Diskusi buku Irshad Manji berjudul Allah, Liberty, and Love yang digelar di sejumlah tempat di Jakarta dan Yogyakarta dengan menghadirkan penulisnya, berhasil membetot khalayak ramai. Bahkan, acara belum digelar, rombongan Front Pembela Islam datang membubarkan. Insiden ini terjadi di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat malam pekan lalu.Wajar saja banyak elemen masyarakat meributkan buku itu karena sebagian orang menilai pemikiran Manji sesat. Apalagi, penulisnya mengaku lesbian. Perempuan kelahiran Uganda ini meyatakan salat 12 hingga 15 kali saban hari. Menurut dia, topi bisa menggantikan jilbab. Walau pemikiran Manji banhyak disorot, menurut Salahuddin Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, keyakinan Manji itu tidak laku di Indonesia. Berikut penuturannya saat dihubungi Islahuddin dari merdeka.com, Kamis (10/5) malam: Apa komentar Anda tentang kemunculan orang-orang berpandangan berani seperti Irshad Manji?Saya tidak setuju dengan dia. Perlu kita ingat, dia datang dengan argumen, seharusnya kita hadapi dengan argumen juga, bukan dengan pembubaran atau kekerasan. Padahal yang akan disampaikan Irshad Manji bukan tentang ajaran lesbian, namun buku baru dia terbitkan.Apa yang terjadi di Salihara sebelum diskusi berlangsung adalah bentuk gagalnya polisi melindungi masyarakat. Di UGM, lumayan, yang mengantisipasinya dengan diskusi itu tidak dilangsungkan, tapi itu sangat disayangkan. Maaf saya kurang detail mengikuti beritanya di UGM. Tapi, jika memang benar diskusi itu dibatalkan oleh rektor, saya kira itu memalukan. Lembaga akademis sudah menutup pintu diskusi.Di Lembaga Kajian Islam Sosial, Yogyakarta, saat diskusi juga dibubarkan hingga terjadi perusakan?Pembubaran itu juga tidak benar. Itu sudah seperti preman. Namun, saya menyayangkan kenapa panitia tidak antisipasi hal itu dengan meminta polisi untuk pengamanan.Sebelumnya ada diskusi Irshad Manji bisa berlangsung dan diamankan Banser NU? Ini negara hukum, orang tidak bisa semena-mena bertindak. Dengan tidak adanya polisi dalam hal itu, pihak keamanan seperti sengaja membuat konflik horizontal antar warga negara. Meskipun ada diskusi yang diamankan oleh Banser NU, tetap saja itu bisa membuat konflik horizontal.Apakah pemikiran Irshad Manji itu membahayakan?Tidak sama sekali. Saya baca, dia lahir dari lingkungan masyarakat kurang benar di Uganda sana. Sebuah kawasan sangat diskrimitatif terhadap perempuan dan dia mengalami hal itu. Justru keyakinan apa yang akan dibawa ke Indonesia tidak laku dalam masyarakat kita.Maksudnya tidak laku?Masyarakat kita sudah kenyang dengan ajaran atau tafsir-tafsir ajaran Islam dari fundamentalis hingga paling liberal. Zaman Pak Harto sudah ada semacam Cak Nur dianggap liberal dan itu lancar-lancar saja. Sedangkan fundamentalis seperti Abu bakar Baasyir, FPI, Wahabi, Salafi, dan lainnya. Yang dianggap bahaya oleh Pak Harto saat itu jika lembaga Islam sudah mengarah ke politik.Tapi kelompok-kelompok fundamentalis saat ini seperti menemukan kebebasannya. Mereka sudah lama dikekang dan setelah reformasi mereka seperti bebas tanpa batas. Dulu negara bisa membendung tindak kekerasan mereka, sekarang pemerintah kurang bisa.
Keyakinan Irshad Manji tidak laku di Indonesia
"Masyarakat kita sudah kenyang dengan ajaran atau tafsir-tafsir ajaran Islam dari fundamentalis hingga paling liberal."
Rekomendasi