Teka-teki Dendam Pelaku Penyerang Novel Baswedan

Senin, 6 Januari 2020 08:00 Reporter : Sania Mashabi
Teka-teki Dendam Pelaku Penyerang Novel Baswedan Ilustrasi pelaku penyerangan Novel Baswedan. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Berwajah merah padam, Rahmat Kadir Mahulette alias RM berteriak ke arah kamera jurnalis saat digiring anggota polisi di halaman Mabes Polri. "Tolong dicatat, saya tidak suka dengan Novel karena dia pengkhianat," ujar dia usai diperiksa atas kasus dugaan penyiraman air keras pada Novel Baswedan.

Polisi sudah mengamankan dua terduga pelaku atas kasus penyerangan kepada Novel. Selain RM, satu terduga pelaku diketahui bernama Ronny Bugis alias RB. Mereka ditangkap pada Jumat, 27 Desember 2019, sesuai surat perintah penangkapan.

Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Argo Yuwono, menyebut dua terduga pelaku merupakan anggota polisi aktif. RM dan RB berdomisili di Asrama Gegana Kelapa Dua, Cimanggis, Depok Jawa Barat.


RB terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Ucapan 'pengkhianat' dilontarkan RM memunculkan spekulasi motif penyerangan kepada Novel merupakan balas dendam. Kuasa hukum Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa, menilai tidak mungkin pelaku menyiram kliennya dengan motif dendam pribadi. Sebab, Novel dan pelaku tidak pernah bertemu atau berkaitan dalam hal apapun termasuk pekerjaan.

"Novel sendiri, dia tidak kenal dengan pelaku," kata Alghif pada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Argo menegaskan tak pernah menyebut motif dua polisi pelaku penyerangan Novel Baswedan karena dendam pribadi. Adapun motif penyerangan masih misterius dan didalami lebih lanjut. Kepolisian berjanji akan mengungkap kasus tersebut secara terang benderang sehingga untuk membuktikan pelaku untuk dibawa ke persidangan.

"Kita tidak pernah mengatakan ada dendam pribadi, kita belum pernah mengatakan itu dari kepolisian," kata Argo.

RB dan RM diketahui adalah anggota Polri aktif berpangkat Brigadir dalam pasukan Gegana Brimob. Adapun peran mereka dalam kasus ini, diduga RM mengendarai motor membonceng RB. Kemudian RB merupakan eksekutor penyiraman terhadap Novel.

Sedangkan Novel setelah lulus Akademi Polisi di 1998, bertugas di Bengkulu pada 1999 hingga 2005 dan pernah menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bengkulu berpangkat Komisaris.

Kemudian, Novel ditarik untuk bertugas di Mabes Polri. Baru pada 2007, Novel menjadi penyidik KPK dan menjadi pegawai tetap di 2014.

Kasus penyiraman Novel sudah melalui penyelidikan dan penyidikan yang panjang. Setidaknya ada tujuh kali olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan 37 saksi dan sudah beberapa kali juga ada pembentukan tim. Termasuk pembentukan tim Tim Pencari Fakta (TPF) oleh Mantan Kapolri Tito Karnavian.

Dugaan motif dendam juga pernah diungkapkan TPF beberapa waktu lalu. Juru Bicara TPF, Nur Kholis, mengungkapkan Novel terindikasi menggunakan wewenang secara berlebihan saat di KPK. Hal tersebut, kata dia, berpotensi memunculkan dendam.

Novel Baswedan ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Novel pun enggan berkomentar banyak soal dugaan yang dilontarkan TPF. Namun, saat muncul dugaan para pelaku menyiramnya dengan alasan dendam pribadi, sepupu Anies Baswedan ini merasa gusar.

"Saya seharusnya mengapresiasi kerja Polri, tetapi keterlaluan bila disebut bahwa penyerangan hanya sebagai dendam pribadi sendiri dan tidak terkait dengan hal lain, apakah itu tidak lucu dan aneh?" kata Novel pekan lalu.

Menurut Alghif, bisa saja memang pelaku membenci Novel. Tetapi, dia melanjutkan, tidak masuk akal jika kedua pelaku justru sampai rela mengorbankan jabatan dan keluarganya hanya untuk balas dendam semacam itu.

"Orang bisa saja benci terhadap Novel karena kerja-kerjanya dalam pemberantasan korupsi tapi tidak masuk akal dia sampai sedemikian mengorbankan jabatan, mengobarkan karir dan mengorbankan kebebasannya," ujar dia.

Novel Baswedan masih merasa heran dengan dua terduga pelaku penyerangan terhadap dirinya tiba-tiba menuduhnya sebagai pengkhianat. Padahal selama aktif sebagai anggota Polri, dirinya tak pernah mengenal maupun bertemu dengan dua polisi tersebut.

"Saya rasa, saya tidak mengenal yang bersangkutan. Dan saya rasa, saya enggak pernah ketemu sama dia (RM dan RB). Terus kalau kemudian, dia bilang saya pengkhianat," kata Novel.

1 dari 1 halaman

Tangani Kasus Besar

Alghif merasa selama di KPK Novel memang menangani berbagai kasus korupsi besar. Seperti e-KTP atau kasus lainnya yang berkaitan dengan Kepolisian. Karena itu, dia menduga ada upaya pengalihan pada penanganan kasus Novel. Sehingga dalang utama penyiraman tidak akan tertangkap.

"Dia (Novel) menduga ini semacam pengalihan bahwa kasus ini ingin dihentikan sampai di level orang yang melakukan penyiraman," ungkapnya.

Mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum ini menambahkan, kedua pelaku justru disuruh oleh Jenderal yang merasa Novel adalah seorang pengkhianat di Kepolisian. Kemudian, melimpahkan kesalahan ke pelaku penyiraman.

"Pelakunya mereka disuruh oleh Jenderal yang juga berkesimpulan bahwa Novel berkhianat karena mengusut banyak kasus di Kepolisian atau kasus-kasus korupsi yang lain," imbuhnya.

Sejauh ini Novel dikenal sebagai penyidik senior KPK dengan sederet kasus korupsi yang sudah terungkap. Kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) menjadi skandal lumayan disorot publik. Bahkan kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi juga sempat ditangani Novel.

Bukan hanya Akil, kasus mantan hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar juga terungkap Novel dan tim penyidik KPK. Kasus itu mengungkap adanya suap dari pengusaha impor daging, Basuki Hariman dan stafnya Ng Fenny.

Dalam perkembangannya, Novel dan tim mendapatkan buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik Basuki Hariman. Pengembangan dari temuan itu juga mencatat aliran duit kepada perwira polri.

Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai motif kasus penyiraman Novel harus di dalami lebih lanjut. Sebab, motif dendam pribadi ia anggap terlalu sederhana untuk melakukan penyiraman air keras pada Novel.

"Kalau melihat dia sebagai sosok anggota Polisi sangat naif sekali melakukan tindak kejahatan seperti itu," kata Bambang pada merdeka.com.

Keterkaitan pelaku dengan Novel juga harus di dalami. Karena Bambang menilai Novel tidak punya kedekatan pribadi dengan RB dan RM. "Jadi kalau itu disebut sebagai pengkhianat dalam konteks apa pengkhianat itu," dia mengungkapkan. [ang]

Baca juga:
Eksekutor Penyerangan Novel Baswedan Sudah Ditangkap, Apa Kabar Dewi Tanjung?
Novel Khawatir Penyerangnya Bebas, Polisi Bilang 'Biar Penyidik Bekerja'
Polisi Kirim Ponsel Penyerang Novel ke Puslabfor Mabes Polri
Novel Baswedan Sebut Alasan Dendam Pelaku Penyerangan Tidak Logis
Analisa Novel Baswedan Terhadap Kasus & Pelaku Penyerangannya
Eks Ketua KPK Duga Penyerangan Novel Berkaitan dengan Kasus Korupsi

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini