Islam pernah jaya di Myanmar

Senin, 8 Januari 2018 06:15 Reporter : Ramadhian Fadillah
Islam di Myanmar. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Azan Ashar dari Masjid Jami Bengali berkumandang merdu di tengah Kota Yangon, Myanmar. Letaknya tepat di depan Sule Pagoda. Tempat ibadah penting dan bersejarah bagi umat Budha Myanmar.

Masjid Jami Bengali megah dengan menara tinggi yang dilapisi keramik putih. Puluhan jamaah mengambil air wudhu dan duduk menanti iqamat. Wajah-wajah yang hadir tak cuma warga Bengali, salah satu etnis Indo-Aria. Tapi juga etnis China, Burma dan Melayu.

"Ini masjid untuk semua, tak cuma orang Bengali," kata Muhammad Ibrahim, muazin masjid tersebut pada merdeka.com bulan lalu.

Selepas salat Ashar, Ibrahim menemani merdeka.com berbincang. Pria ini berusia 70 tahun dan sudah menjadi muazin selama 25 tahun di sana. Bahasa Inggrisnya fasih.

"Masjid ini tua, sudah berusia lebih dari 100 tahun. Memang didirikan dulu oleh keturunan Bengali," kata Ibrahim.


Islam di Myanmar punya sejarah panjang. Para pedagang dari Arab dan Persia mengenalkan Islam sejak tahun 652M di delta sungai Irawady. Sejak saat itu Islam tumbuh dan berkembang di negara yang dulu bernama Burma ini.

Dulu tak pernah ada masalah. Islam diterima dengan baik di sana selama beratus-ratus tahun. Raja-raja Myanmar mengizinkan orang Islam mendirikan masjid dan menjalankan ajaran agama mereka. Orang-orang Muslim kebanyakan menjadi pedagang, nelayan, dan tentara.

Jumlah orang Islam di Myanmar bertambah pesat saat pendudukan Inggris tahun 1824-1984. Banyak orang dari India dan Bengali yang sekarang menjadi Bangladesh, pindah ke Myanmar.

Dibanding warga lokal Budha, warga keturunan Bengali ini lebih disukai Inggris untuk menjadi pegawai kolonial. Banyak di antara mereka juga menduduki posisi penting sebagai administrator di pelabuhan, tabib dan saudagar. Secara ekonomi, komunitas Muslim memiliki ekonomi yang mapan.

Kawasan pusat kota lama Yangon berada di sekitar Jalan Sule Pagoda. Sangat strategis karena merupakan pusat kota dan pelabuhan. Di sana komunitas Muslim tumbuh dan berkembang ratusan tahun. Mereka pernah jadi mayoritas di kawasan elite ini.

Hampir di setiap blok berdiri sebuah masjid yang cukup megah. Kawasan ini jadi pusat kota dan ekonomi sampai sekarang. Namun kini pemerintah Myanmar membangun kawasan elite baru di sekitar Danau Inya menggandeng investor dari China dan Korea Selatan.

Kehidupan beragama di Myanmar sebenarnya tampak harmonis. Tak cuma Budha dan Islam. Di sebelah masjid, tepat di depan balaikota Yangon berdiri sebuah Katedral. Bahkan ada pula Sinagog, tempat ibadah kaum Yahudi.

Di Kota Yangon kehidupan beragama berjalan beriringan. Biksu Budha, wanita Muslim dengan cadarnya lalu lalang di trotoar kawasan Sule Pagoda yang ramai. Azan pun dikumandangkan dengan pengeras suara sehingga terdengar jelas.

Tak sulit menemukan penjual makanan halal. Bahkan sebuah kafe yang kelihatan paling mentereng di sini ternyata menyajikan makanan halal di seluruh menunya.

"Islam hidup damai di Yangon sini. Bersama Umat Budha dan yang lainnya," kata Ibrahim.

Tapi saat disinggung soal Rakhine, wajah Ibrahim berubah serius. Dia menggelengkan kepalanya.

"Sudah aman, tak ada konflik di sana," elaknya.

Senada dengan Ibrahim, Yunus, seorang penganut Muslim di Yangon juga tak mau mengomentari konflik di Rakhine.

"Tidak seperti itu (berita di media massa)," singkatnya.

Hidup berpuluh tahun dalam cengkeraman junta militer membuat mereka hati-hati berbicara soal isu sensitif Rohingya.

Walaupun sekarang secara de facto Partai Aung San Suu Kyi Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memenangkan Pemilu, namun Junta Militer masih sangat berkuasa. Masyarakat Muslim di Yangon secara umum tak mau terlibat dengan apa yang terjadi di Rakhine.

Sementara masyarakat Myanmar yang beragama Budha umumnya mendukung sikap pemerintah soal Rohingya. Mereka meyakini operasi militer di Rakhine State bertujuan untuk memerangi para teroris. Seperti apa yang ditulis media lokal di sana.

Pantauan merdeka.com. poster Biksu Wirathu, pemimpin kelompok garis keras 969 yang anti-Islam juga terlihat terpampang di beberapa sudut kota Myanmar.

Mereka juga meyakini warga keturunan Bengali yang tinggal di Rakhine adalah pendatang ilegal yang tiba saat masa kolonial Inggris. Karena itu istilah Rohingya tak digunakan di Myanmar. Yang dipakai adalah 'Orang Bengali', atau 'Orang Muslim'.

Etnis yang sebenarnya sama dengan para saudagar yang dulu membangun masjid dan komunitas Muslim di Yangon ratusan tahun lalu.

Tak cuma di Yangon yang pernah jadi ibu kota Myanmar, Islam pun punya sejarah panjang di Rakhine yang dulu dikenal sebagai Arakan.

Saat itu penguasa Arakan diserang kerajaan Ava. Raja Narameikhla lari ke Kesultanan Bengal untuk mencari suaka tahun 1404. Dia hidup dalam perlindungan Sultan Bengal selama 24 tahun.

Tahun 1430, Raja Narameikhla yang didukung tentara Kesultanan Bengal berhasil merebut kembali negaranya. Dia kembali bertahta di sana. Raja juga mengizinkan tentara Islam itu menetap di Arakan. Mereka kemudian membangun pemukiman dan masjid di sana.

Kerajaan Arakan pun menjadi bagian dari Kesultanan Bengal. Mereka menggunakan mata uang Dirham milik kesultanan. Bahkan raja-rajanya pun mendapat gelar Sultan, meskipun mereka beragama Budha. Gaya pakaian mereka pun mengikuti dinasti Mughal, seperti yang dipakai orang Bengali.

Kerajaan Arakan bertahan 300 tahun lebih sebelum ditaklukkan Dinasti Konbaung dari Burma tahun 1784.

Raja-raja dinasti ini terkesan dengan keberanian dan kemampuan pasukan Islam. Mereka merekrut kembali pasukan kerajaan Arakan yang mereka taklukkan. Sampai kebanyakan pengawal pribadi raja adalah orang-orang yang beragama Islam.

Ada juga pengadilan dan hukum negara yang memutuskan bagaimana jika orang Islam dan orang Budha bersengketa.

Semasa Inggris menjajah Myanmar, mereka mendorong migrasi besar-besaran warga Bengali ke Rakhine untuk bekerja sebagai buruh tani. Jumlahnya populasi Muslim meningkat dari 58.000 orang tahun 1872 menjadi 176.000 pada tahun 1942.

Pada masa ini mulai muncul bibit-bibit ketegangan antara kaum Rohingya dengan mayoritas warga Burma asli yang dengan ras Sino-Tibet.

Nasib orang Bengali Muslim di Myanmar makin memburuk sejak Burma merdeka dari Inggris tahun 1948. Sebagi kaum minoritas kekerasan sering menimpa kaum Rohingya. Mereka dituduh dekat dengan Inggris yang dulu menjajah mereka. Permasalahannya tak cuma agama, tetapi ekonomi, sosial dan kebencian akan etnis Rohingya yang Indo-Aryan.

Mimpi buruk itu makin mencekam saat militer merebut kekuasaan tahun 1962. Diskriminasi pada kaum minoritas makin kencang. tahun 1982 Junta Militer menerbitkan Undang-undang kewarganegaraan baru, Rohingya tak diakui sebagai satu dari 135 kelompok etnis di Myanmar. Sebagian besar orang-orang Rohingya pun kehilangan kewarganegaraan.

Junta militer menuding warga Rohingya bukanlah penduduk asli Myanmar. Mereka baru datang setelah penjajahan Inggris atau kemerdekaan Myanmar.


Hak-hak mereka untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang layak dibatasi. Sementara ketidakadilan di bidang hukum, politik dan ekonomi terus terjadi.

Tahun 2012 lalu kerusuhan pecah di Rakhine. Ratusan orang tewas sementara ribuan rumah warga Rohingya dibakar. Mereka terpaksa tinggal di pengungsian kumuh sementara ribuan lain melarikan diri ke luar negeri, termasuk Indonesia. Situasi yang buruk ini dimanfaatkan Jenderal Min Aung Hlaing untuk memberlakukan darurat militer.

Puncak teror militer Myanmar terjadi bulan Agustus 2016. Mereka melancarkan operasi tempur di Rakhine dengan dalih memburu gerilyawan Arakan Salvation Army atau Arsa yang menewaskan penjaga perbatasan. Namun operasi itu berubah menjadi genosida untuk warga etnis Rohingya.

Organisasi Dokter Lintas Batas atau Mdecins Sans Frontires (MSF) mengungkapkan sedikitnya 9.000 warga Muslim Rohingya telah tewas dalam periode antara 25 Agustus sampai 24 September.

Dalam laporan sama juga terungkap bahwa 71 persen atau 6.700 orang di antaranya kehilangan nyawa akibat mengalami kekerasan di Negara Bagian Rakhine. Data tersebut didapat berdasarkan wawancara dengan pengungsi yang terdampar di Bangladesh.

Arus pengungsi mengalir deras ke Bangladesh. Jumlahnya sudah mendekati satu juta orang. Terpaksa hidup dalam kamp-kamp kumuh di pesisir Cox's Bazar.

Tentara memasang ranjau darat untuk mencegah mereka kembali ke kampung halaman mereka. Seorang pengungsi mengaku dipaksa melepas kewarganegaraan mereka dan lari ke Bangladesh atau dibunuh.

Desakkan dunia internasional gagal membuat militer Myanmar menghentikan genosida di Rakhine. Bumi Arakan pun semerah darah. [ian]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini