Kartun ringan lebih populer

Indonesia kekurangan penulis animasi.

Islahudin
Oleh Islahudin - Reporter
Kartun ringan lebih populer
Film kartun populer 'Tom and Jerry'. (fabpop.com)

Chandra Endroputro tidak menyangka pengalaman temannya yang sedang belajar terompet bisa menjadi insiprasi pembuatan film animasi. Namanya belajar, tentu suara terompet yang terdengar tidak karuan dan menimbulkan suara hingar bingar tersendiri di sekitar.  Dari suara-suara riuh itu memaksa temannya itu tidak boleh lagi membunyikan di lokasi kerja. Oleh rekan-rekan kerjanya dia seperti terusir dari lingkungannya. Dia harus belajar terompet di rumahnya selepas kerja. Pengalaman teman bagi pria yang biasa dipanggil Chandra itu sebagai ide menarik. Kisah temannya yang tidak boleh belajar terompet itu dia jadikan cerita dalam film animasi garapannya, yakni Aksi Didi Tikus. Sebuah kisah tentang tikus yang bisa berbicara dengan manusia. Dalam filma animasinya, Chandra menceritakan tikus yang sudah diusir karena tidak boleh main terompet akhirnya pindah ke bulan. Mulanya di bulan dia leluasa memainkan terompet. Setelah tikus itu memainkan trompet sesukanya, ternyata ada penghuni bulan terusik, yakni seekor tikus yang jauh lebih mengerikan dari kucing di Bumi. Akibat ketakutan, tikus akhirnya memutuskan balik ke Bumi. “Ternyata ide cerita seperti itu disukai penonton,” kata Chandra saat dihubungi merdeka.com pada Jumat pekan lalu.Film serial animasi yang tayang di MNCTV setiap Senin dan Jumat pukul 19:00 dan Ahad pukul 18:30 itu sudah mendapatkan apresiasi di masyarakat. Terbukti, film ini masih tayang sejak muncul pertama kali dua tahun lalu. Film animasi berdurasi lima sampai tujuh menit itu juga mendapatkan predikat tayangan anak-anak terbaik Panasonic Gobel Awards 2012.Chandra mengakui, televisi nasional saat ini lebih banyak menayangkan film-film animasi impor. “Mau bagaimana lagi, mayarakat suka. Mestinya animator kita membuat yang disukai masyarakat, kan suka terhadap sesuatu itu tidak bisa dipaksakan,” katanya.

 

Bagi Chandra, minimnya apresasi masyarakat terhadap film animasi juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat Indonesia lebih dominan bersifat lisan. Sehingga tayangan visual grafis kurang mendapat perhatian. Dia mengeluhkan pula minimnya penulis animasi. Sedangkan animator lumyan banyak. Dia memberikan perbandingan 20 animator berbanding satu penulis animasi.

Rekomendasi