1.200 Penari Gandrung minta ampun di Pantai Boom Banyuwangi
Merdeka.com - Sekitar 1.200 penari kembali meramaikan Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Festival yang digelar Sabtu sore (29/11) ini, yang kali ketiga digelar secara berturut-turut, terhitung sejak 2012 hingga 2014 ini, sebagai rangkaian HUT Banyuwangi yang jatuh pada tanggal 18 Desember.
Tari Gandrung merupakan tarian khas kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu, yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya Tak benda tahun 2013 lalu, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah).
Ribuan penari itu akan menari bersama di pinggir pantai dengan latar belakang Selat Bali menjelang matahari terbenam atau sunset. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, Gandrung Sewu kali ini akan menyuguhkan tarian memukau dari ribuan penari dengan busana dominan merah," kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Yanuarto Bramuda.
Katanya, warna merah akan tampak lebih memancarkan kemilaunya tatkala terkena sinar matahari sore. Yuniarto juga menerangkan, Tari Gandrung Sewu memiliki tiga tema, yaitu Jejer, Maju atu Ngibing dan Seblang Subuh.
"Untuk tahun ini, kita mengangkat tema Seblang Subuh, yang artinya permohonan ampun kepada Tuhan. Tarian ini dikemas lebih lengkap dengan iringan musik yang rancak dengan sentuhan teatrikal," katanya lagi.
Sentuhan teatrikal akan makin dramatis saat adegan perebutan posisi sebagai gandrung, antara gandrung laki-laki dan gandrung perempuan, dimulai.
Fragmen ini berlangsung hingga subuh tiba. Saat subuh datang, tiba-tiba mereka yang sedang bertarung tersadar akan kesalahannya. Kedua belah pihak memohon ampun pada Yang Maha Kuasa.
Mereka menyadari bahwa menjadi gandrung adalah suratan tangannya, jadi harus dijalani, dan tak perlu diperebutkan.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, Festival Gandrung Sewu dan berbagai acara promosi wisata di daerahnya ini, adalah ikhtiar untuk memperpanjang siklus destinasi di Tanah Osing.
Sehingga, kata Anas, Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan satu atau dua destinasi saja seperti Pantai Pulau Merah, Kawah Ijen, atau Pantai Plengkung saja yang selama ini sudah cukup tersohor.
"Dengan memperpanjang siklus destinasi, otomatis lama kunjungan wisatawan bertambah. Setelah menikmati event, misalnya, bisa ke Kawah Ijen, Pulau Tabuhan, belanja kuliner, dan sebagainya," ucap Anas.
"Otomatis belanja wisatawan lebih besar. Pariwisata event juga memberi banyak opsi ke wisatawan untuk memilih jadwal agenda kunjungan ke Banyuwangi," tandas dia. (mdk/mtf)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya