Saya ingin untungkan rakyat
Merdeka.com - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjadi salah satu calon presiden dalam pemilihan umum tahun depan. Dalam beberapa kesempatan dia menyatakan akan mengikuti konvensi pemilihan calon presiden atau wakil presiden di Partai Demokrat.
Secara blak-blakan Gita mengaku visinya adalah memperkaya kekuatan suplai komoditas untuk mengurangi gempuran impor barang dan jasa dari luar negeri. “Kalau kita begini terus konsumtif selama 10 tahun ke depan, ada kemungkinan kebutuhan kita untuk mengkonsumsi 10 sampai 20 tahun ke depan diisi oleh produk-produk tidak bisa diproduksi oleh kita sendiri,” ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com dan tabloid Prioritas di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin lalu.
Berikut penuturan Gita Wirjawan kepada Alwan Ridha Ramdani, Ardyan Mohamad Erlangga, juru foto Muhammad Lufhi Rahman, serta beberapa jurnalis dari Prioritas.
Wiranto dan Harry Tanoe sudah delarasi bakal maju pada pemilu 2014. Kapan publik bisa tahu Anda juga serius?
Saya mau nomor 99 oke, yang penting demokrasi harus dihormati. Dalam arti wadah untuk siapapun mampu atau paling mampu memberikan yang terbaik kepada masyarakat luas, itu demokrasi.
Siapapun menjadi pemimpin, cewek atau cowok, harus membungkus beberapa hal termasuk plurarisme, demokrasi, kesejahteraan untuk pemerataan. Bungkusan itu harus diproyeksikan ke komunitas internasional, Indonesia adalah bangsa semakin relevan ke depan dan itu kebanggaan harus diberikan kepada anak cucu kita.
Anda lebih sreg jadi RI1 atau RI2?
Saya sreg dengan apapun selama sistem ini dihormati dan membuahkan sosok pemimpin terbaik untuk rakyat.
Visi ekonomi akan Anda kedepankan?
Saya akan melakukan tugas saya semaksimal mungkin. Tugas saya adalah menjaga stabilitas harga. Saya mencoba mengintroduksi perekonomian Indonesia sekarang dan ke depan. Harapannya bisa membuahkan angin segar, ke depan Indonesia lebih oke.
Anda sudah siap mental menghadapi politisi?
Waktu bisa menilai.
Anda temasuk tokoh muda, apakah tokoh muda bisa mengusung aspirasi masyarakat?
Anda lebih tahu dari saya karena masih muda. Saya sih maksimal berupaya agar apapun saya lakukan bisa membuahkan hasil positif untuk rakyat.
Anda akan maju lewat Demokrat?
Lewat apapun yang memperkenankan saya.
Presiden SBY sudah merestui Anda maju dari Partai Demokrat?
Saya rasa dia merestui siapapun dan apapun selama itu sinkron dengan semangat demokrasi
Bagaimana Anda memaknai liberalisasi dan Anda dikenal melekat dengan itu?
Saya lekat dengan itu? Melarang ekspor bahan baku rotan, termasuk membatasi jumlah waralaba, itu globalisasi atau liberalisasi? Ayo kita diskusi akademis saja. Saya sih jelas, apapun saya lakukan ke depan harus membawa riil benefit ke rakyat.
Gagasannya?
Ke depan kita harus menggarisbawahi ukuran suplai, yaitu pasok. Jangan sampai kita tidak memproduksi untuk kepentingan konsumsi kita sendiri. Kalau pendekatannya Indonesia masuk koridor kental liberalisasi atau globalisasi, itu faktual. Tapi Indonesia harus mengambil sikap untuk memperkaya kekuatan ukuran suplai.
Untuk bisa bersaing, kita harus berparagdigma menjadi ekportir paling efisien di sekor pertanian dan manufaktur. Ini harus ditopang kekuatan dana. Sulit kita bersaing dengan kawan di Johor kalau di sana ke bank pinjam cuma bayar bunga 1,5 persen. Anda di sini (Indonesia) harus bayar 15 persen.
Di titik awal saja sudah kelihatan Anda ketinggalan 13,5 persen. Saya rasa itu hal-hal harus disikapi untuk kepentingan lebih kokoh dalam bungkusan liberalisme atau liberalisasi.
Kita sudah masuk ke situ, tapi kita harus mengkaji ulang dalam beberapa hal untuk memperkuat ukuran suplai. Risikonya adalah kalau kita kayak begini terus konsumtif selama 10 tahun ke depan, ada kemungkinan kebutuhan kita untuk mengkonsumsi 10 sampai 20 tahun ke depan diisi oleh produk-produk tidak bisa diproduksi kita sendiri.
Pandangan itu akan dijual untuk mendongkrak elektabilitas?
Bukan elektabilitas. Ini bagaimana untuk mendongrak Anda (masyarakat) supaya lebih sejahtera. Saya sekolah di tempat yang sama SD dan SMP, terus saya diberi kesempatan untuk ke negara seperti Bangladesh lebih kacau daripada Indonesia.
Saya menyempatkan diri beredukasi dan berkarier dan saya mau semuanya bisa menikmati apa yang saya nikmati. Tidak ada alasan tidak bisa, kita harus nyetel atau menyetel ulang paradigma ke depan, yaitu ukuran suplai.
Kalau perilal liberalisasi dan globalisasi, sudah diseting dari kapan-kapan lalu. Sejak 1994 kita sudah bicara mengenai APEC, liberalisasi, dan globalisasi. Ini kita sudah masuk koridor itu. Kita harus masuk dan memanfaatkan.
Anda lebih memilih berpasangan dengan Jenderal Eddy, Mahfud MD, atau Jokowi?
Saya tidak mau mendahului kehendak Allah. Dalam demokrasi apapun bisa terjadi. Siapapun itu, selama itu terbaik untuk rakyat. Jangan sampai kita lupa terhadap kepentingan rakyat. Ini bukan pernyataan normatif, benar-benar dari hati saya. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya