Sejarah perebutan beberapa daerah Kesultanan Aceh oleh Belanda
Merdeka.com - Pernahkah kamu mendengar tentang Perang Aceh? Perang Aceh ini terjadi di Aceh pada tahun 1873 sampai 1912. Belanda sangat sering melakukan interupsi kepada pihak Aceh karena mereka sangat ingin untuk menguasai wilayah Aceh itu. Namun, mereka terbatas sekali gerakannya karena dibatasi oleh traktat London. Di sisi lain, mereka juga punya keuntungan dari sisi geografis politis karena Inggris sudah menyerahkan wilayah Sibolga dan Natal pada pihak mereka. Saat itu, mereka sudah mulai melakukan rencana-rencana mereka seperti politik adu domba. Belanda juga mulai bergerak di wilayah perairan Aceh dan juga selat Malaka.
Belanda juga mengusir bajak laut yang berkeliaran di perairan Aceh dan Selat Malaka. Untuk itu, mereka punya alasan untuk bertempat tinggal di Baros dan Singkel. Gerakan untuk bisa merebut wilayah Aceh terus dilakukan oleh Belanda. Di tanggal 1 Februari 1858, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan Siak dan Sultan Ismail.
Perjanjian inilah yang kita kenal dengan nama Traktat Siak. Traktat ini memiliki isi seperti Siak harus mengakui kedaulatan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Timur. Artinya, daerah-daerah yang ada di bawah pengaruh Siak seperti Deli, Asahan, Kampar dan Indragiri ada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Padahal sebenarnya, wilayah-wilayah itu ada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh dan tindakan itu sama sekali nggak diprotes oleh Kesultanan Aceh.
Nah, sekarang kamu sudah tahu tentang latar belakang terjadinya Perang Aceh ini. Pihak Indonesia mengalami banyak sekali penderitaan karena perang ini terjadi selama 39 tahun. Sikap patriotisme dan pantang menyerah yang ditunjukkan oleh para pahlawan kita tentunya patut untuk kita tiru. Materi ini menarik untuk dibaca kan? (mdk/iwe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya