Wakil Presiden Jusuf Kalla tersenyum saat bercerita tentang kehidupan masa kecilnya di Makassar, Sulawesi Selatan. Masa kecil yang tidak terlupakan. Ini cerita tentang sepak bola dan tragedi ruang bedah rumah sakit.
Di lapangan hijau, Jusuf Kalla adalah orang terakhir di belakang garis pertahanan. Dia seorang penjaga gawang. Setiap kali bermain sepak bola bersama teman sekolah, JK sapaan akrabnya, selalu diminta menjadi kiper. Bukan tanpa alasan. Dia tidak terlalu pandai bermain sepak bola.
"Biasa kalau tidak terlalu pintar taruh di kiper saja," ujar JK saat berbincang dengan pemimpin redaksi merdeka.com Wens Manggut di Kantor Wakil Presiden, Rabu (29/11).
Penggemar klub sepak bola Barcelona ini melanjutkan ceritanya. JK biasa bermain sepak bola di tanah lapang tak jauh dari rumah sakit. Lapangan itu juga tak jauh dari sekolahnya. Sebagai kiper, dia bertugas menghalau bola yang mengarah ke gawang. Apapun risikonya.
Si kulit bundar ditendang ke arah gawang. JK menghalaunya. Bola liar mengarah ke rumah sakit. Menimbulkan kegaduhan. Memunculkan kemarahan.
"Bola masuk ke ruang operasi rumah sakit. Jadi bola kena kaki saya, masuk ke rumah sakit, hahaha. Jadi saya yang salah. Kita dikejar sama suster-suter. Susternya masih orang Belanda. Wah dimarahi, disuruh berhenti," kenangnya sambil tertawa.
Suster Belanda melarang mereka bermain sepak bola. Tapi itu tak membuat Jusuf Kalla kapok. "Dipagari tempat masuk kita. Tidak bisa main, kita pindah lagi. Pindah ke lapangan bola yang lain," imbuhnya.
Bicara soal sepak bola, Jusuf Kalla punya riwayat panjang. Dari mulai kecintaannya terhadap klub sepak bola asal daerahnya yakni Makassar Utama, hingga soal iklim kompetisi di liga Indonesia. Simak selengkapnya dalam wawancara khusus dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama merdeka.com yang akan tayang pada Senin (4/12).