Sudah puluhan tahun langit udara Indonesia dia singgahi. Perannya begitu vital. Sigap hilir mudik mengangkut logistik buat para prajurit.
Ibarat seorang manusia di puncak pengabdiannya. Burung besi itu saatnya purnatugas kini. Meski kegagahannya tak luntur, tetapi eranya sudah selesai.
Terhitung sejak 23 April 2024 kemarin, pesawat angkut C-1308 Retroff Hercules dengan nomor registrasi A-1303, 1304, dan A-1313 tidak lagi beroperasi. Keputusan memberhentikan pesawat era Presiden Soerkarno itu karena dianggap sudah terlalu tua untuk dioperasikan.
Penghentian operasional pesawat ditandai dengan seremonial khusus. Dipimpin langsung Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Muhamad Tonny Harjono di Gedung Serbaguna Nurtanio Depohar 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.
Tak sekadar alat operasional. Pesawat ini memiliki peran penting dalam perjalanan TNI Angkatan Udara sejak pertama kali tiba di Tanah Air tahun 1960.
"Pengabdian panjang pesawat Hercules ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga telah menempa jati diri TNI Angkatan Udara," kata Marsekal TNI Tonny.
Marsekal TNI Tonny menceritakan kehebatan pesawat C-130B Retroff Hercules dengan nomor registrasi A-1303, 1304, dan A-1313. Menurutnya, pesawat C-130B Retroff Hercules ini menjadi alutsista pertama yang menjadi tulang punggung TNI AU dalam membawa logistik hingga pasukan di beberapa daerah operasi militer.
Sederet wilayah operasi militer pernah disinggahi. Mulai dari Operasi Trikora, Dwikora, Seroja, hingga penerbangan VVIP presiden ke-1 RI Soekarno ke Karachi pada tahun 1965.
Bahkan, Alpha 1303 mencetak sejarah sebagai pesawat pertama yang mendaratkan pimpinan TNI di Tanah Papua pada tahun 1963.
Tidak hanya membantu operasi militer, pesawat ini juga terlibat dalam beberapa operasi kemanusiaan yang dilakukan TNI. Seperti membawa logistik untuk korban Tsunami di Aceh pada tahun 2004, Gempa Palu pada tahun 2018, dan erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021.
Ratusan ribu jam terbang sudah dilalui. Berbagai misi juga sudah diselesaikan. Jelas menggambarkan ketangguhan pesawat C-130B Retroff Hercules.
Ibarat sebuah kehidupan, meski segala keberhasilan telah ditorehkan, pada akhirnya ada masa untuk jeda. Begitupun pula pesawat C-130B Retroff Hercules ini. Setelah setengah abad mengudara, pesawat ini harus purnatugas. Sebab TNI AU terus berupaya meregenerasi alutsista mengikuti tuntutan perkembangan zaman.
Marsekal TNI Tonny mengatakan, saat ini TNI AU sudah memiliki beberapa unit Hercules C-130 generasi terbaru. Selain itu, tengah menanti pesawat angkut baru jenis Airbus A400.
TNI AU juga dikabarkan akan kedatangan beberapa pesawat tempur jenis rafale asal Prancis yang akan hadir pada tahun ini.
Dengan adanya regenerasi pesawat tempur dan pesawat angkut tersebut, Marsekal TNI Tonny berharap TNI AU akan makin kuat dalam menjaga pertahanan udara Indonesia.
Terima kasih sang Kuda Udara atas jasa mu, tugas mulia mu menjadi bagian penting dari perjalanan prajurit TNI dan bangsa ini.
Purnatugas Sang "Kuda Udara" era Soekarno, Saksi Bisu Perjuangan Prajurit di Medan Tempur
Sudah puluhan tahun langit udara Indonesia dia singgahi. Perannya begitu vital. Sigap hilir mudik mengangkut logistik buat para prajurit.
Ibarat seorang manusia di puncak pengabdiannya. Burung besi itu saatnya purnatugas kini. Meski kegagahannya tak luntur, tetapi eranya sudah selesai.
Terhitung sejak 23 April 2024 kemarin, pesawat angkut C-1308 Retroff Hercules dengan nomor registrasi A-1303, 1304, dan A-1313 tidak lagi beroperasi. Keputusan memberhentikan pesawat era Presiden Soerkarno itu karena dianggap sudah terlalu tua.
Penghentian operasional pesawat ditandai dengan seremonial khusus. Dipimpin langsung Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Muhamad Tonny Harjono di Gedung Serbaguna Nurtanio Depohar 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.
Tak sekadar alat operasional. Pesawat ini memiliki peran penting dalam perjalanan TNI Angkatan Udara sejak pertama kali tiba di Tanah Air tahun 1960.
"Pengabdian panjang pesawat Hercules ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga telah menempa jati diri TNI Angkatan Udara," kata Marsekal TNI Tonny dalam siaran pers resmi TNI AU.
Marsekal TNI Tonny menceritakan kehebatan pesawat C-130B Retroff Hercules dengan nomor registrasi A-1303, 1304, dan A-1313. Menurutnya, pesawat C-130B Retroff Hercules ini menjadi alutsista pertama yang menjadi tulang punggung TNI AU dalam membawa logistik hingga pasukan di beberapa daerah operasi militer.
Sederet wilayah operasi militer pernah disinggahi. Mulai dari Operasi Trikora, Dwikora, Seroja, hingga penerbangan VVIP presiden ke-1 RI Soekarno ke Karachi pada tahun 1965.
Bahkan, Alpha 1303 mencetak sejarah sebagai pesawat pertama yang mendaratkan pimpinan TNI di Tanah Papua pada tahun 1963.
Tidak hanya membantu operasi militer, pesawat ini juga terlibat dalam beberapa operasi kemanusiaan yang dilakukan TNI. Seperti membawa logistik untuk korban Tsunami di Aceh pada tahun 2004, Gempa Palu pada tahun 2018, dan erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021.
Ratusan ribu jam terbang sudah dilalui. Berbagai misi juga sudah diselesaikan. Jelas menggambarkan ketangguhan pesawat C-130B Retroff Hercules.
Ibarat sebuah kehidupan, meski segala keberhasilan telah ditorehkan, pada akhirnya ada masa untuk jeda. Begitupun pula pesawat C-130B Retroff Hercules ini. Setelah setengah abad mengudara, pesawat ini harus purnatugas. Sebab TNI AU terus berupaya meregenerasi alutsista mengikuti tuntutan perkembangan zaman.
Marsekal TNI Tonny mengatakan, saat ini TNI AU sudah memiliki beberapa unit Hercules C-130 generasi terbaru. Selain itu, tengah menanti pesawat angkut baru jenis Airbus A400.
TNI AU juga dikabarkan akan kedatangan beberapa pesawat tempur jenis rafale asal Prancis yang akan hadir pada tahun ini.
Dengan adanya regenerasi pesawat tempur dan pesawat angkut tersebut, Marsekal TNI Tonny berharap TNI AU akan makin kuat dalam menjaga pertahanan udara Indonesia.
Terima kasih sang Kuda Udara atas jasa mu, tugas mulia mu menjadi bagian penting dari perjalanan prajurit TNI dan bangsa ini.
Marsekal TNI Tonny menceritakan kehebatan pesawat C-130B Retroff Hercules dengan nomor registrasi A-1303, 1304, dan A-1313. Menurutnya, pesawat C-130B Retroff Hercules ini menjadi alutsista pertama yang menjadi tulang punggung TNI AU dalam membawa logistik hingga pasukan di beberapa daerah operasi militer.
Sederet wilayah operasi militer pernah disinggahi. Mulai dari Operasi Trikora, Dwikora, Seroja, hingga penerbangan VVIP presiden ke-1 RI Soekarno ke Karachi pada tahun 1965.
Bahkan, Alpha 1303 mencetak sejarah sebagai pesawat pertama yang mendaratkan pimpinan TNI di Tanah Papua pada tahun 1963.
Tidak hanya membantu operasi militer, pesawat ini juga terlibat dalam beberapa operasi kemanusiaan yang dilakukan TNI. Seperti membawa logistik untuk korban Tsunami di Aceh pada tahun 2004, Gempa Palu pada tahun 2018, dan erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021.
Advertisement
Ratusan ribu jam terbang sudah dilalui. Berbagai misi juga sudah diselesaikan. Jelas menggambarkan ketangguhan pesawat C-130B Retroff Hercules.
Tetapi ibarat sebuah kehidupan. Meski segala keberhasilan telah ditorehkan, pada akhirnya ada masa untuk jeda. Begitupun pula pesawat C-130B Retroff Hercules ini. Lebih dari setengah abad mengudara, pesawat ini harus purnatugas. Sebab TNI AU terus berupaya meregenerasi alutsista mengikuti tuntutan perkembangan zaman.
Marsekal TNI Tonny mengatakan, saat ini TNI AU sudah memiliki beberapa unit Hercules C-130 generasi terbaru. Selain itu, tengah menanti pesawat angkut baru jenis Airbus A400.
TNI AU juga dikabarkan akan kedatangan beberapa pesawat tempur jenis rafale asal Prancis yang akan hadir pada tahun ini.
Dengan adanya regenerasi pesawat tempur dan pesawat angkut tersebut, Marsekal TNI Tonny berharap TNI AU akan makin kuat dalam menjaga pertahanan udara Indonesia.
Terima kasih sang Kuda Udara atas jasa mu, tugas mulia mu menjadi bagian penting dari perjalanan prajurit TNI dan bangsa ini.