Terdesak komunitas Arab

Perpindahan orang Arab ke Condet lantaran ada ulama besar Habib Umar Alatas.

Ahmad Baiquni
Oleh Ahmad Baiquni - Reporter
Terdesak komunitas Arab
Jokowi tinjau banjir di Condet. ©2014 Merdeka.com

Letak Condet cukup strategis bagi perdagangan. Dekat dengan jalur utama menuju Bogor membuat banyak pedagang mengadu nasib di kawasan ini. Hal ini pula menjadi penyebab adanya komunitas Arab, hingga daerah disebut sebagai Kampung Arab.Wartawan senior banyak menulis tentang Jakarta, Alwi Shahab, menuturkan terjadi migrasi cukup besar oleh keturunan Arab. Menurut catatan dia dapat, perpindahan ini dipelopori oleh kehadiran ulama besar Habib Umar bin Muhammad bin Hasan bin Hud Alatas. "Habib Umar Alatas tinggal di Condet 1980-an, baru aja," kata Alwi saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya pekan lalu. Alwi mengisahkan waktu itu kondisi Condet masih sepi. Lambat laun banyak warga keturunan Arab berdatangan dan bermukim di daerah ini. Kebanyakan mereka berasal dari Jawa. "Itu orang-orang Arab mulanya hanya beberapa orang. Lalu mereka datangkan dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Tegal, Pekalongan, Semarang, Surabaya," ujarnya.Hal itu menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat Condet kebanyakan adalah Betawi. Menurut Alwi, penduduk Condet semakin terdesak dan sulit tinggal di daerahnya. "Dulu harga tanah masih murah. Sekarang sudah luar biasa mahalnya," tuturnya.Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Rumpun Masyarakat Betawi (RMB) Ali. Namun Ali menegaskan Condet tidak bisa disebut Kampung Arab. "Mereka itu datang baru saja. Awalnya berdagang, kemudian tinggal di sini," katanya.Sejarawan Mona Lohanda menjelaskan keberadaan komunitas Arab ini dapat menjadi hambatan bagi pelestarian budaya Betawi di Condet. Ini lantaran masyarakat Betawi, termasuk Condet, memiliki karakter lunak sehingga mudah menerima budaya manapun."Masyarakat Condet sendiri sudah tidak lagi menjalankan aktivitas lazimnya orang dulu," ujarnya Mona. Tetapi, jika dipaksakan, hal itu belum tentu bisa menjadi jalan keluar. "Kalau harus ada isolasi budaya, apa mereka sanggup."

Rekomendasi