Indonesia menyandang predikat negara dengan laju pembalakan hutan tertinggi di dunia. Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) mencatat hutan hujan tropis primer di Indonesia tersisa tidak sampai setengah dari total 130 juta hektar terkonsentrasi di Papua.Data pemerintah menyebutkan pada 2009 luas hutan Papua berkisar 42,22 juta hektar. Tapi dua tahun kemudian berkurang menjadi 30,07 juta hektar. Di Provinsi Papua Barat saja luas hutan digunduli rata-rata per tahun 293 ribu hektar. Sebab, harga pasaran kayu jenis merbau banyak tumbuh di Papua mencapai Rp 20 juta per balok.“Dari penelusuran teman-teman di Papua, tiap pengiriman kayu sampai 40 kontainer kayu log dan kotak. Sebulan dua kali pengiriman dari Sorong Ke Surabaya," kata pegiat antirasuah dari Indonesian Corruption Watch Tama S. Langkun saat ditemui merdeka.com Selasa pekan lalu.Kebanyakan yang ditebang adalah kayu besar jenis merbau dan meranti. Kayu-kayu itu dikirim dalam bentuk balok. Artinya, kata dia, butuh alat canggih dan tempat pengolahan. Polisi juga harus mengusut perantara pengiriman kayu dan beking dari pembalakan liar itu. “Anda bisa bayangkan pengiriman ini dari Sorong ke Surabaya. Ada berapa titik dilewati," ujar Tama. Sumber merdeka.com menegaskan Sitorus bukan sekadar beking, tetapi dia adalah satu dari sekian pelaku pembalakan liar. Mereka tidak cuma memotong kayu bulat, namun langsung mengolah menjadi balok.Dia mengungkapkan polisi sejatinya sudah mengetahui kejahatan Sitorus beberapa tahun lalu. “Tapi LS tidak ditangkap dan cenderung dilindungi,” tuturnya.