"Kalau tidak salah gaji saya waktu itu masih Rp 500 ribu dan itu tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari," kata Komisaris Jenderal Budi Waseso memulai perbincangan denganmerdeka.com tentang jalan panjang karirnya sebagai anggota Bhayangkara, Rabu pekan lalu.
Buwas, begitu sapaan bagi Komisaris Jenderal Budi Waseso, yang digunakan oleh media. Lelakikelahiran Pati, Jawa Tengah itu rupanya memiliki pengalaman berliku sebelum kini berpangkat Jenderal bintang tiga. Jika ada sinetron berkisah soal "Tukang Bubur Naik Haji", maka cerita hidup Buwas dapat disebut cerita tukang ojek jadi Jenderal.
Lulus dari Akademi Kepolisian pada 1984, ternyata tidak menjamin kehidupan Budi Waseso bakal berkecukupan.
Apalagi saat itu, Komjen Buwas sudah menikah dan memiliki anak. Gajinya sebagai abdi Bhayangkara pas-pasan buat menghidupi anak istri untuk urusan perut sehari-hari.
Di tengah kesulitan, Komjen Budi Waseso justru mencari cara agar tak mengurangi jatah dapur buat keluarganya. Berbagai cara dilakukan, mulai jadi sopir taksi, calo bahan bangunan hingga tukang ojek pernah dilakoni Buwas.
Kisahnya begini. Pada 1994, sewaktu masih berpangkat Kapten Buwas yang sudah menikah dan memiliki anak satu merasa memiliki beban dan tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarganya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa membuat fulus untuk istrinya berkurang, Buwas putar otak. Idenya ialah memanfaatkan motor Vespa yang dia beli dari temannya seharga Rp 350 ribu untuk ngojek.
Tanpa malu-malu Buwas nekat menjadi tukang ojek, di kawasan pasar Induk Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tiap pulang bertugas, Buwas mencari sewa penumpang. Uang yang ia dapat untuk memenuhi kebutuhannya sehari mulai dari ongkos hingga rokok.
"Saya berpikir bagaimana caranya gaji saya sebagai Polisi itu hanya untuk keluarga. Sementara untuk rokok dan uang bensin harus saya cari sendiri," ujarnya dengan suara serak.
Prinsipnya, Buwas tak mau menyusahkan istrinya untuk membagi gajinya buat ongkos berangkat kerja dan memenuhi kebutuhan jajan rokoknya sehari-hari. Selama tidak mencuri dan tidak memanfaatkan pekerjaannya sebagai Polisi, Buwas justru memilih sampingan menjadi tukang ojek.
Saban pulang dinas, Budi Waseso langsung menanggalkan seragamnya dan berganti pakaian layak orang biasa. Identitas sebagai tukang ojek selalu ia sembunyikan dari teman-teman kantornya. Prinsipnya, Buwas mengaku lebih baik bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara jujur, daripada mengandalkan bantuan teman di kantornya.
"Mereka tidak ada yang tahu, saya pikir itu urusan pribadi saya. Kalau mereka tau lalu nanti orang melihat kita nanti minta belas kasihan, nah saya tidak mau. Saya orangnya tidak mau minta belas kasihan," kata Buwas menegaskan.
Selain mengojek, Budi Waseso juga pernah menjadi calo bahan bangunan. Biasanya saat mengojek apabila melihat ada perumahan yang sedang dibangun, dia langsung menghampirinya dan berbicara dengan sang mandor untuk menawarkan bahan bangunan, seperti pasir, semen dan batu bata. Setiap menjual bahan bangunan, Buwas mengambil selisih Rp 5.000 dan uangnya untuk tabungan.
"Lumayan bisa dapat untung Rp 5.000. Jadi mereka mesan apa, saya carikan harga yang termurah. Modalnya kejujuran, kalau ada niat pasti ada jalan," jelasnya.
Perjuangan Buwas akhirnya tak sia-sia, selama mengabdi di Korps Bhayangkara karir Budi Waseso dibilang moncer. Pada 2009, Budi menjabat sebagai Kepala Bidang Propram Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Setahun kemudian, Buwas ditarik ke Markas Besar Polri untuk menempati posisi Kepala Pusat Pengamanan Internal Mabes Polri.
Buwas juga sempat menjadi Kapolda Gorontalo dengan pangkat Brigjen Polisi pada tahun 2012. Sebelum naik pangkat menjadi Irjen dirinya kembali ditarik ke Mabes Polri dan mengisi posisi Widyaiswara Utama Sespim Polri pada tahun 2013. Dia lalu mendapat dua bintang di pundak saat menjabat Kasespim Polri pada 2014.
Bak meteor, 19 Januari 2015, Budi Waseso menyandang posisi Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri, menggantikan Komisaris Jenderal Suhardi Alius. Sebulan kemudian, pangkatnya naik setingkat menjadi komisaris jenderal polisi alias jenderal bintang tiga. Kini pria yang sempat melakoni pekerjaan mengojek di sela dinas, didapuk menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional.