Dengan modal dari pensiun dini di Universitas Ohio, Amerika Serikat, Warsito Purwo Taruno mencoba bertaruh untuk mendirikan lembaga riset di Indonesia. Ilmuwan sudah memiliki lebih dari lima hak paten saat di Jepang ini ingin memanfaatkan jaringannya dengan kalangan ilmuwan dan lembaga-lembaga penelitian elite dunia. Paten milik Warsito di antaranya adalah Multi-Modal Ultrasonic Tomography (1999), metode penanganan limbah padat dengan katalis dan ultrasonik (1999), metode penghancuran limbah cair menggunakan ultrasonik (2000), penemu algoritma neural-network multicriterion optimization image reconstruction technique (2003), electrical capacitance volume tomography (ECVT) (2006), pengembang generasi kedua ECVT data acquisition system (2009), high resolution ECVT (2009), pengembang ultrasonic scanner for non destructive testing SonaCTx001 (2009).Namun penemuan paling fenomenal, menurut dia, yakni alat pemindai kegiatan otak pertama di dunia berbasis Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) atau tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis. Dia menjelaskan teknologi ECVT itu mampu memindai berbagai objek, mulai dari proses kimia, reaktor kimia, hingga tubuh manusia. “Peluang pengembangan ke penelitian medis lebih terbuka lebar dan penting dengan teknologi itu,” kata Warsito kepada merdeka.com di kantornya di kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten, Jumat pekan lalu.Dia ingin hasil penelitiannya bisa dimanfaatkan buat mendeteksi penyakit dalam tubuh manusia dan penelitian kinerja otak manusia. Dia yakin alat buatannya cocok dengan kondisi ekonomi dan layanan kesehatan masih mahal di tanah air.Kenekatan Warsito tidak percuma. Dia akhirnya berhasil mendirikan lembaga riset dinamai CTECH (Center for Tomography Research Laboratory) Labs Edwar Technology. Lembaga dibuat sejak 2005 ini bermarkas di sebuah ruko Modernland, Tangerang. Dia menyewa ruko dua lantai dan merekrut sepuluh staf. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap penelitian tingkat tinggi memaksa dia bolak-balik ke Jepanguntuk mencari dana. Hal itu terjadi pada 2006 sampai 2009. Bahkan, dia sampai meminjam yuang dari keluarga dan kolega untuk membiayai lembaga penelitiannya. Dia sempat frustasi menghadapi kondisi itu. “Saat itu lembaga riset saya dalam kondisi terkapar. Jangankan untuk biaya pengembangan riset, untuk membayar staf saja sudah tidak kuat,” ujar Warsito. Untjung saja, anak-anaknya menyokong dia untuk tetap bertahan. Wajahnya kembali cerah selepas mendapatkan Penghargaan Bakrie pada Agustus 2009 untuk bidang teknologi. “Hadiah dari penghargaan itu lumayan memperpanjang nafas lembaga riset ini, terutama untuk biaya operasional dan gaji karyawan,” tutur Warsito mengenang masa itu. Untuk menghidupkan lembaga risetnya, Warsito mencoba menerima orderan riset dari berbagai lembaga dunia memanfaatkan penelitian dan hak paten atas nama dirinya. Mulai dari King Abdul Aziz University, Arab Saudi, beberapa kampus dari Amerika Serikat, Jepang, dan lembaga lainnya.