Saban hari, Putri, 25 tahun menggunakan air isi ulang buat memenuhi kebutuhannya untuk memasak dan air minum. Paling tidak dia mengeluarkan kocek lumayan besar setiap bulan untuk kebutuhan dasar itu. Tiga kali sehari dia menghabiskan air sebanyak 19 liter untuk memasak dan minum. Jika di kalkulasi, pengeluarannya perbulan untuk biaya air galon sekitar Rp 60 ribu. Sedangkan untuk mencuci, dia menggunakan air sumur. Karena air sumur itu tak layak untuk diminum, menjadi alasan bagi Putri menggunakan air isi ulang dia beli dari tetangga di sebelah rumahnya. "Biasanya cukup untuk tiga sampai empat hari. Jadi lebih irit dibandingkan beli yang asli," ujar Putri saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa pekan lalu. Tak layaknya air tanah di kediamannya untuk dikonsumsi memang menjadi alasan bagi Putri membeli air isi ulang sebagai pemenuhan kebutuhan saban hari. Bukan tanpa sebab jika bisnis depot air minum saat ini menjanjikan memberikan keuntungan. Yanti, pemilik warung di dekat kediaman Putri di Martraman, Jakarta Timur, mengakui jika sejak permintaan kebutuhan air di daerah sekitar rumahnya terus meningkat. Dia pun melihat potensi bisnis itu. Sejak empat tahun lalu, Yanti membuka jualan air isi ulang dalam galon untuk para tetangganya di bilangan Matraman. Selain menjual air isi ulang, dia juga menjual gas dan air isi ulang bermerek pabrikan. Namun dari barang-barang jualannya, air isi ulang paling laris dipasarkan. Saban hari dia dia bisa menjual 30 galon isi ulang. Dia pun mengakui jika mendapatkan pasokan air buat mengisi galon-galon dimilikinya dari sebuah depot air minum isi ulang tak jauh dari kediamannya. Buat memenuhi kebutuhan air para tetangganya, Yanti pun sampai memiliki langganan depot air minum yang mendistribusikan air isi ulang itu ke warungnya. Paling tidak Yanti memperoleh keuntungan lumayan besar dari bisnisnya menjual air isi ulang. "Biasanya sehari bisa 10 galon habis (yang isi ulang). Tetapi juga pernah sehari habis langsung," kata Yanti.Maria, salah satu pemilik toko menjual alat untuk depot air isi ulang di Gedung Kenari Mas, Jakarta Pusat, mengatakan jika bisnis air ini memang menguntungkan. Paling tidak keuntungan puluhan juta setiap bulan bisa didapatkan dari bisnis ini. Buat menjalani bisnis ini bisa dibilang modalnya pun lumayan murah. Menurut Maria, untuk membeli alat dan penampungan hanya membutuhkan modal sekitar p 40 juta. Untuk pasokan air daerah Jawa Barat dan Sukabumi menjadi pilihan. "Kita hanya tinggal siapkan tempat," kata Maria. Senada dengan Maria, Teguh Sansan pemilik Depo Air Minum di daerah Surabaya, Jawa Timur juga mengakui keuntungan dari bisnis jual air minum isi ulang ini memang menggiurkan. Paling tidak, Teguh setiap bulannya memperoleh keuntungan bersih Rp 12 juta. Meski demikian, dia pun mengakui jika modal menjalankan bisnis ini lumayan besar. Dulu ketika dia memulai bisnis air minum isi ulang ini modalnya Rp 170 juta. Modal itu kata Teguh sudah termasuk perlengkapan alat mulai dari mesin hingga tabung penampungan air dan juga instalasi pipa. Sedangkan setiap bulannya, Teguh mengaku mengeluarkan biaya perawatan Rp 500 ribu termasuk juga untuk membeli filter air digunakan untuk bisnis ini. "Kalau kembalinya (modal) biasanya hitung itu sekitar antara 1,5 tahun sampai 2 tahun, tergantung omset dan wilayah," kata Teguh.