Tim penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemarin mengumumkan hasil temuan mereka dalam insiden di Ghouta Timur, dekat Ibu Kota Damaskus, Suriah. Serangan itu menggunakan gas sarin. "Ini adalah bukti sangat penting soal pemakaian senjata kimia terhadap warga sipil sejak Saddam Husain melakoni hal serupa di Halabja (Irak) pada 1988," kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon seperti dilansir kantor berita Reuters. "Masyarakat internasional harus berjanji mencegah horor ini berulang."Sarin adalah cairan tidak berwarna dan tanpa bau. Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 687 pada awal April 1991 menggolongkan sarin sebagai senjata pemusnah massal. Konvensi Senjata Kimia 1993 melarang menghasilkan dan menyimpan sarin. Senyawa kimia ini sangat mematikan mesti dalam dosis sangat rendah. Korban menghirup langsung sarin bisa tewas dalam satu menit. Obat penawarnya adalah atropin dan pralidoksim. Menurut ketua komite penyelidikan Ake Sellstrom dari Swedia gas sarin digunakan dengan roket dari darat ke darat dalam serangan di Ghouta bulan lalu. "Kesimpulannya adalah senjata kimia telah digunakan dalam konflik antar kelompok di Suriah terhadap penduduk sipil, termasuk anak-anak, dalam skala cukup besar," ujarnya. Peristiwa di Ghouta Timur ini, versi laporan intelijen Amerika Serikat, menewaskan 1.400 orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak.Meski tim inspeksi PBB tidak menyebut siapa bertanggung jawab, Amerika, Inggris, dan Prancis, menuding Presiden Suriah Basyar al-Assad bertanggung jawab. Tuduhan telah dilontarkan selama dua pekan terakhir. Sedangkan Assad bersama Rusia menyalahkan pemberontak sebagai pelaku. Ban kembali menegaskan siapa pun bertanggung jawab harus diadili. Kelihatannya genderang perang terhadap Suriah kembali berbunyi nyaring. Sebelumnya melemah lantaran Assad bersedia mengizinkan PBB mengawasi persenjataan kimia mereka. Amerika boleh saja galak terhadap Suriah, tapi menafikan sekutu istimewa mereka, Israel, juga memiliki senjata kimia. Seperti disebut dalam dokumen rahasia CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika) pada 1960-an, "Suriah adalah negara keempat di Timur Tengah yang memproduksi senjata kimia setelah Mesir, Irak, dan Israel."
Sorot Suriah abaikan Israel
Suriah adalah negara keempat di Timur Tengah menghasilkan senjata kimia setelah Mesir, Irak, dan Israel.
Rekomendasi