jauh juga terdeteksi satu kali dengan amplitudo 17 mm selama 58 detik.

Fenomena lain yang tercatat adalah getaran banjir atau lahar hujan, yang terekam satu kali dengan amplitudo 35 mm selama 6.360 detik, atau hampir dua jam. Ini menunjukkan potensi bahaya sekunder berupa lahar dingin jika terjadi hujan lebat di sekitar puncak gunung. Data kegempaan ini menjadi dasar penting dalam analisis status aktivitas Gunung Semeru.

Mengingat peningkatan aktivitas vulkanik, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting untuk keselamatan masyarakat. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak gunung atau pusat erupsi.

Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena wilayah tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak. Kewaspadaan tinggi sangat diperlukan di area-area rawan ini.

PVMBG juga melarang aktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungai dari Besuk Kobokan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi