AJI Dorong Pedoman Menulis Berita Bunuh Diri Bagi Wartawan

Kamis, 14 Maret 2019 20:11 Reporter : Mardani
AJI Dorong Pedoman Menulis Berita Bunuh Diri Bagi Wartawan AJI dorong adanya pedoman wartawan menulis berita bunuh diri. ©Liputan6.com/Ady Anugrahadi

Merdeka.com - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menilai pentingnya pedoman penulisan berita bunuh diri. Selama ini wartawan mengaitkan bunuh diri ke persoalan kriminalitas bukan masalah kesehatan jiwa.

"Kita melupakan berita bunuh diri memberikan dampak yang panjang kepada orang yang mempunyai kesehatan jiwa," kata Ketua Bidang Gender, Anak dan Kelompok Marjinal, Dian Yuliastuti di Sekretariat AJI Jakarta, Jalan Kalibata Timur IVG No 10, Jakarta Selatan, Kamis (14/3).

Dian mengatakan, AJI tergerak menyusun panduan penulisan berita bunuh diri. Saat ini prosesnya sedang dalam tahap penyempurnaan.

Dia menerangkan, penyebab belum rampungnya pedoman karena beberapa poin aturan penulisan masih diperdebatkan. Contohnya penulisan lokasi bunuh diri.

"Ada yang berpendapat lokasi menjadi modus atau sarana bahwa nanti ada pemikiran sama di mall ini atau di rel bisa jadi tempat bunuh diri," ucap dia.

Sementara itu, Suicidolog dan Pendiri Komunitas Into The Light, Benny Prawira Siauw menyambut baik hadirnya pedoman wartawan dalam menulis berita bunuh diri.

Dia menjelaskan hasi riset di belahan dunia menunjukkan pemberitaan bunuh diri mempengaruhi angka bunuh diri. Pemberitaan kasus bunuh dirii justru menginspirasi orang melakukan hal yang sama.

Karena itu, World Health Organization atau WHO menganjurkan media menyediakan panduan penulisan bunuh diri agar berita bunuh diri mengedukasi masyarakat. Seperti opini dari ahli yang sesuai dengan berita tersebut.

Kemudian, wartawan tidak perlu menulis asumsi penyebab tunggal, dan tidak menulis lokasi terlalu detail, serta metode juga tak disebutkan.

"Berita tentang metode bunuh diri yang bikin orang jadi memiliki pengetahuan untuk bunuh diri," ucap dia.

"Memberitakan beritakan saja, yang penting bagaimana mengemasnya. Kita berharap mengemas dengan cara edukatif, dihindari pengulangan berita satu kasus bunuh diri. Ada semacam pencegahan pembaca, pendengar atau pemirsa mencari pertolongan kepada pembaca," tandas dia.

Reporter: Ady Anugrahadi [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Bunuh Diri
  2. Wartawan
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini