Ketika Pabrikan China DFSK dan Wuling Mulai Ekspor Mobil 'Made in Indonesia'

Jumat, 12 Juli 2019 19:33 Reporter : Syakur Usman
Ketika Pabrikan China DFSK dan Wuling Mulai Ekspor Mobil 'Made in Indonesia' Sokonindo Glory 580. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pabrikan otomotif China yang memiliki pabrik di Indonesia mulai ekspansi ke pasar ekspor pada tahun ini, meski pabriknya baru dibangun dua tahun lalu. Seperti DFSK yang memiliki pabrik di Cikande, Serang, Banten, danWuling di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

DFSK rupanya sudah mengekspor mobil SUV Glory 580 'made in Cikande' itu ke Bangladesh, Nepal, Hong Kong, dan Sri Lanka.

Permata Islam, General Manager Marketing PT Sokonindo Automobile (DFSK), mengatakan Glory 580 juga sedang dijajaki pelyuang ekspor ke Thailand dan Malaysia.

"Beberapa kali perwakilan dari Thailand dan Malaysia datang ke sini untuk penjajakan. Bahkan saking seriusnya, kami mempunyai divisi ekspor sendiri," ujar Permata saat media workshop dengan tema Bedah Konsumen SUV Indonesia di DFSK Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat (12/7).

Selain DFSK Glory 580, DFSK juga mengekspor mobil niaga ringan Super Cab ke Filipina dan China. Padahal Super Cab didesain dan produksi khusus untuk pasar Indonesia. Namun, ternyata juga diminati oleh pasar China dan Filipina.

"Visi DFSK di Indonesia adalah berakar (basis produksi) di Indonesia, berekspansi ke Asia Tenggara, dan seluruh dunia," ucap Permata.

Pabrik DFSK berada di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, yang dibangun dengan investasi US$ 150 juta. Pabrik baru ini memiliki kapasitas produksi maksimal 50 ribu unit per tahun. Saat ini pabrik DFSK Indonesia memproduksi DFSK Super Cab, DFSK Glory 580, dan DFSK Glory 560.

Fokus Ekspor Asia Tenggara

Sedangkan Wuling memulai ekspor model SUV di kuartal IV tahun ini. Namun, bukan merek Wuling, melainkan merek Chevrolet yang dijual Wuling ke pasar ekspor. Tepatnya Chevrolet Captiva yang diambil dari basis SUV Wuling Almaz.

2019 Merdeka.com

Hal ini bisa terjadi, karena Wuling Indonesia pada dasarnya dimiliki oleh General Motors (pemegang merek Chevrlet), bersama Shanghai Automotive International Corporation (SAIC) dan Guangxi Automoile Group (Wuling). Dalam jumlah saham, SAIC adalah pemegang saham terbesar, yaitu 50,1 persen. Sementara GM memiliki 44 persen dan Guangxi Automobile Group 5,9 persen.

"Kami sedang melakukan persiapan dengan sangat matang dan mulai ekspor pada kuartal IV tahun ini. Untuk ekspor, kami akan pakai merek Chevrolet. Tujuan ekspor pertama adalah Thailand dan kawasan Asia Tenggara umumnya," ujar Cindy Cay, Vice President Wuling Motors, kemarin.

Cai menjelaskan, spesifikasi dan fitur produk ekspor tentu disesuaikan dengan regulasi negara tujuan (Thailand). Untuk tahap pertama, jumlah produk yang diekspor ke Thailand mencapai ratusan unit.

Pabrik Wuling Cikarang diresnikan pada 11 Juli 2017 dengan luas mencapai 60 hektare. Dengan investasi US$ 700 juta termasuk pusat suku cadang, pabrik Wuling Cikarang berkapasitas produksi 120 ribu unit per tahun. Model yang diproduksinya adalah Wuling Confero dan Confero S, Cortez, dan Almaz.

Dari sisi industri, ekspor kedua pabrikan China itu sangat baik bagi industri otomotif Indonesia. Selain mendatangkan devisa, juga memperkuat daya saing industri otomotif nasional, serta meningkatkan skill dan teknologi manufakturing produk otomotif di Tanah Air. [sya]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini