4 Hal Ini Disorot BGN Usai Ratusan Siswa di Sragen Keracunan MBG

Badan Gizi Nasional mengklaim sudah melakukan upaya mitigasi agar tak terjadi lagi kasus keracunan karena MBG.

Lizsa Egeham
Oleh Lizsa Egeham - Reporter
4 Hal Ini Disorot BGN Usai Ratusan Siswa di Sragen Keracunan MBG
4 Hal Ini Disorot BGN Usai Ratusan Siswa di Sragen Keracunan MBG (Merdeka.com)

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana angkat bicara soal 196 orang yang terdiri dari orang tua, guru, hingga siswa SDN 4 Gemolong dan SMPN 3 Gemolong, Sragen, Jawa Tengah mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dadan mengatakan Badan Gizi Nasional sudah melakukan upaya mitigasi agar tak terjadi lagi kasus keracunan karena MBG. Salah satunya meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memilih bahan baku yang baik, memperpendek waktu masak dan penyiapan makanan.

"Ya, pokoknya kami berusaha sebaik mungkin agar tidak ada kejadian lagi dan kami tingkatkan SOP-nya termasuk mulai memilih bahan baku yang baik, memendekkan waktu masak, memendekkan waktu penyiapan," kata Dadan usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (12/8).

Selain itu, dia telah meminta agar waktu pengiriman makanan ke sekolah juga diperpendek. Hal ini agar makanan tersebut tidak terlalu lama disimpan di sekolah.

"Termasuk juga di dalam pengiriman ke sekolah dan makanan tidak terlalu lama disimpan di sekolah agar waktunya lebih pendek dari 4 jam," jelas Dadan.

Di sisi lain, Dadan menjelaskan bahwa jumlah SPPG untuk MBG saat ini mencapai 5.103 orang yang berada di 38 provinsi, 502 kabupaten, dan 4.770 kecamatan. Sementara itu, jumlah penerima manfaat MBG sudah lebih dari 15 juta orang, mulai dari anak-anak hingga ibu hamil.

"Dan yang paling penting sebetulnya ada hal yang menonjol di mana 5.103 SPPG yang sudah terdaftar dalam sistem kami dan juga 14.000 SPPG yang sekarang sedang dalam proses persiapan. Itu seluruhnya merupakan kemitraan dengan berbagai pihak, ya termasuk dari TNI, Angkatan Darat, Kepolisian, BIN, NU, Muhammadiyah, Kadin, APJI, dan lain-lain," tutur Dadan.

Rekomendasi