33 Ribu Cuitan #KluivertOut Menggema, Warganet Rindukan Shin Tae-yong Pasca Kekalahan Timnas Indonesia
Kekalahan Timnas Indonesia dari Irak memicu seruan #KluivertOut di media sosial, membuat warganet merindukan Shin Tae-yong dan mempertanyakan keputusan PSSI.
Kegagalan Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia untuk melaju ke Piala Dunia 2026 telah memicu gelombang kekecewaan di kalangan warganet. Setelah takluk 0-1 dari Irak dalam pertandingan Grup B putaran keempat kualifikasi zona Asia, media sosial diramaikan dengan seruan #KluivertOut. Tagar ini merujuk pada Patrick Kluivert, pelatih kepala Timnas Indonesia saat ini, yang baru menjabat sejak awal 2025.
Bersamaan dengan seruan tersebut, kerinduan terhadap sosok Shin Tae-yong, pelatih sebelumnya, juga sangat terasa. Nama pelatih asal Korea Selatan tersebut bahkan bergema di stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi, seusai kekalahan timnas dari Irak. Situasi ini mencerminkan harapan besar publik terhadap performa timnas yang kini dipertanyakan.
Data yang dihimpun dari media sosial X hingga Minggu, 12 Oktober 2024, pukul 08.55 WIB, menunjukkan lebih dari 33 ribu cuitan menyerukan #KluivertOut. Angka ini jauh melampaui 11 ribu cuitan tentang blunder dan sekitar dua ribu unggahan yang menyebut nama Shin Tae-yong, mengindikasikan kuatnya sentimen publik terhadap perubahan kepelatihan ini.
Mengapa Seruan #KluivertOut Menguat?
Kekecewaan publik terhadap performa Timnas Indonesia di bawah asuhan Patrick Kluivert semakin memuncak setelah serangkaian hasil minor. Kekalahan dari Irak menjadi pemicu utama, mengingat ekspektasi tinggi yang menyertai kedatangan pelatih asal Belanda tersebut. Warganet dengan cepat membandingkan hasil yang dicapai Kluivert dengan rekam jejak Shin Tae-yong.
Di bawah arahan Kluivert, Timnas Indonesia menelan kekalahan telak 1-5 dari Australia, padahal sebelumnya dengan Shin Tae-yong, Indonesia mampu menahan imbang Australia 0-0. Perbedaan performa ini menjadi sorotan tajam. Selain itu, kekalahan 0-6 dari Jepang juga memperburuk citra, mengingat di era Shin Tae-yong, Indonesia hanya kalah 0-4 dari lawan yang sama.
Puncak kekecewaan terjadi saat Timnas kalah 2-3 dari Arab Saudi pada 9 Oktober 2025 di putaran keempat kualifikasi. Pada pertemuan sebelumnya di putaran ketiga, di bawah Shin Tae-yong, Indonesia berhasil menahan imbang Arab Saudi 1-1 di kandang lawan dan menang 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Perbandingan hasil ini secara langsung memicu seruan #KluivertOut dan kerinduan akan Shin Tae-yong.
Kilau Shin Tae-yong dan Harapan Piala Dunia
Keputusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mengakhiri kerja sama dengan Shin Tae-yong pada Januari 2025 lalu memang sempat mengundang tanda tanya besar. Padahal, selama kepemimpinan pelatih asal Korea Selatan itu, peringkat FIFA Indonesia naik signifikan dari 173 menjadi 127 dunia. Penampilan Timnas di bawah Shin Tae-yong menghadirkan harapan baru bagi sepak bola Indonesia.
Shin Tae-yong bahkan berhasil membawa Timnas memulai kualifikasi Piala Dunia 2026 dari putaran pertama dan lolos ke putaran ketiga. Timnas mampu bertahan di posisi kedua Grup F di bawah Irak, dan kemudian berada di Grup C bersama Jepang, Australia, Arab Saudi, China, dan Bahrain di putaran ketiga. Dari enam pertandingan, Indonesia mengumpulkan enam poin dengan tiga seri, dua kalah, dan satu menang.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, pada 6 Januari 2025, mengumumkan berakhirnya kontrak Shin Tae-yong dengan target lolos Piala Dunia 2026 yang diemban oleh pelatih baru. Erick Thohir sempat mengungkapkan bahwa ia mengatur wawancara untuk tiga pelatih pengganti pada 25 Desember 2024, dan hanya satu yang memenuhi panggilan. Sosok yang memenuhi panggilan tersebut diyakini publik adalah Patrick Kluivert, yang resmi diperkenalkan pada 12 Januari 2025.
Langkah PSSI Setelah Kegagalan Lolos Piala Dunia
Penggantian pelatih Timnas di tengah putaran ketiga kualifikasi zona Asia, yang masih menyisakan empat pertandingan, menimbulkan ekspektasi sekaligus pertanyaan besar. Publik memahami bahwa di era Shin Tae-yong, yang dibutuhkan adalah proses menuju timnas yang lebih baik. Namun, dengan pergantian pelatih, fokus beralih dari proses menjadi hasil, yaitu lolos ke Piala Dunia 2026.
PSSI kini dihadapkan pada dua pilihan krusial setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 dan seruan #KluivertOut yang masif. Pilihan pertama adalah mengikuti desakan publik untuk memecat Patrick Kluivert. Jika ini yang dipilih, PSSI perlu mencari pelatih dengan rekam jejak yang terbukti baik di kancah internasional, bahkan melebihi Shin Tae-yong, bukan hanya di tingkat klub atau lokal.
Pilihan kedua adalah tetap mempertahankan Kluivert, namun dengan catatan harus memberikan hasil positif di Piala Asia 2027 mendatang. Ekspektasi publik terhadap Timnas tetap sangat tinggi, mengingat rekam jejak Shin Tae-yong yang telah menorehkan harapan. Selain itu, PSSI sendiri pernah menggembar-gemborkan tim kepelatihan Kluivert sebagai “tim kepelatihan terbaik yang pernah kita miliki.”
Sumber: AntaraNews