Dibalik geliat usaha peti mati, ternyata ada cerita yang tak diketahui banyak orang. Peti mati bukan saja menjadi kebutuhan tradisi pemakaman, namun juga menunjukkan kelas atau strata sosial. Harga sebuah peti mati bisa merujuk pada latar belakang seseorang. Dari beberapa tempat usaha peti mati disambangi merdeka.com di daerah Jakarta Utara dan Tangerang, harga peti mati dijual mencapai puluhan juta rupiah. Paling murah Rp 1,5 juta. Namun bagi kalangan tertentu, kualitas menjadi pilihan buat keluarganya ke tempat peristirahatan terakhir. Kualitas itu ditentukan dari jenis bahan dasar kayu digunakan dalam pemuatan peti mati. "Kalau harga peti mati saja tergantung kayu atau bahannya. Kalau peti terbuat dari kayu jati biasanya mahal, bisa puluhan juta rupiah," ujar Vicielia, anak pemilik Toko Usaha Ibu saat berbincang dengan merdeka.com di Jalan Imam Bonjol, Karawaci, Tangerang pekan lalu.Menurut dia, selain jenis kayu digunakan sebagai bahan dasar pembuatan peti mati, ada juga paket upacara disediakan dari si penjual. Paket itu berupa, layanan lain seperti upacara kematian. Misal menyediakan jasa ambulans pembersihan jenazah, kremasi hingga penguburan. Sejumlah toko peti mati seperti Usaha Ibu dan Jasa Raga Abadi di wilayah Tangerang misalnya, menjual peti mati disertai paket layanan lain. Mereka menyediakan jasa ambulans, pembersihan jenazah, antar jenazah, pengiriman kargo luar dan dalam negeri, akte kematian dan penguburan atau krematorium. Siapapun yang menggunakan jasa paket layanan lengkap ini pastinya orang berada. "Kita biasanya jual dengan paket layanan. Peti mati dari kayu apa dan layanannya mau seperti apa. Jadi harganya bisa dilihat dari situ," tutur Vicielia. Dia menambahkan, harga diberikan untuk pelayanan paket disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga pemesan. "Mereka maunya peti apa dan layanannya seperti apa, jadi tergantung sih,".Berbeda dengan Toko Usaha Ibu, peti-peti mati dijual Liana, 60 tahun, di Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat menyasar pada pelanggan dari kalangan menengah atas. Liana menjual peti-peti mati yang dibelinya dari Jepara, Jawa Tengah dengan harga Rp 6 juta hingga Rp 10 juta. Harga itu disesuaikan dengan ketebalan peti mati yang dipesan. "Saya menjual peti mati saja dan beberapa perlengkapan di dalamnya, urusan lain itu tergantung pembelinya," ujar Liana yang mengaku menjual peti mati sejak sepuluh tahun lalu ini. Liana pun mengaku di toko miliknya, tak menjual peti mati dari kayu jati. Alasannya, modal dikeluarkan lumayan besar. Dia pun menyediakan peti mati berbahan kayu biasa. Di samping rumah juga merupakan bengkel pembuatan peti mati, di sana lah Liana menjalani usaha. "Peti dari kayu jati mahal bisa Rp 20 juta ke atas, saya tidak mampu beli. Pelanggan saya biasanya dari sebelah dan anda bisa lihat rumah duka itu seperti apa, sederhana kan," katanya sembari tersenyum. Jika tak mampu membeli peti dari kayu, terdapat juga peti mati dari bahan karbot atau sejenis papan tebal. Meski harganya tak sebegitu mahal peti yang terbuat dari kayu, namun peti berbahan karbot ini tak bisa tahan lama. "Enam bulan di tanah biasanya sudah rusak," kata Liana. Namun demikian, Liana tetap melengkapi peti mati itu dengan perlengkapan kuburan seperti kain putih, lilin, kembang, baju, dan juga dupa sesuai tradisi serta latar belakang keagamaan para pelanggannya. Dia mengatakan usaha itu tentu saja mengedepankan hal sosial dan bukan saja mengejar keuntungan semata."Kalau tidak ada yang mampu beli peti ya kita sumbangkan," ujarnya.