Kalah bersaing di daerah terasing

Dokter tanpa STR kalah bersaing dengan mantri lantaran tidak bisa buka praktik.

Pramirvan Datu Aprillatu
Kalah bersaing di daerah terasing
Ilustrasi dokter dan pasien. ©2012 Merdeka.com

Sebut saja namanya dokter Dian. Kariernya terasa getir sehabis tamat dari fakultas kedokteran di sebuah universitas swasta di Sumatera Utara.Sampai kini dia belum bisa membuka klinik sendiri di kampungnya, Bogor Jawa Barat. Dia kalah bersaing dengan mantri kesehatan di sana. Ijazah kedokteran dia raih dua tahun lalu tidak laku, pasien lebih banyak lari ke mantri. Dokter tanpa Surat Tanda Register (STR) atau retaker ini merasa perjuangannya selama ini tidak dihargai. "Seorang mantri buka praktik dengan pasien mengantri. Bukannya kita iri, tapi saya sekolah bertahun-tahun belum bisa buka praktek,” katanya kepada merdeka.com Senin lalu.Padahal, kata dia, ilmu mantri itu pas-pasan. Dia cuma berpengalaman menjadi asisten dokter. Bahkan, pernah terjadi salah diagnosa terhadap seorang anak. Mantri itu merujuk pasien kecil itu ke sebuah rumah sakit untuk menjalani operasi usus buntu. Dian masih kenal dengan orang tua pasien mencoba memeriksa ulang. Ternyata bukan sakit usus buntu. ”Saya tanya habis periksa di mana si anak, dari dokter A. Saya hanya tersenyum sambil jawab itu bukan dokter tapi mantri,” ujar retaker 14 kali ini.Perawan ini mendesak pemerintah lebih mengawasi perawat atau mantri membuka praktek medis di daerah-daerah terasing. Di pelosok, mantri menjamur dan leluasa menjalankan pengobatan medis tanpa kontrol. Dari penelusuran merdeka.com, di Jalan Raya Perjuangan, Teluk Pucung, Bekasi Utara, terdapat sebuah klinik seorang mantri. Lima sampai sepuluh pasien warga kampung biasa datang berobat ke sana. Mantri itu bertindak seperti dokter, memeriksa dengan stetoskop dan memberi obat sesuai hasil diagnosa.

Rekomendasi