Komunitas Motor Listrik (Kosmik) memilih menunggu, meski pemerintah sudah mengumumkan program subsidi kendaraan listrik dimulai pada 20 Maret mendatang.
Hendro Sutono, juru bicara Kosmik, mengatakan pihaknya bersikap "wait and see", sebab petunjuk pelaksanaan dan teknis program subsidi sepeda motor konversi belum jelas. Bahkan, proses perubahan legalitas motor konversi juga belum ada kejelasan di Korlantas Polri.
"Jika memang terwujud, sangat bagus, berarti hasil konversi rekan-rekan di komunitas dianggap legal untuk turun ke jalan. Juga dengan subsidi akan membuat biaya konversi menjadi lebih murah," kata Hendro pada Merdeka.com, kemarin.
Hendro mengakui tantangan program subsidi ini tidaklah mudah. Sebab itu perlu diperjelas beberapa hal: sasaran penerima subsidi, persyaratan penerima, pelaksanaan di lapangan, dan sebagainya. Jadi, lebih baik bila ditunggu aturan mainnya supaya lebih tepat.
Problemnya, sampai kapan program subsidi ini, sebab rencana pemberian subsidi ini bergulir sejak November/Desember 2022.
Dampaknya, sejak saat itu masyarakat menunda pembelian motor listrik.
Data dari rekan-rekan APM, diler, dan bengkel konversi, terjadi penurunan penjualan signifikan dalam kurun 3 bulan terakhir.
"Masyarakat menunda pembelian motor listrik, karena berharap dapat membeli dengan harga lebih murah. Pada awal tahun ini, kami mencatat terjadi beberapa kali penundaan pengumuman subsidi. Semula di awal tahun, geser ke Februari, lalu geser lagi ke Maret. Sekarang dijanjikan 20 Maret," jelasnya.
Advertisement
Penundaan Pembelian
Dampak penundaan pembelian ini, lanjut dia, menyebabkan kerugian yang tidak sedikit pada rekan-rekan APM, diler dan bengkel konversi. Mereka harus menanggung biaya-biaya, sementara tidak terjadi penjualan.
Namun, lanjut dia, motor listrik sendiri semakin populer di kalangannya. Ini berdasarkan perbincangan di Facebook Group Kosmik. Pada 2018, jumlah anggotanya mencapai 20.000 orang, tapi kini mendekati 60.000 orang.
"Ini menandakan animo masyarakat terhadap motor listrik meningkat dengan pesat. Di luar grup kami, juga mulai muncul komunitas-komunitas berdasarkan merek tertentu. Seperti Gesits Rider Indonesia (Grid), United T1800 Oowner, Smoot Tempur Indonesia, dan lain-lain. Juga muncul komunitas mobil listrik; Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi), Tesla Owner Club, Hyundai Electric Qwner Club, Wuling Air-ev Owner Club, dan lain-lain. Dari situ, kita melihat penerimaan masyarakat terhadap kendaraan listrik semakin baik," jelasnya.
Reporter magang: Vallerie Dominic