Sebagai lembaga yang ditugasi menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi rumah besar bagi para peneliti di Indonesia.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyatakan, lembaganya terbuka atas berbagai klaim hasil penelitian. Termasuk yang dilakukan oleh mahasiswa. Tugas BRIN adalah memfasilitasi dan mematangkan hasil riset agar terbukti secara ilmiah.
"Karena temuan itu kan ada proses, enggak bisa langsung begitu saja klaim sendiri," kata Handoko dalam wawancara dengan merdeka.com.
Handoko menambahkan, BRIN terbuka untuk membantu riset-riset yang dilakukan baik oleh mahasiswa ataupun pihak umum. Semuanya diakomodasi dalam skema-skema yang tersedia di BRIN.
"Ada semua setiap skema. Seperti apa mekanismenya, syaratnya dan sebagainya. Jadi itulah yang kami pakai sebagai instrumen untuk mendukung ekosistem riset dan inovasi yang lebih baik," ujarnya.
Satu yang menjadi catatan Handoko adalah, sebuah riset tidak bisa dituntut untuk selalu berhasil dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
"Tidak bisa dari awal dia dituntut seperti itu, nanti enggak jadi riset kalau begitu," tegasnya.
Berikut wawancara lengkap reporter merdeka.com, Ronald dengan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko:
Advertisement
Bagaimana peran BRIN selama ini mendukung penemuan
mahasiswa?
Kami ada skema yang namanya grass root inovation atau inovasi akar rumput. Tapi sebenarnya enggak harus mahasiswa juga. Kalau ada yang klaim-klaim penemuan sebenarnya bisa difasilitasi juga melalui skema kami. Tujuannya untuk membantu lebih mematangkan konsep supaya bisa terbukti betul secara ilmiah. Karena temuan itu kan ada proses, enggak bisa langsung begitu saja klaim sendiri.
Tapi kalau untuk mahasiswa sih biasanya lebih mudah ya karena mahasiswa biasanya ada pembimbingnya, dosen atau apalah. Jadi biasanya mereka sudah menjalani proses seperti itu.
BRIN selalu mendampingi kampus-kampus yang melakukan penelitian?
Intinya kalau skema kami bukan mendampingi kampus karena itu kan tidak secara spesifik, tetapi skema yang ada di kami kan memang terbuka untuk semua. Beda dengan Dikti misalnya yang hanya untuk kampus. Kan mereka juga ada riset juga. Tapi kalau kami terbuka untuk semua, artinya skema BRIN itu untuk mengurus riset seluruh Indonesia, siapapun itu, di manapun.
Jadi BRIN memfasilitasi semua penelitian?
Iya semuanya kita enggak peduli apakah dia mahasiswa atau dosen atau periset BRIN atau bahkan industri juga. Selama dia memenuhi persyaratan.
Apakah ada anggaran BRIN yang membantu untuk penelitian mahasiswa?
Kalau dari kami itu dari skema yang ada itu. Jadi dia tinggal memasukkan (proposal), selama memenuhi syarat dan ketentuan yang ada di skema terkait, ya kami tidak masalah bisa dimanfaatkan oleh siapapun atau komunitas.
Ada semua setiap skema, seperti apa mekanismenya syaratnya dan sebagainya. Jadi itulah yang kami pakai sebagai instrumen untuk mendukung ekosistem riset dan inovasi yang lebih baik.
Berapa bantuan anggaran yang diberikan BRIN untuk peneliti mahasiswa atau umum?
Wah itu tergantung skema. Yang difasilitasi ada 9 skema, di situ sudah ada ketentuan masing-masing. Ada plafonnya, nanti penelitiannya dicocokkan pada skema yang mana. Misalnya oh temuan ini bagusnya dia dimasukkan ikut skema apa perusahaan pemula berbasis riset misalnya, kayak semacam start up. Atau dia ini cocoknya untuk inovasi akar rumput misalkan ya itu beda lagi anggarannya.
Advertisement
Banyak penemuan mahasiswa yang tidak ditindaklanjuti bahkan dilirik negara lain. Bagaimana sikap BRIN?
Enggak ada setahu saya. Enggak mungkin karena inovasi apapun yang berasal dari riset itu kan yang sifatnya global ya. Kalau dia memang bagus pasti ada pengakuannya tapi kalau itu klaim sendiri saja yaitu tidak akan ada karena kan riset itu sifatnya global ya. Artinya kalau belum diakui memang itu baru sekadar klaim, belum jadi hasil sesungguhnya
Misal ada mahasiswa mau buat air jadi bahan bakar, dia harus koordinasi pihak terkait termasuk BRIN ya?
Iya jadi riset itu kan sudah ada mekanismenya. Jadi kalau dia misalnya mengklaim sesuatu ya dia harus menulis jurnal terkait. Atau dia mengajukan paten dan sebagainya karena di situ kan ada proses review oleh pakar terkait dari yang independen. Jadi riset itu enggak perlu mengklaim, langsung submit aja ke jurnal ilmiah. Nanti komunitas itulah yang akan menilai.
Banyak peneliti yang enggan melakukan penelitian karena takut gagal, dan biaya untuk riset yang gagal bisa dibilang korupsi. Benarkah seperti itu?
Ya enggaklah. Kalau risetnya benar kan semuanya sudah ada standarnya, sudah ada prosedurnya jadi tinggal menjalankan saja sesuai standar itu. Kalau riset kan boleh salah, boleh gagal, masa enggak.
Yang penting riset dilakukan dengan benar, tapi kalau tidak melakukan riset terus klaim doang terus uangnya dibawa ke mana, ya itu kan jadi korupsi juga. Kalau melakukan yang benar ya enggak ada masalah.
Benarkah banyak penelitian di Indonesia yang hanya meniru dan mengolah hasil riset yang sudah ada?
Karena riset itu selalu bermula dari riset yang sudah ada. Enggak ada orang yang bilang 'oh saya riset mobil, saya menemukan mobil' kan enggak ada. Riset itu bermula dari riset, itu selalu perubahannya kecil. Enggak ada orang riset oh saya menemukan pesawat, enggak ada dari dulu juga enggak ada. Tapi kita meriset material yang lebih bagus, yang lebih kuat, yang kemudian bisa jadi bautnya mesin mobil kan begitu ya kecil-kecil. Begitu riset itu.
Riset itu selalu perubahan yang kecil dan perubahan yang kecil yang banyak yang kemudian jadi produk akhir yang dinikmati sehari-hari. Kan riset itu basisnya instrumental development.
Riset memulai sesuatu dari yang sudah ada kemudian dari sesuatu yang sudah ada itu kita membuat perbaikan. Istilahnya instrumental development. Jadi hasil riset itu hasil dari jutaan pikiran manusia, enggak ada dari single.
Bagaimana soal peneliti Indonesia yang lebih memilih bekerja di luar negeri karena gaji di sini kecil?
Kalau ada peneliti yang bisa ke luar negeri, diakui, kan bagus, malah harus didorong itu. Karena kan orang berkontribusi ke negara tidak harus ada di negaranya.
Enggak ada ceritanya 'oh karena saya enggak berkembang di dalam negeri terus pergi ke luar negeri' itu tidak mungkin. Karena kalau sudah enggak berkembang, enggak punya apa-apa, bagaimana bisa ke luar negeri. Enggak mungkin. Di luar negeri itu kompetisinya lebih ketat.
Advertisement
Jadi soal dana penelitian apakah BRIN selalu mendukung?
Yang dilihat sebenarnya bukan dananya dulu tapi justru idenya. Maka itu melakukannya dengan benar jadi seperti itu riset itu sesuatu yang dibilang dimulai dari hal yang kecil. Makanya masalah dana, ya dana itu sebenarnya penting tetapi itu bukan segalanya. Banyak riset yang tanpa perlu dana banyak yang penting itu adalah ide
Sejauh ini, berapa banyak riset yang sudah dilakukan BRIN?
Wah banyak sekali. Jadi kita aja ada hampir 10.000 orang kan itu mungkin sekitar 400 grup riset setiap grup riset itu setahun minimal ada satu lah hasil riset.
Apa aja yang diriset?
Sekarang paling banyak dan paling hot itu terkait biodiversitas karena kan kita memang punya modal untuk itu punya kekayaan itu.
Berapa dana APBN untuk BRIN, apakah cukup?
Ya kalau kurang itu selalu kurang. Enggak ada di seluruh dunia riset itu cukup, enggak ada kayak gitu. Tapi masalahnya bukan kurang atau tidak. Masalahnya seberapa jauh kita mendorong para peneliti melakukan risetnya dengan baik dan benar, kemudian yang berujung pada hasil sesuatu bisa sukses. Nah itu itu yang lebih penting sebenarnya.
Apakah hasil penelitian bisa dirasakan langsung oleh masyarakat?
Masalah dirasakan itu kan juga relatif ya, karena dirasakan itu bisa nanti-nanti karena kan mereka melakukan perubahan kecil-kecil tadi tapi ujungnya nanti kita berharap banyak yang bisa punya dampak yang signifikan. Tidak bisa dari awal dia dituntut seperti itu, nanti enggak jadi riset kalau begitu.