Mohamad Mahfud MD menegaskan jika dirinya menjadi presiden hal terpenting harus segera dibenahi adalah penegakan hukum. "Ini serius bagi saya, karena apa? Menurut saya, kita ini punya semua modal untuk menjadi bangsa besar dan maju,” kata Mahfud. Dalam pelbagai survei, dia kerap masuk tiga besar. Dengan pengalaman di lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, dia mengaku paham betul apa yang mesti dikerjakan jika dia menjadi presiden. Pengalaman ini juga menjadi kunci buat dilirik partai. Berikut penjelasan Mahfud saat menerima Alwan Ridha Ramdani, Arbi Sumandoyo, dan Faisal Assegaf dari merdeka.com di sebuah rumah berlantai dua di bilangan Menteng Pegangsaan, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu. Kehebatan akan Anda tonjolkan kepada masyarakat?Penegakan hukum. Penegakan hukum belum ada. Prabowo mungkin keamanan, Mbak Mega (Megawati Soekarnoputeri) mungkin ekonomi kerakyatan atau wong cilik. Saya penegakan hukum. Ini serius bagi saya karena apa? Menurut saya, kita ini punya semua modal untuk menjadi bangsa besar dan maju.Platform hukum seperti apa? Plaform saya penegakan hukum. Seluruh persoalan di Indonesia lebih dari 50 persen bisa diselesaikan jika hukum ditegakkan. Saya katakan tadi, kita punya prasyarat untuk maju. Potensi masyarakat, sumber daya alam begitu luar biasa. Kalau hukum ditegakkan semua akan berjalan baik, penyelesaiannya manajerial sektoral. Kalau hukum tidak tegak saat ini sulit.Artinya Anda sudah siapkan pondasi?Pondasi dalam bentuk visi sudah, platformnya kalau hukum selesai semua selesai. Karena itu jargonnya kira-kira menjadikan hukum sebagai panglima.Anda sudah mempersiapkan tim?Kalau teman diskusi dan pemantau media sudah, kalau tim sukses belum. Sekarang belum ada juga orang punya tim sukses.Siapa pantas mendampingi Anda supaya menang pemilihan presiden? Itu harus dibicarakan dengan partai pendukung, siapapun silakan. Anda bisa lihat siapa-siapa mempunyai (peluang) besar untuk itu.Kriterianya seperti apa?Punya pemahaman sama dengan saya. Penegakan hukum tidak pandang bulu sehingga yang lain menjadi manajerial dan sektoral, itu saja.Artinya harus berlatar hukum?Tidak harus orang hukum untuk menegakkan hukum. Alternatif itu saya jadikan pegangan, mungkin menjadi pendukung orang juga bisa.Apa yang membuat Anda yakin orang bakal memilih Anda?Saya sama dengan Anda melihat kenapa orang percaya dengan saya. Slogannya memang itu, saya diidentikkan dengan penegakan hukum. Jargon seperti itu terlalu mewah, nanti akan diturunkan dalam program-program lebih merakyat. Semua modal sudah kita punya kecuali penegakan hukum.Partai mana sudah menyatakan dukungan terhadap Anda?Nantilah, kalau dibuka yang lain tertutup. Saya pastikan (partai) itu sudah jelas mau mengusung saya. Toh kalau sudah menang konvensi pun tetap harus gabung dengan partai lain juga. Jangan-jangan gabungnya ke situ juga. Jadi syaratnya itu sekarang sedang diolah. Prasyaratnya sudah terpenuhi, saya mendapat dukungan nyata, saya punya pengalaman di tiga poros pemerintahan. Saya mantan ketua lembaga negara, prasyarat sudah. Syarat partai itu, ya itu tadi. Selain PKB dan Demokrat, partai mana bakal Anda lirik?Semua partai terbuka, yang penting idenya sama.Artinya Anda siap dipasangkan dengan Megawati, Jusuf Kalla, atau calon lainnya?Ya, tergantung situasi politik nanti dan kesepakatan politiknya apa, itu nanti soal berpasangan dengan siapa itu. Tapi tergantung pada visi saya, visi saya itu tergerus atau tidak. Itu saja.Kalau tergerus Anda mundur?Iya dong, saya kira calon mana pun, dia punya program dan punya visi tertentu lalu dia dipaksakan pasti tidak mau. Kalau orang punya idealisme pasti begitu. Kompromi itu harus dibicarakan apakah soal visi atau komposisi. Kalau komposisi itu biasa dalam politik, kalau visi itu tidak. Misalnya visi penegakan hukum saya, lalu kamu jadi hukum tidak boleh ditegakkan pada si A, kalau itu tidak bisa. Tapi komposisi bisa.Apakah Anda siap bersaing dengan teman-teman Anda, misalnya Yusril dan Kalla?Saya berkomunikasi biasa dengan mereka. Dengan Pak Yusril biasa kalau ketemu ngobrol, Aburizal juga, dengan Mbak Mega juga, Hatta Rajasa apalagi, dengan Muhaimin juga biasa-biasa saja.Apa yang Anda lakukan agar masyarakat lebih mengenal Anda?Ya seperti biasa saja, lama-lama mengenal juga tuh (seraya tertawa). Saya tidak pernah punya trik khusus. Sekarang tidak punya trik khusus, tetapi elektabilitas tetap naik, tanpa melakukan perencanaan, apalagi melakukan perencanaan.Kalau keliling daerah bagian dari perencanaan?Ya itu dia.Siapa bakal Anda tiru dalam soal penegakan hukum?Kalau soal ketegasan saya suka Jaksa Agung Suprapto dan Kapolri Hoegeng. Tapi kalau soal penampilan dan kebersahajaan saya lebih suka kepemimpinan lentur seperti Abdurahman Wahid (Gus Dur). Tidak selalu protokoler, tidak dibuat-buat, enteng saja, merakyat. Kalau tingkat menteri sepeti Yusuf, kalau kebersihan seperti Bung HattaBagaimana Anda menilai penegakan hukum saat ini? Hukum sekarang itu penegakannya tidak sistematis dan tidak terstruktur. Orang terkena penegakan hukum itu karena apes saja bukan karena sebuah perencanaan, lalu kena. Tidak punya sokongan politik dan tidak punya uang, akhirnya kena. Karena itu, ke depan harus dimulai dari penegakan hukum tanpa pandang bulu dan sistematis. Artinya, hukum menjadi persoalan kita bersama. Menurut saya, kuncinya di kepemimpinan kuat karena penegakan hukum ada dua alur, satu pelaksanaan norma sehari-hari, kedua, pengadilan karena ada pelanggaran hukum. Sekarang di negeri kita pelaksanaan normanya tidak jalan, penegakan hukum sporadis. Sebab itu, ke depan dibutuhkan kepemimpinan kuat. Pemimpin tampil secara tidak tersandera.Apa akan Anda lakukan untuk membenahi birokrasi? Pembenahan birokrasi itu sudah tawaran dari saya. Problemnya sekarang itu ada di birokrasi. Sebab itu, birokrasi harus ditata. Mungkin pada saatnya kita harus mengevaluasi sistem karier dengan cara sistem prestasi dan kualitas. Kita tahu penyakit tidak tegaknya hukum dalam arti pelaksanaan norma itu adalah di birokrasi.