Wawancara Khusus

Prof Amin Soebandrio: Plasma Darah Khusus Pasien Positif Corona, Bukan Obat Masal

Rabu, 29 April 2020 10:36 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Prof Amin Soebandrio: Plasma Darah Khusus Pasien Positif Corona, Bukan Obat Masal Stok trombosit di ruang penyimpanan kantor PMI DKI Jakarta. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Upaya melawan Virus Corona mulai menemukan adanya harapan. Sebuah metode pengobatan digadang-dagang mampu menyembuhkan para pasien dan diharapkan memutus mata rantai. Sayangnya ini belum bukan berbentuk obat masal.

Metode pengobatan itu adalah transfer plasma darah. Itu dilakukan dari pasien sembuh corona, kemudian didonorkan kepada yang masih terinfeksi. Indonesia tidak mau ketinggalan. Sudah ada pasien diuji coba.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio, mengaku sedang mendalami metode transfer plasma ini. Mereka menggandeng banyak pihak. Termasuk Palang Merah Indonesia (PMI).

Berikut penjelasan Prof Amin kepada jurnalis merdeka.com Rifa Yusya Adilah tentang transfusi plasma darah, Selasa kemarin:

1 dari 3 halaman

Bisa dijelaskan apa maksud pernyataan Anda yang mengatakan bahwa transfer plasma dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh itu bukan pengobatan masal?

Iya artinya itu bukan obat masal. Seperti tablet sakit kepala misalnya paracetamol. Itu kan bisa dipakai siapa saja tanpa banyak pertimbangan. Kalau terapi plasma ini, harus berdasarkan individual. Jadi yang pasti, antara plasma yang diberikan dengan resipien yang menerima harus ada kecocokan.

Kemudian plasmanya harus dipastikan kualitasnya. Harus diuji apakah dia mengandung antibodi atau antivirus corona ini dalam jumlah yang cukup.

Kemudian lebih ke hulu lagi. Pendonor atau sumber plasma itu harus dipastikan mereka-mereka yang sembuh dari infeksi virus corona, kemudian, sudah tidak lagi mengandung virus corona atau bakteri lain, dan mereka dalam keadaan sehat. Disarankan lebih baik laki-laki. Kalau perempuan tidak boleh, karena pernah hamil.

Jadi ada beberapa persyaratan, artinya produk ini tidak muncul sebagai obat yang bisa dibeli dimana saja, tidak. Jadi harus dihasilkan oleh PMI, atau UTD (Unit Transfusi Darah) yang tersertifikasi. Kemudian diambilnya dengan proses khusus. Pengujiannya juga khusus hanya bisa dilakukan di laboratorium dengan biosafety nomor 3

Pemberian untuk pasiennya juga harus dikaji betul oleh dokter dan perawat, apakah benar-benar sesuai indikasi. Tidak berpotensi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jadi jika antibodinya tidak cukup, apa risiko terbesarnya?

Risiko terbesarnya sebenarnya ya tidak ada efeknya. Kalau tidak ada efeknya kan kasihan pendonornya. Kasihan resipiennya. Sudah diambil (darahnya) tapi tidak bermanfaat. resipiennya sudah diberikan tapi tidak bermanfaat. Jadi harus dipastikan dulu donor antibodinya cukup

Jika seperti itu, apakah kesehatan pendonor dan resepian akan menurun?

Tentunya mungkin tidak terjadi apa-apa, tapi prosedur apapun kalau sudah diberikan ke seseorang, kalau tidak ada manfaatnya kan tidak etis. Padahal itu mengandung risiko.

Pengambilan plasma darahnya bisa di UTD (unit transfusi darah) di bawah pengawasan PMI dan UTD itu harus memiliki sertifikat harus mengolah produk darah, di Indonesia ada 15 yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi kalau laboratorium pengujian kadar antibodinya itu hanya bisa dikerjakan di laboratorium yang memilih fasilitas biosafety level 3. Itu tidak banyak di Indonesia.

Laboratorium yang memenuhi standar itu di mana saja di Indonesia?

Yang pasti di lembaga Eijkman, di Litbangkes dan Universitas Airlangga juga ada. Kalau untuk manusia sih cuma sedikit (di Indonesia)

Butuh waktu berapa lama untuk proses pengujian Plasma Darah ini?

Untuk menemukan virusnya saja butuh waktu seminggu, kemudian untuk pengujiannya sendiri, bersama dengan virus itu seminggu lagi. Jadi kira-kira hampir dua minggu lah.

Setelah itu apakah ada proses lainnya lagi?

Ada secara paralel itu, ada pengujian lainnya. Jadi ada test-test lain. Misalnya, pengujian virusnya, ada atau tidaknya virus hepatitis. Ada bakteri lain yang berbahaya seperti HIV, dan sebagainya. Itu semua bisa dilakukan secara paralel.

Jadi donor itu harus aman artinya jangan sampai dia diambil darahnya kemudian dia jadi sakit, jadi harus kita pastikan.

Kita ambil plasmanya juga harus dipastikan kalau ini bermanfaat. Jangan sampai terbuang. Kemudian plasmanya sendiri harus diproses dari pengambilan sampai diberikan, semua dalam proses yang aman, dalam arti sesuai dengan protokol yang lazim diberlakukan terhadap produk darah.

Itu yang menguasai kan Palang Merah Indonesia (PMI), di hilirnya pasien yang menerima, yang sedang sakit juga harus dipastikan aman.

Artinya, dia (resipien) memang ada indikasinya untuk diberikan plasma darah. Plasma yang diberikan juga sesuai dengan golongan darahnya dia. Artinya untuk mencegah reaksi-reaksi yang tidak diinginkan serta jumlahnya berapa yang mau diberikan

2 dari 3 halaman

Bagaimana menentukan porsi plasma darah untuk tiap penerima donor?

Tentu beda, dari berat badan menentukan dan juga kadar antibodi dalam plasma itu menentukan juga akan berapa banyak yang akan diberikan.

Kalau kadarnya tinggi kan tidak perlu terlalu banyak yang diberikan. Dalam satu donor bisa digunakan dua sampai tiga orang. Tapi kalau kadarnya tidak terlalu tinggi, satu orang butuh lebih banyak volumenya.

direktur lembaga biologi molekuler eijkman profesor amin soebandrio

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio (kanan) bersama Ketua Umum PMI Jusuf Kalla (kiri) ©2020 Merdeka.com/Liputan6.com/Giovani Dio Prasasti

Seperti apa indikasi pasien Covid-19 yang bisa menerima plasma darah?

Indikasinya sudah pasti dia sudah terinfeksi oleh virus corona dan dalam keadaan sakit berat. Plasma ini tidak boleh dipakai untuk pencegahan, artinya kalau orangnya tidak sakit, hanya ingin supaya tidak terinfeksi lalu minta disuntik plasma itu tidak boleh, hanya betul-betul kalau sudah terinfeksi dan kondisinya berat. Itu untuk memutuskan rantai penyakitnya

Jadi ada virus, virusnya menyebabkan kerusakan organ, kerusakan organ menyebabkan munculnya kekebalan, kekebalan menyebabkan virusnya mudah berkembang biak dengan bebas, begitu seterusnya.

Di Jepang ditemukan warga yang sembuh kemudian positif lagi. Apakah sudah ada jaminan tiap pasien positif corona yang sudah sembuh memiliki antibodi lebih baik dan menjadi kebal dan benar-benar aman?

Plasma darah yang berasal dari luar itu tidak bertahan terlalu lama, tidak seperti antibodi yang dibawa sendiri dari tubuh kita. Kalau antibodinya dibentuk sendiri akan karena itu dibentuk terus menerus maka akan bertahan lebih lama.

Ada beberapa kasus infeksi virus yang lain, bisa seumur hidup bahkan. Kalau corona virus, kalau itu diberikan dari luar itu ada umurnya. Antibodi dari luar, nah itu kan harus dibentuk terus. Makanya kalau dibentuk dengan diri sendiri bisa bertahan lama, tapi untuk membentuknya juga butuh waktu lama juga.

Bagaimana penjelasan tentang pasien sembuh corona masih bisa terinfeksi lagi?

Semua yang sembuh dari Covid-19 bisa berpotensi terkena lagi artinya bisa infeksi baru atau reaktivasi.

Lalu, transfer plasma darah dari pasien sembuh itu benar-benar bisa menyembuhkan pasien positif itu?

Iya untuk membantu mengeliminasi virusnya pasien tadi.

3 dari 3 halaman

Bisa dijelaskan bagaimana proses eliminasi virus tersebut?

Prosesnya ya. Namanya juga antibodi. Antibodi akan mengenali virus yang spesifik, nah itu nanti virusnya akan diikat oleh antibodi tersebut, kemudian akan dimusnahkan oleh sel-sel kebal yang lain. Jadi kalau sudah diikat, virusnya tidak akan bisa menyerang sel-sel yang lainnya.

Sejak kapan uji coba plasma darah sudah dilakukan di Indonesia?

Ia ada yang sudah memulai tapi kami tidak tahu seperti apa yang dikerjakan, apakah sesuai dengan protokol yang kami kembangkan artinya protokol keamanan PSBB.

Kan ada di luar dari itu, sudah ada yang memberitakan juga. Nah itu di luar grup kelompok kami. Nah yang kami bicarakan ini di RSPAD, kita sudah kerja sama dengan dengan biofarma dengan PMI, dan sebagainya

Di Indonesia sudah berapa banyak pasien yang mencoba metode ini?

Baru satu donor yang saya lihat kemarin.

Berarti rumah sakit lain atau lembaga lain yang sudah mencoba dan Anda tidak tahu protokolnya seperti apa yang mereka terapkan?

Iya mereka sudah jalan sendiri. Mungkin tidak terinformasi secara utuh apa yang mereka kerjakan.

Jadi siapa yang pertama kali mencetuskan metode pengobatan virus dengan plasma darah?

Kira-kira 100 tahun lalu, saya lupa namanya, sudah dilakukan, sudah cukup lama dan sudah dipakai untuk mengobati virus lain seperti Ebola sampai Mers.

Sejauh ini bagaimana kondisi mereka yang sudah mencoba metode plasma darah?

Kami belum tahun kalau itu. Jadi detailnya silahkan tanya ke RSPAD

Siapa saja yang dilibatkan dama metode plasma darah ini?

Semua terlibat. Mulai dari PMI, rumah sakit, kemenkes, badan pom, biofarma, itu yang akan dilibatkan

Proses pengobatan plasma darah ini untuk jeda waktu tesnya berapa lama?

Ya tidak ada jeda-jeda sih kalau tesnya, tadi saya bilang kan bisa dilakukan paralel, tapi kalau pengambilan plasmanya, antara satu pengambilan dengan pengambilan berikutnya bisa sekitar 2-3 minggu jedanya. [ang]

Baca juga:
Plasma Darah Survivor untuk Sembuhkan Pasien Covid-19
Peneliti Prancis Siap Uji Coba Teori Nikotin Bisa Bantu Tubuh Perangi Virus Corona
Menelisik Kapan Vaksin Virus Corona Akan Tersedia
DPR Minta BKPM Perkuat Investasi Kimia Dasar agar RI Tak Impor Obat
Plasma Darah Diduga Efektif Sebagai Pengobatan COVID-19, Begini Cara Kerjanya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini