12 Warga Tasik Kota Dalam Pemantauan Covid-19
Merdeka.com - Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman menyebut bahwa hingga saat ini terdapat 12 orang dalam pemantauan (ODP) terkait virus corona. Jumlah tersebut sendiri merupakan akumulasi sejak awal mewabahnya corona di Indonesia.
“Saat ini hanya tinggal tujuh orang yang masuk kategori OPD, sementara lima lainnya sudah dipastikan negatif. Belum ada PDP (pasien dalam pengawasan) hingga saat ini," ujarnya, Senin (16/3).
Walau begitu, Budi menyebut bahwa Pemerintah Kota Tasikmalaya telah mengeluarkan himbauan kepada pengelola pusat keramaian seperti tempat hiburan dan belanja agar menggunakan standar maksimal untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.
Ia mengatakan bahwa pengelola diimbau menyediakan pembersih tangan dan selalu menjaga kebersihan lingkungannya."Kita juga akan lihat tempat hiburan apakah melakukan standar maksimal atau tidak. Kita juga mengimbau masyarakat sadar untuk pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Untuk sementara, masyarakat disarankan untuk meminimalisir tempat keramaian,” katanya.
RSUD dr Soekardjo Siapkan Dua Ruang Isolasi
Untuk menangani pasien asal Kota Tasikmalaya yang diduga terjangkit virus corona, RSUD dr Soekardjo kini telah menyiapkan dua ruang isolasi di bagian depan rumah sakit. Wakil Direktur RSUD dr Soekardjo, Deni Diyana mengatakan bahwa pasien yang memiliki gejala demam, batuk, dan sesak napas, akan menjalani perawatan sementara di ruang isolasi tersebut.
Pasien yang memiliki gejala juga akan diperiksa riwayatnya, pernah pergi ke daerah rawan atau interaksi dengan orang dalam pemantauan (ODP) virus korona atau tidak. Adapun penentuan positif atau tidak, kami tidak memiliki kapasitas untuk menentukannya. RSUD dr Soekardjo hanya menerima pasien transit untuk nantinya dirujuk ke rumah sakit rujukan, ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, RSUD dr Soekardjo juga telah menyiagakan tim gerak cepat untuk melakukan penanganan kepada pasien yang diduga terjangkit virus korona. Tim tersebut dipimpin langsung dokter spesialis penyakit dalam dengan 12 orang perawat.
Untuk penanganan pasien tersebut, Deni mengaku bahwa pihaknya juga telah menyiapkan alat pelindung diri (APD) untuk para petugas medis. Saat ini terdapat 62 set APD yang tersedia. Dalam keadaan sekarang masih cukup. Bisa sampai 10 hari dengan tiga shift jika ada satu pasien. Tapi kita terus koordinasi untuk cadangan," katanya.
Walau ruang isolasi di RSUD dr Soekardjo sudah dapat digunakan, namun Deni menyebut bahwa pihaknya tak memiliki persediaan disinfektan, padahal cairan itu penting untuk meminimalisir penyebaran virus.
Ia menjelaskan bahwa penyemprotan disinfektan perlu dilakukan secara berkala untuk membersihkan ruangan isolasi. Bahkan, lanjut dia, di seluruh tempat lain di rumah sakit juga perlu disemprot untuk mengantisipasi penyebaran.
"Idealnya memang harus ada beberapa galon, jadi bukan hanya untuk semprot tuang isolasi tapi seluruh kawasan rumah sakit. Kalau keadaan luar biasa, harus disemprot setiap hari idealnya. Tapi kita ini tidak punya karena kesulitan mencari di pasaran, sebab saat ini terdapat ketidakseimbangan antara permintaan dan persediaan, tutupnya.
Ruang Isolasi Corona di Garut Dinilai Tidak Layak
RSUD dr Slamet Garut menjadi salah satu rumah sakit rujukan pasien yang terkena virus corona (Covid-19) untuk wilayah Priangan Timur Jawa Barat. Meski menjadi rumah sakit rujukan, petugas menyebut bahwa RSUD dr Slamet tidak layak dan dinilai memaksakan diri dengan kondisinya saat ini.
Salah seorang dokter yang namanya enggan disebutkan, menyebut bahwa ruang isolasi RSUD dr Slamet Garut kondisinya pengab, padahal seharusnya ruang isolasi bertekanan positif.
Ini karena ruang isolasi corona disini (RSUD dr Slamet) hanyalah ruang tanpa ventilasi. Hal ini menjadikan petugas hipoxia (kurangnya pasokan oksigen di sel dan jaringan tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya). Padahal ruang isolasi ini gedung baru untuk IGD, ujarnya, Senin (16/3).
Selain itu, lanjut dia, ruang isolasi corona di Garut pun tidak dilengkapi dengan ventilator yang siap digunakan saat ada pasien yang harus diisolasi. Saat pasien datang, biasanya petugas harus terlebih dahulu mengambil ventilator dari ruang ICU.
Sebetulnya, untuk Garut ini dari A sampai Z-nya kacau. Mulai penjemputan pasien. Contoh yang terjadi kemarin malam, yang jemput tunjuk-tunjukan antara rumah sakit yang merujuk dengan Dinas Kesehatan dan pihak sini (RSUD dr Slamet), katanya.
Padahal, ungkapnya, yang seharusnya yang bertanggungjawab adalah Dinas Kesehatan, namun ternyata Dinas Kesehatan tidak punya APD (alat pelindung diri).
Jadinya Dinas Kesehatan minta ke RSU. Mereka minta dua. Tapi mereka tidak langsung menjemput, namun ke posko dulu terusbalik lagi ke RSU dan minta 1 APD. Jadi keterlambatan pasien tiba di RSUD dr Slamet sekitar 2 jam padahal lokasi rumah sakit yang merujuk dekat, ungkapnya.
Saat pasien berada didalam ruang isolasi, ia menyebut bahwa tidak ada monitor external apalagi CCTV untuk memantau kondisi pasien di dalam. Proses pemantauan harus dilakukan secara langsung dari dalam ruang yang tidak berventilasi itu.
Saat pasien meninggal dunia usai diintubasi 45 menit dalam pengawasan, pada saat pemulasaraan juga tidak sesuai dengan standar pasien yang harus dikarantina. Tapi anehnya, tim medis yang menangani pasien dirumahkan sampai ada hasil lab, katanya.
Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman menyebut bahwa ruang isolasi pasien corona dinilainya sangat layak. Namun ia tidak menampik bahwa ventilasinya kurang dan akan segera melakukan perbaikan atas hal tersebut.
Inilah yang harus diperbaiki. Aliran udaranya harus diperbaiki. Mudah-mudahan bisa segera selesai. Jadi bukan tidak layak, ada yang harus diperbaiki, ini sudah layak. Saat penanganan pasien kesatu kedua kita tidak ada masalah, pada saat yang kemarin ada kesulitan dari tenaga medis, kata Wabup.
Wabup mengaku bahwa pihaknya akan lebih melengkapi kebutuhan ruang isolasi di RSUD dr Slamet Garut, termasuk untuk monitor external pasien corona seperti CCTV. Awalnya kita kan memastikan kebutuhannya ini dari tim medis, mereka menyatakan sesuai, ternyata ada yang kurang. Jadi akan kita coba lengkapi, akunya.
Terkait pemulasaraan jenazah yang tidak sesuai standar pasien karantina, Wabup berkilah bahwa tim medis meyakini bahwa pasien tersebut negatif corona meski hasil Litbangkes Kemenkes belum mengeluarkan hasilnya.
Tim medis menyebut tidak ada kontak dengan penderita Covid-19. Dari mana kita yakin itu corona kalau tidak ada kontak sehingga tidak harus (pemulasaraan sesuai standar pasien karantina), kecuali ada kontak, tutupnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya