Tukang suntik minus secarik kertas

Padahal, menurut beleid, peserta ujian ulang tidak dipungut biaya.

Pramirvan Datu Aprillatu
Tukang suntik minus secarik kertas
Ilustrasi dokter. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/wavebreakmedia

Dokter pekerjaan terbilang mulia. Masa tempuh pendidikan cukup panjang dibandingkan bidang lainnya. Biaya yang diperlukan juga tidak sedikit, sejak masuk perguruan tinggi, pendidikan profesi hingga spesialisasi.Aliansi Dokter Muda Indonesia (ADMIN) menilai uji kelayakan bagi dokter segar dimanfaatkan sebagai keran fulus para profesor kedokteran di Indonesia.Dalam Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, setiap dokter harus melampirkan sertifikat kompetensi sebagai salah satu syarat mengurus registrasi di Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Lembaga di bawah presiden ini kemudian terbentuk sebuah wadah profesi bernama Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI).APKI bersama Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) ditunjuk sebagai penyelenggara Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) bagi seluruh dokter di tanah air. Ujian ini adalah proyek Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menilai keberhasilan institusi kedokteran dan peningkatan mutu fakultas kedokteran di semua kampus.Setelah menjadi sarjana kedokteran ditempuh minimal empat tahun, lulusan wajib mengikuti koasistensi dua tahun. Ini satu-satunya jalan bagi sarjana kedokteran meraih gelar dokter. Sehabis itu jika ingin membuka praktik sendiri, mereka mesti memiliki Surat Tanda Register (STR) melalui UKDI dan Surat Izin Praktik (SIP) melalui PB IDI di seluruh Indonesia.“Sekarang yang menjadi masalah, Indonesia mempunyai dokter umum tidak dikaryakan karena sebuah sistem kaku. Padahal, 2.500-4000 orang itu dapat menjadi solusi atas kurangnya tenaga kesehatan saat ini,” Kata Koordinator Nasional Aliansi Dokter Muda Indonesia (ADMIN) M. Iqbal El Mubarak kepada merdeka.com Jumat pekan lalu. Iqbal menuding terjadi komersialisasi dalam uji kompetensi bagi para dokter berlaku sejak 2007. AIPKI mengadakan UKDI serentak di seluruh wilayah Indonesia per tiga bulan, dalam setahun bisa empat kali ujian. Selain ujian tertulis, juga ujian komputer dan praktik memakai manekin. Dia menekankan peserta ujian hingga puluhan ribu dokter saban tahun. “Untuk lulusan terbaru bisa sampai Rp 1,5 juta dan untuk retaker artinya peserta dokter sudah mengulang Rp 600 ribu,” Ujarnya.Menurut dia, ujian bagi pengulang harusnya gratis seperti ditulis dalam situs AIPKI. Sumber pembiayaan pelaksanaan Uji Kompetensi Retaker Khusus berasal dari PB IDI atau Kolegium Dokter Primer Indonesia (KDPI), AIPKI, Ex-Komite Bersama Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (KBUKDI), dan Health Profesional Education Quality (HPEQ) di bawah naungan Dikti.“Setiap tahunnya DIKTI mengeluarkan anggaran untuk pelaksanaan UKDI hingga Rp 2 miliar, tapi panitia masih memungut biaya pendaftaran sampai hari ini,” tuturnya dengan nada meninggi. "Selama ini tak ada transparansi di mana kekurangan kita dalam mengerjakan soal ujian atau tolak ukur pasti. Maka kita kebanyakan sebut Ujian Keberuntungan Dokter Indonesia (UKDI),” katanya berseloroh.

Rekomendasi