Bank Syariah Indonesia (BSI) akan melakukan right issue dalam waktu dekat. Nantinya porsi pemegang sahamnya akan mengalami perubahan, di mana saham bank syariah berkode saham BRIS itu dipegang oleh Mandiri, BNI, dan BRI. Ditambah dengan 1 lembar saham milik pemerintah yang disebut sebagai saham merah putih.
Asisten Deputi Bidang Jasa Keuangan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Khoerur Roziqin memastikan prosesnya sudah dalam tahap akhir. Dia juga menjelaskan kalau Bank Mandiri sebagai pemegang saham terbesar di BSI masih akan tetap mempertahankan porsi terbesarnya.
Sementara, pada right issue kali ini, porsi saham BNI dan BRI disebut akan terdelusi. Meski, dia tak mengungkap angka pasti delusi kepemilikan saham dari keduanya.
"Yang untuk program right issue ini, itu kan dari Mandiri akan mempertahankan kepemilikannya, kemudian dari BNI terdelusi dikit, BRI terdelusi," kata dia saat ditemui di Kementerian BUMN, Kamis (15/12).
Salah satu alasan Mandiri mempertahankan porsi saham karena adanya suntikan dana atau chip-in dana sekitar Rp 200 miliar. "Kalau BRI terdelusi tapi tetap mempertahankan diatas 15 persen lebih. Gak kurang dari 15 persen," ujar dia.
Menurut catatan, Bank Mandiri memegang porsi saham mayoritas dengan 50,83 persen. Saham BSI saat ini juga dimiliki oleh BNI sebesar 24,85 persen, BRI sebesar 17,25 persen, serta pemegang saham lainnya dan publik sebesar 7,07 persen. Pemerintah, terhitung sejak Mei 2022, telah menempatkan satu lembar saham merah putih di BSI.
Roziqin menuturkan kalau delusi saham yang terjadi di BNI dan BRI karena meningkatkan porsi saham publik. Mengacu pada data sebelumnya, porsi saham publik ada sebesar 7,07 persen. Dia juga enggan berbicara banyak soal kabar adanya investor strategis yang bakal masuk pada right issue kali ini. Dia menekankan aksi korporasi ini akan meningkatkan porsi kepemilikan publik.
"Masuknya tapi dari ini, dari market itu ya. Bukan investor strategis. Kan sekarang market itu ada berapa, ada 7 koma sekian kan floatingnya dari market itu ya. Kan nanti mau dinaikkan diatas 7 lah misal gitu ya, menjadi 8 atau berapa. Nah itu otomatis ada yang terdelusi, nah terdelusinya dari situ," pungkas Roziqin.
Reporter: Arief Rahman H.
Sumber: Liputan6.com